Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Antara BRICSBRICS, Executive Order, Dan Antisipasi Indonesia

Rusman

Rusman·28 Januari 2025·3 menit baca

Bagikan
Antara BRICS, Executive Order, Dan Antisipasi Indonesia
Catatan Kecil Geopolitik
Di abad 21 ini, selain terjadi pergeseran geopolitik (geopolitical shift) dari Atlantik ke Asia Pasifik, tampaknya juga berlangsung pergeseran konsep dan paradigma politik global, khususnya diksi “kiri” dan/atau “kanan”. Kalau dulu, (ekstrim) kiri itu identik dengan sosialis, komunisme dan seterusnya, dan (ekstrim) kanan ialah golongan kanan alias kelompok radikalis berbasis agama, sekte, dan lain-lain.
Namun, pada perempat abad 21 ini, terutama di level (geo) politik global, pemaknaan diksi “kiri dan kanan” tadi berubah signifikan. Artinya, kalau faham kiri tidak lagi menyoal tentang komunis, sosialis dan seterusnya; atau, kanan bukan lagi bermakna (radikalis) agama serta ideologi semata, tetapi lebih mengarah kepada konsep dan paradigma dalam peradaban, misalnya, diksi kiri sekarang identik dengan ultra liberalis atau kerap disebut dengan istilah globalis cabal, sementara diksi kanan tidak lagi menyoal agama, namun lebih condong ke nasionalis atau konsevatif tradisional, bahkan ultra nasionalis.
Make America Great Again (MAGA) ala Donald Trump contohnya, ia terbidani oleh konsep kanan versi baru. “Nasionalisme Amerika”. America First!
Maka dalam beberapa momen, justru antara Putin dan Trump terlihat seia-sekata, kendati di lapangan (Perang Ukraina) misalnya, kedua adidaya (Rusia dan Amerika) saling bertempur, kenapa? Bahwa Putin dan Trump terindikasi beraliran “kanan baru” yakni (ultra) nasionalisme. Mereka berdua memiliki kesamaan pandangan dalam menyikapi realitas geopolitik.
Pada gilirannya, warna “kanan” ala Trump mendominasi Executive Orders yang ditekennya pasca pelantikan sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-47. “Dunia heboh”. Terutama kelompok negara yang selama ini berseberangan dengan AS (seperti BRICS, CSO dan lain-lain). Siap-siap dikenakan kenaikan tarif 100%. Perang dagang jilid II akan dimulai dalam skala lebih luas. Ya. Kalau dulu, perang dagang hanya antara AS versus Cina saja, sekarang AS melawan anggota BRICS termasuk Indonesia di dalamnya, dimana salah satu program BRICS yang membuat Paman Sam “marah” ialah dedolarisasi. Tinggalkan mata uang US$ di setiap transaksi apapun di internal anggota BRICS.
Pertanyaan menarik muncul, “Bagaimana antisipasi Indonesia menghadapi Executive Order ala Trump khususnya poin kenaikan tarif 100% bagi anggota BRICS?”
Beberapa langkah sebagai opsi contohnya:
1. Secepatnya (sebelum 120 hari setelah Executive Orders diteken), Indonesia harus mengirim delegasi/tim (minimal) ke lima negara —semacam studi banding— yang sedang dan pernah disanksi oleh AS seperti Rusia, Cina, Iran, Korea Utara, Venezuela dan lainnya;
2. Pada lima negara di atas, diajukan tiga pertanyaan saja: 1) jenis sanksi apa yang dikenakan; 2) bagaimana cara mengatasi; 3) dalam menyiasati sanksi dimaksud, siapa saja kawan yang bisa membantu?
Nah, dari hasil “studi banding” di atas, perlu dirumuskan cara bertindak yang jitu dan bagaimana seharusnya politik luar negeri kita dijalankan guna menghadapi perang tarif dan dagang yang sudah dideklarasikan oleh AS melalui Executive Orders. Salah satu contoh misalnya, kembangkan diversifikasi target (pasar) kawasan di dalam keanggotaan BRICS itu sendiri, mengapa? Sebab, pasar ekspor selama ini belum merambah ke Timur Tengah, ke Afrika, ke Amerika Latin, ke Eropa Timur, dan lainnya. Ya, selama ini — 80-an persen ekspor Indonesia baru merambah ke Cina, ASEAN, Eropa, AS, Jepang, dan lain-lain. Dunia terlihat terlalu sempit untuk Indonesia yang berlimpah sumber daya. Perlu pemberdayaan kawan dagang di segala sektor.
Tanpa persiapan yang konseptual, kita bakal tergilas oleh imperialis gaya baru (modern) yang definisinya kini berkembang, yaitu:
“The best way to keep a prisoner from escaping is to make sure he never knows he’s in prison“.
Terjemahan bebasnya ialah, “Cara terbaik untuk mencegah seorang tahanan melarikan diri adalah dengan memastikan dia tak pernah tahu bahwa dia berada dalam penjara“.
Di Bumi Petiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMencari Pemimpin Di Era Babat AlasSelanjutnyaMembaca Pagar Laut Dari Perspektif Babat Alas

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents