Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Timur Tengah

AS-Inggris-Perancis Tetap Mendukung Israel dan Menolak Kedaulatan Negara PalestinaNegara Palestina

Rusman

Rusman·28 Desember 2023·4 menit baca

Bagikan
AS-Inggris-Perancis Tetap Mendukung Israel dan Menolak Kedaulatan Negara Palestina

Pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Presiden Otoritas Negara Palestina Mahmoud Abbas pada 9 November 2023 lalu secara jelas menunjukkan bahwa negara-negara Muslim di kawasan Timur-Tengah maupun kawasan-kawasan lainnya tidak bisa menaruh kepercayaan kepada AS maupun negara-negara blok Barat sebagai mediator konflik antara Arab Palestina versus Israel.

Mengingat kesejarahannya sejak berdirinya Israel pada 1948 sebagai negara bangsa menyusul pembagian tidak adil wilayah Palestina oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1947, Inggris dan AS praktis selalu mendukung secara total Israel dalam setiap konflik dengan Arab Palestina maupun negara-negara Arab lainnya di kawasan Timur Tengah seperti dengan Irak, Suriah, dan belakangan dengan Iran sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.

Maka itu sama sekali tidak mengejutkan ketika Di Tel Aviv Blinken secara terang-terangan mendukung secara total agresi militer Israel terhadap Palestina. Bahkan bukan sekadar dukungan moral dan politik, bahkan memastikan akan memberikan bantuan militer secara maksimal dalam perang berkelanjutan Israel terhadap para pejuang Palestina.

Meskipun pemerintah AS tidak secara terbuka menyatakan seperti apa jenis bantuan militer karena khawatir pasokan peralatan militer ke Israel akan menyebabkan AS dicap sebagai Penjahat Perang dalam mendukung kejahatan perang Israel membunuh warga sipil di Palestina.

Celakanya, baik Israel maupun sekutu-sekutu Barat-nya seperti Inggris dan Perancis, sepertinya tidak peduli dengan besarnya korban warga sipil Palestina. Bahkan tetap meyakini bahwa saat ini merupakan momentum terbaik untuk menetapkan secara tuntas konflik berkepanjangannya dengan Arab Palestina. Seraya melestarikan dominasinya di kawasan Timur Tengah dan Teluk Parsi.

Untuk menggambarkan betapa bias dan berat sebelahnya AS dan negara-negara blok Barat dalam mendukung Israel dalam menghadapi perjuangan bersenjata Arab Palestina dalam upaya merebut kembali wilayah-wilayah Palestina yang direbut Israel, mari kita kilas balik sejenak  pada 7 sampai 9 Juni 1988. Kala itu, para pemimpin Arab berkumpul di Aljir, ibukota Aljazair, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi “Darurat” Liga Arab. Semua kepala negara Arab hadir kecuali Presiden Irak Saddam Hussein, Presiden Somalia, Mohammad Siad Barre, dan Sultan Qabous dari Oman.

karya Sudi Purwono

KTT yang diadakan atas prakarsa Aljazair ini bertujuan untuk membicarakan langkah terpadu dalam memberikan dukungan materi, keuangan dan politik, kepada masyarakat Palestina yang mana sejak 1987 melancarkan intifadhah (perjuangan) di Tepi Barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza melawan Zionia Israel.

Intifadhah yang dimulai sejak Desember 1987 telah menewaskan 225 orang warga Palestina.

Sebuah catatan penting yang perlu kita cermati dari hasil KTT Aljazair  Juni 1988  yang bersifat tertutup tersebut antara lain menyeoakati beberapa poin penting:

  1. Menolak usul perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat. Misi perdamaiann yang dijajaki oleh menteri luar negeri AS George Shulz ini dianggap  hanya ingin melindungi kepentingan Israel saja.
  2. Dukungan terhadap intifadhah rakyat Palestina di Tepi Barat dan Gaza.
  3. Menegaskan kembali Palestine Liberation Organization (PLO) sebagai satu-satunya wakil sah Palestina.
  4. Dukungan moral dan politik KTT Aljazair dan menyetujui pemberian bantuan “darurat” senilai 128 juta dolar AS serta bantuan bulanan 40 juta dolar AS.

Salah  satu poin penting dari KTT Aljazair Juni 1988 yang perlu saya garis bawahi di sini adalah sikap terang-terangan negara-negara Arab di Timur Tengah menyatakan tidak percaya pada kredibilitas AS maupun sekutu-sekutu Baratnya sebagai mediator atau juru damai konflik antara Arab Palestina versus Israel. Mengapa bisa seperti itu?

Pakar Timur-Tengah M. Riza Sihbudi dalam bukunya bertajuk: Bara Timur Tengah, menuturkan bahwa “kebijakan bermuka dua” atau kalau tidak mau disebut terang-terangan mendukung Israel dalam konfliknya dengan Arab Palestina, bermula saat Inggris pada pada Pasca Perang Dunia I, menteri luar negeri Inggris Arthur James Balfour berjanji kepada Theodore Herzl yang merupakan pemrakarsa Gerakan Zionisme Israel untuk mendirikan negara Yahudi, untuk membantu cita-cita kaum Zionis pada 1917. Perhitungan Balfour dan Inggris, dengan mendukung Gerakan Zionisme Israel mendirikan negara Yahudi, dapat mengamankan keberlangsungan kekuasaan Inggris di kawasan Timur Tengah. Surat janji Inggris pada Theodore Herzl ini kelak dikenal dengan “Deklarasi Balfour.”

karya Sudi Purwono

Inilah peristiwa yang melatarbelakangi mengapa Inggris yang kemudian diperkuat AS dan juga Perancis, memberi dukungan mutlak terhadap upaya Gerakan Zionisme Israel untuk mendirikan negara bangsa. Momentum itu tiba memang baru 31 tahun kemudian, ketika pada Pasca Perang Dunia II, Inggris dan AS menjadi pemain kunci dan motor penggerak terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sehingga dengan bantuan Inggris, Israel dapat wilayah yang lebih luas dibandingkan Arab Palestina yang kala itu jumlah penduduknya lebih banyak daripada para pemukim di Palestina.

Baca juga: If Americans Knew

Maka ketika bentrok semakin membesar seturut pembagian Palestina yang yang tidak adil bagi Arab Israel tersebut, dan kemudian bentrokan itu berubah menjadi perang berskala besar antara Arab versus Yahudi Israel, Inggris dan AS secara total mendukung Israel menghadapi Arab Palestina. Dan hal itu mencapai puncaknya ketika pada 1948 kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Sejak itu bukan saja sebatas konflik bersenjata antara Yahudi Israel versus Arab Palestina, bahkan juga melibatkan sejumlah negara Arab.

Namun ironisnya, seperti analisis M. Riza Sihbudi, dalam setiap peperangan, Israel selalu memperoleh kemenangan, dan berhasil memperluas daerah kekuasaan mereka. Dan pada Perang Enam Hari pada Juni 1967, seluruh wilayah wilayah Palestina jatuh ke tangan Israel.

Baca: Visualizing Palestine

Rangkaian cerita tadi menjelaskan mengapa hingga kini tiga anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu AS, Inggris dan Perancis, tetap menolak mengakui kedaulatan Palestina. Jadi, masuk akal jika hingga kini AS dan sekutu-sekutunya seperti Inggris dan Perancis, tidak bisa dipercaya sebagai mediator atau juru damai penyelesaian konflik secara komprehensif, menyeluruh dan adil, antara Arab Palestina versus Israel.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIndonesia Patut Mengapresiasi dan Mendukung Ajang Olahraga Gaya Baru Games of the Future 2024 MLBBSelanjutnyaEskalasi Konflik Bersenjata Israel versus Arab Palestina Jangan Sampai Meluas ke Timur Tengah, Semenanjung Korea, dan Asia Tenggara

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
Internasional

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents