Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Arab Saudi dan Timur-Tengah Dalam Perspektif GeopolitikPerspektif Geopolitik Cina

Hendrajit

Hendrajit·4 November 2024·5 menit baca

Bagikan
Arab Saudi dan Timur-Tengah Dalam Perspektif Geopolitik Cina

Dari tumpukan berita lama terbitan tahun 2021, terungkap bahwa kerja sama erat Arab Saudi dan Cina sudah dirintis beberapa tahun lalu. Pada Desember 2021 lalu, badan intelijen AS mengungkapkan bahwa Arab Saudi mengembangkan rudal balistik dengan bantuan dari Cina. Fakta paralel lainnya juga menginformasikan bahwa Tak lama setelah itu, fakta bahwa Iran menggelar latihan militer yang disebut Nabi Besar 17 (Great Prophet 17), di mana Iran juga menggunakan rudal balistik, sehingga meningkatkan eskalasi konflik internasional di Teluk Persia.

Dengan begitu, perkembangan internasional terkini yang mana Cina berhasil memediasi Arab Saudi dan Iran, maupun belakangan antara kelompok Fatah dan kelompok Hamas Palestina, ternyata berkat rintisan kerjasama erat antara Arab Saudi dan Cina sejak beberapa tahun lalu.

Pihak AS sendiri memang sudah mencium gelagat semakin eratnya hubungan Arab Saudi-Cina ketika memperoleh informasi bahwa Arab Saudi dan Iran sudah mendapat bantuan dari Cina dalam mengembangkan program persenjataan strategis. Salah satunya, adalah pengembangan rudal balistik.

Baca: Analysis-Saudi ballistic missile program: US-China Rivalry in Gulf

Perkembangan yang terungkap sejak 2021 tersebut menunjukkan bahwa Arab Saudi, seperti halnya beberapa negara sekutu AS lainnya, merasa tidak tenang dan khawatir ketika terlalu bergantung pada AS. Apalagi AS sempat menarik Sistem Pertahanan Udaranya dari sebelah Selatan Arab Saudi pada September 2021. Alhasil, Arab Saudi merasa perlu menjalin kerja sama pertahanan alternatif dengan negara adikuasa yang setara dengan AS. Maka Cina menjadi tumpuan baru untuk melindungi pertahanan nasional Arab Saudi. Adapun Iran, dengan bergabung sebagai  anggota penuh Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang dimotori Cina dan Rusia, Cina dipandang sebagai pelindung Iran yang cukup handal.

Fakta memang menunjukkan Arab Saudi membeli peralatan militernya dari AS sejak negara itu didirikan pada 1932. Namun Saudi saat ini mulai mempertanyakan komitmen AS maupun sekutu-sekutunya yang tergabung dalam pakta pertahanan atlantik Utara (NATO).

Meski hingga 2010 AS merupakan negara adikuasa yang mempertaruhkan kepentingan strategisnya dalam keammanan energi, terutama minyak, di Timur-Tengah, sehingga perskutuan militer dengan negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council) menjadi prioritas utama.

Menurut Merve Berker, AS nampaknya tidak lagi bergantung pada sumber energi di kawasan Timur Tengah, ketika berhasil ditemukannya teknologi baru yang dikenal dengan sebutan revolusi fracking (semacam teknik stimulasi sumur yang mana lapisan batuan dibawah diretakkan dengan fluida cair bertekanan tinggi). Dengan demikian, hal ini menggambarkan betapa seringkali perubahan konstelasi internasional terjadi lantaran terjadinya Dispruption alih-alih revolusi yang bersifat politis dan militeristik.

Temuan baru di bidang teknologi bisa berakibat terjadinya pergeseran orientasi dan prioritas kebijakan luar negeri satu negara. Apalagi ketika pergeseran orientasi dan prioritas kebijakan luar negeri tersebut dilakukan oleh satu negara adikuasa seperti AS, bisa membawa dampak perubahan yang bersifat mendasar.

 

Selain timbulnya Dispruption seturut temuan teknologi baru di bidang perminyakan dan sumber-sumber energi lainnya, timbulnya perubahan orientasi dan prioritas kebijakan luar negeri AS ketika Asia menjadi prioritas baru Presiden Barrack Obama pada 2010, yang kemudian kita kenal dengan  strategi “Pivot Asia”, dengan dalih untuk membendung pengaruh Cina di kawasan Asia Pasifik.

Dalam konstelasi seperti itu, Arab Saudi nampaknya cukup jeli untuk membaca adanya pergeseran prioritas dan orientasi kebijakan luar negeri AS. Sehingga memutuskan untuk membuat strategi perimbangan kekuatan atau balancing strategy , menjalin kerja sama pertahanan dengan Cina.

Arab Saudi sepertinya merasa tidak aman meskipun doktrin Eisenhower (1957) maupun Nixon (1969), dan Carter (1980), menegaskan bahwa kawasan Teluk sebagai wilayah vital kepentingan AS dan menyatakan bahwa setiap ancaman terhadap kepentingan AS di kawasan ini akan ditanggapi dengan segala cara. Termasuk dengan menggunakan kekuatan militernya. Namun, Arab Saudi sepertinya paham betul bahwa doktrin bisa saja berubah seiring perubahan konstelasi politik internasional.

Cina juga tak kalah jeli membaca pergeseran orientasi dan prioritas kebijakan luar negeri AS itu sebagai sebuah momentum atau peluang, saat Cina memang sedang berupaya mencari celah untuk perluasan pengaruhnya di bidang ekonomi-perdagangan, investasi, dan keamanan energi, di pelbagai kawasan. Mulai rentannya kerja sama AS-Saudi, dipandang Beijing sebagai peluang untuk menjalin kerja sama strategis dengan Arab Saudi.

Bagi kepentingan nasional Cina, keamanan energi juga sangat vital seturut pesatnya perkembangan ekonominya. Dalam perspektif geopolitik Cina, kawasan Timur-Tengah utamanya Teluk, memegang dua pertiga dari cadangan minyak dan gas alam global. Adapun dari segi lokasi geografis, kawasan Timur Tengah berdekatan dengan Cina. Kawasan ini saat ini menyumbang 55% impor minyak Cina.

Permintaan gas alam dari Cina juga kian meningkat. Menurut catatan pada 2021 saja misalnya, konsumsi minyak 15 juta barel per hari. Saat ini mungkin sudah meningkat menjadi 20 juta barel per hari. Alhasil, tak mungkin minyak sebesar itu diperoleh dari kawasan di luar Timur Tengah/teluk.

Dengan begitu, kawasan Timur Tengah, terutama negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Yordania), menjadi sangat penting dalam perspektif kebijakan luar negeri Cina.

Maka sebagai kompensasinya,Cina yang kebijakan luar negerinya bertumpu pada skema Belt and Road Initiative (BRI), yang dicanangkan Cina sejak 2013 lalu, kawasan Teluk menjadi sangat penting dan vital. Di sinilah BRI menawarkan kerja sama yang mengaitkan ekonomi-perdagangan dengan konektivitas geografis Jalur Sutra.

Dengan demikian, Strategi Nasional Cina yang dikenal dengan Silk Road Maritime Initiative, kemudian dijabarkan dalam kebijakan luar negeri Cina yang menjadikan investasi dan perdagangan menjadi dua komponen yang paling penting.

Menariknya, ketika AS dan dua sekutu strategisnya, Inggris dan Australia, mengembangkan pakta pertahanan bersama (AUKUS) untuk mengepung Cina di Asia, utamanya di wilayah Laut Cina Selatan,  justru Cina malah menggunakan momentum tersebut untuk memperluas lingkup pengaruhnya di luar kawasan Asia, yaitu Timur Tengah.   

Kawasan Timur Tengah, dalam pandangan geopolitik Cina, selain memiliki sumberdaya alam yang melimpah ruah terutama minyak dan gas bumi, lokasi geografis Timur Tengah pun cukup berdekatan dengan Cina.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

 

 

 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMenyingkap Tabir “Proyek Israel Raya”SelanjutnyaWacana Jepang Tentang Persekutuan Militer ala NATO di Asia Pasifik Berbahaya

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents