Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

AS dan Ukraina Sedang Berupaya Memindahkan Fron Pertempuran Menghadapi Rusia dari Eropa Timur ke Timur TengahTimur Tengah

Hendrajit

Hendrajit·18 Oktober 2024·4 menit baca

Bagikan
AS dan Ukraina Sedang Berupaya Memindahkan Fron Pertempuran Menghadapi Rusia dari Eropa Timur ke Timur Tengah

Di kawasan Timur Tengah konflik AS dan Rusia semakin berkobar, dengan mendorong Ukraina sebagai agen proxy-nya di Eropa Timur, untuk membantu kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang berada di Idlib, Suriah, melancarkan perang paramiliter terhadap Suriah dan Rusia.

Dilaporkan bahwa HTS ditawari 75 kendaraan udara tak berawak (UAV). Sebagai imbalannya, HTS bersedia ikut serta bersama AS dan Ukraina untuk melancarkan aksi militer terhadap Suriah dan Rusia.

Baca: Presiden Ukraina Minta Bantuan Pejuang Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah

Masalah jadi semakin krusial ketika 250 personil militer yang sebagian besar merupakan instruktur pelatihan militer itu, sebagian dikerahkan ke beberapa fasilitas produksi di kota Idlib, dan sebagian lagi ke daerah Jisir al-Shughur. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, para milisi yang tergabung dalaitu, sedang dilatih untuk membuat drone. Beberapa sumber mengatakan bahwa ada 75 pesawat nir-awak atau unmanned aerial vehincle  (UAV) telah diberikan kepada kelompok HTS di Idlib dalam bentuk komponen-komponen yang dibawa bersama-sama dengan barang-barang lainnya untuk konsumsi warga sipil.

Fighters loading rockets

Hayat Tahrir al-Sham was formerly affiliated with al-Qaeda, but has since severed ties (Al Jazeera)

Pertemuan antara para agen-agen militer dan intelijen Ukraina dengan beberapa pimpinan HTS seperti Heysem Ömeri, salah satu pemimpin HTS berlangsung pada 18 Juni 2024. Melansir aydinlik, Omar al-Shishani, yang terakhir kali ingin ditinggalkan oleh pemerintahan Kiev, pernah disebut sebagai “Menteri Perang” DAESH. II. Shishani, yang berperang melawan Rusia di Ossetia selama Perang Chechnya, pergi ke Suriah pada tahun 2012 dan bersumpah setia kepada Pemimpin ISIS Baghdadi. Melalui pemetaan ini, tampak jelas bahwa ada semacam konfigurasi yang terbangun di kelompok-kelompok Islam radikal, yang bertemu dengan kepentingan strategis AS, untuk menghadapi fron pertempuran baru menghadapi Suriah dan Rusia.

Jika informasi tersebut dapat dipercaya, AS dan Ukraina sedang memindahkan fron pertempuran dari Ukaraina ke Suriah untuk menciptakan fron pertempuran baru dengan angkatan bersenjata Rusia di Suriah.

Apalagi sempat juga terbetik kabar bahwa beberapa agen intelijen Ukraina telah berkunjung ke Idlib beberapa kali untuk berkoordinasi dengan kelompok pemberontakan bersenjata Suriah, yang pada perkembangannya nanti, berencana untuk melancarkan serangan militer terhadap Rusia.

Presiden Ukraina Minta...

Foto/AP.

Besar kemungkinan para agen-agen intelijen militer AS dan Ukraina tahu persis bahwa beberapa pentolan HTS pernah bergabung dengan kelompok separatis Chechnya dan negara pecahan Uni Soviet, Georgia, untuk menghadapi Rusia pada 2000-an. Namun setelah Rusia berhasil menetralisir Chechnya dan Georgia, para milisi HTS tersebut pindah ke Suriah. Dan dari sinilah, kepentingan AS, Ukraina dan HTS, dapat disatukan di lapangan.

Maka ketika terbetik kabar bahwa sekitar 250 prajurit militer Ukraina tiba di propinsi Idlib, Suriah, untuk melatih milisi jihad Hay’at Tahrir al-Sham, dan mengajarkan bagaimana membuat pesawat tanpa awak drone, Situasi semakin krusial ketika para prajurit militer Ukraina tersebut sudah dikirim ke fasilitas produksi pesawat tanpa awak milisi pimpinan Abu Mohammad al-Julani, di wilayah Idlib dan Jisir al-Shugur.

Ada data terkonfirmasi bahwa jumlah instruktur Ukraina yang sudah tiba di Idlib mencapai 250 orang, demikian menurut seorang sumber rahasia yang dilansir oleh situas berita viva.

Baca:  Lawan Pengaruh Rusia, Ratusan Tentara Ukraina Latih Milisi Jihad Suriah Bikin Drone

Perkembangan tersebut bisa dipastikan akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Rusia saat ini merupakan sekutu utama Presidn Bashar al Assad dan telah mengerahkan pasukan militernya di wilayah kedaulatan Suriah atas permintaan Presiden Assad.

Terkait dengan adanya indikasi bantuan Ukraina kepada pasukan milisi pemberontak HTS, harian Suriah Al Watan melaporkan bahwa kepala intelijen militer Ukraina, Kyrylo Budanov, telah menjalin kontak yang cukup intensif dengan pemimpin HTS dalam rangka perekrutan anggota-anggota milisi untuk bergabung dalam komando pasukan militer Ukraina.

Indikasi perpindahan fron pertempuran yang semula antara Ukraina-Rusia ke Suriah-Rusia versus AS dan NATO, sebenarnya cukup aneh mengingat eskalasi konflik bersenjata antara Ukraina versus Rusia sejak Februari 2022 hingga kini, masih tetap berlangsung. Konflik bersenjata Ukraina-Rusia meletus bermula ketika Rusia ada indikasi kuat bahwa NATO sebagai persekutuan militer AS dan Eropa Barat, bermaksud meluaskan lingkup pengaruhnya ke wilayah perbatasan dengan Rusia, dengan mengajak Ukraina bergabung ke dalam persekutuan NATO.

Maka dengan tak ayal, ketika Rusia memutuskan melancarkan “operasi militer terbatas” mencegah kemungkinan persekutuan AS-NATO-Ukraina, negara-negara blok Barat yang sejatinya sebagai pemicu operasi militer Rusia ke Ukraina, segera memberikan bantuan militer, terutama persenjataan militer, kepada Ukraina.

Namun meskipun konflik bersenjata Rusia-Ukraina sudah berlangsung dua tahun dan tetap tidak ada penyelesaiannnya, Ukraina yang sejak 2014 merupakan perpanjangan tangan kebijakan luar negeri AS dan blok Barat, nampaknya mulai ragu dengan prospek peperangan yang sepertinya semakin tidak jelas arah dan tujuannya itu.

Maka indikasi adanya keterlibatan Ukraina ke Suriah, membantu kelompok-kelompok muslim radikal yang berada dalam payung HTS, sepertinya AS dan Ukraina sedang berupaya memindahkan fron pertempurannya yang sepertinya menemui jalan buntu di Ukraina, ke kawasan Timur Tengah. Namun menghadapi musuh yang sama, yaitu Rusia yang bersekutu dengan pemerintahan Suriah yang sah di bawah kepemimpinan Presiden Bashar al Assad.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaPropaganda Demokrasi Ala Barat Versus Isyarat Presiden PrabowoSelanjutnyaAntara Tesis Lord Acton, Pasal 6A Ayat (2) UUD NRI 1945, dan Teori Darwin

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents