Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Aliansi AS-NATO di Asia TenggaraAsia Tenggara (ASEAN) Membahayakan Spirit ZOPFAN 1971 dan TAC 1976

Hendrajit

Hendrajit·5 Desember 2024·3 menit baca

Bagikan
Aliansi AS-NATO di Asia Tenggara (ASEAN) Membahayakan Spirit ZOPFAN 1971 dan TAC 1976

Amerika Serikat (AS) bersama Inggris dan sekutu andalannya di Pasifik, Australia, nampaknya semakin agresif menggalang kekuatan membendung Cina. Apalagi ketika Cina melakukan manuver militer mengepung Taiwan pada Oktober 2024 lalu. Sehingga dengan tak ayal angkatan laut AS menggelar latihan militer gabungan AS-Filipina selama 10 hari, di sebelah utara dan barat Filipina.

Latihan Militer bersama AS-Filipina yang diberi nama Operasi Kamandag. Atau dengan istilah lain, Operasi Venom. Sasaran utama latihan gabungan AS dengan sekutu andalannya di Asia Tenggara tersebut, nampak jelas memang ditujukan untuk menghadapi Cina. Lokasi geografis Filipina Barat  dan Utara yang secara langsung menghadap ke Laut Cina Selatan dan Taiwan, merupakan wilayah di perairan Laut Cina Selatan yang masih menjadi wilayah sengketa Filipina dan Cina. Terutama terkait klaim wilayah terumbu karang dan perairan di Laut Cina Selatan yang dipandang Cina berada dalam  wilayah kedaulatan Cina.

Baca:

Gandeng Amerika Serikat (AS) dan Sekutunya, Filipina Luncurkan Latihan Gabungan

Gandeng Amerika Serikat (AS) dan Sekutunya, Filipina Luncurkan Latihan Gabungan

Dengan begitu, AS punya dalih pembenaran untuk mengerahkan angkatan bersenjatanya di kawasan Asia Tenggara. Sehingga sulit dibantah bahwa AS menggelar latihan militer bersama dengan Filipina, sejatinya merupakan aksi balasan terhadap manuver militer Cina ketika mengepung Taiwan.

Meski Direktur Pelatihan, Brigadir Jenderal Vicente Blanco, maupun  Komandan Korps Marinir Filipina Mayor Jenderal Arturo Rojas , sama-sama membantah bahwa latihan militer gabungan tersebut bertujuan sebagai aksi balasan terhadap Cina, namun lokasi geografis digelarnya latihan militer bersama itu, membuktikan bahwa AS bersama dua negara sekutu yang tergabung dalam NATO, Inggris dan Australia, sedang menggalang kekuatan negara-negara Asia Tenggara, ke dalam persekutuan militer seperti South East Asia Treaty Organization (SEATO) pada era Perang Dingin.

Terbukti ketika Strategi Indo-Pasifik AS (US Indo-Pacific Strategy) diluncurkan oleh Presiden Donald Trump pada 2017, Strategi Indo-Pasifik AS tidak hanya dirancang sebagai aliansi ekonomi-perdagangan untuk menggantikan Kemitraan Lintas Pasifik atau Trans-Pacific Pertnership (TPP) semasa pemerintahan Presiden Barrack Obama, namun sekaligus juga didesain untuk membentuk persekutuan militer empat negara (QUAD) yang terdiri dari AS, Australia, Jepang dan India.

Image of Tempo

Dengan begitu, Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya, sudah saatnya mewaspadai bergabungnya Inggris, Kanada, dan Prancis, ke dalam ASEAN Ministerial Meeting (ADMM)-Plus. Sebab pada perkembangannya nanti akan diikuti dengan perubahan keseimbangan kekuatan di Asia Tenggara, yang akan lebih menguntungkan aliansi militer AS dan NATO di Asia Tenggara.

Jika hal itu sampai terjadi, bisa membahayakan netralitas ASEAN yang dijiwai oleh  Deklarasi Kawasan Damai, Bebas dan Netral (Zone Peace, Freedom, and Neutrality, ZOPFAN) pada 1971. Pada 8 Agustusu 1967 lima menteri luar negeri yaitu Adam Malik (Indonesia), Tun Razak(Malaysia), Thanat Koman (Thailand), Narcisco Ramos (Filipina) dan Rajaratnam (Singapura), mereka berlima menandantangani Deklarasi Bangkok mendirikan ASEAN. Adapun tujuannya adalah; memperkuat pertumbuhan ekonomi, mendorong perdamaian dan stabilitas wilayah, serta membangun kerjasama untuk berbagai bidang kepentingan bersama.

Pada 1976 kelima negara tersebut berhasil menyepakati Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (Treaty of Amity and Cooperation, TAC), sebagai panduan bagi negara-negara ASEAN untuk hidup berdampingan secara damai. Melalui kedua  piagam tersebut, ASEAN mencapai keberhasilan di bidang kerjasama politik. Apalagi kemudian disusul keberhasilan dalam kerjasama regional bidang ekonomi melalui ASEAN Preferential Trading Area pada 1977.

Bukan itu saja. Keanggotaan ASEAN pun semakin meluas dengan bergabungnya Brunei (1984), Vietnam (1985), Myanmar dan Laos (1997) serta Kamboja (1999).

Meskipun ASEAN seringkali hanya dipandang sebagai forum pertemuan informal-basa basi dan tidak ada keputusan yang mengikat secara kolektif, namun belakangan mulai disadari bahwa pada kenyataannya ASEAN merupakan kekuatan penyeimbang di dalam tarik-menarik pengaruh berbagai negara adikuasa, utamanya antara AS versus Cina.

Maka itu, ketika sejak terbentuknya Strategi Indo-Pasifik  AS ASEAN semakin digiring ke dalam persekutuan militer blok AS-NATO di Asia Tenggara, akan membahayakan Spirit Deklarasi ZOPFAN dan TAC.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMembaca Varian Konflik Dari Perspektif GeopolitikSelanjutnyaSaatnya ASEAN Meninjau Kembali Perspektifnya Tentang Persekutuan Militer AUKUS

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents