Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Asumsi Perubahan Dan KiamatKiamat Dalam Perspektif Religi

Rusman

Rusman·19 Maret 2024·3 menit baca

Bagikan
Asumsi Perubahan Dan Kiamat Dalam Perspektif Religi
Ngaji Kecil Geopolitik di Hari Ke-8 Ramadhan 1445 Meski tidak selalu berbanding lurus, bahwa perubahan kerap diawali oleh distrust alias ketidakpercayaan. Atau sebaliknya, karena faktor kepercayaan (trust) bisa terjadi perubahan. Tapi tidak setiap kali. Itu titik mula. Entah perubahan personal ataupun sifatnya nonpersonal/publik. Nah, ngaji kecil ini membahas perubahan karena distrust, bukan faktor trust. Bila gejala public distrust dibiarkan maka ia akan meningkat menjadi social disorder atau ketidaktertiban sosial. Jika kondisi tersebut terus berlarut di masyarakat tanpa upaya pencegahan, ia dapat melaju jadi social disobedience atau pembangkangan sosial. Kemudian social disobedience bisa naik lagi kadarnya menjadi political disobedience alias pembangkangan politik. Nah, ujung semuanya ialah political riot atau kerusuhan politik. “Lantas, terjadilah perubahan”. Jadi, asumsi perubahan secara teori ialah: public distrust – social/public disorder – social disobedience – political disobedience – political riot. Sedangkan tempo/waktu aksi, entah mulai public distrust, social disorder dan seterusnya  hingga ke political riot, bersifat nisbi. Relatif. Tergantung faktor-faktor yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal. Temponya bisa cepat, sedang, lambat, atau bahkan tak terjadi kerusuhan politik sama sekali karena cerdasnya antisipasi di setiap level situasi. Secara teori, massa aksi pada Mei 1998 di Jakarta —reformasi— yang menumbangkan Orde Baru, isu tersebut tergolong political riot yang diawali public distrust atas praktik dan operasional supra-struktur politik di masa itu. Jadi, perubahan dari Orde Baru ke Era Reformasi berawal dari ketidakpercayaan publik terhadap praktik-praktik operasional Orde Baru. Sesuai judul catatan ngaji ini, lain asumsi perubahan, lain pula teori kiamat atau tanda-tanda kehancuran. Dari perspektif religi, entah kiamat kecil, sedang, ataupun kiamat (kehancuran) besar selalu bermula dari riak. Ya. Riak adalah mental ingin dipuji atau sifat pamer guna memperoleh sanjungan. Dan itulah fenomena sosial politik bertajuk pencitraan yang sekarang marak baik di panggung (geo) politik lokal/nasional, regional maupun di level geopolitik global. Filsuf Jean Baudrillard menamai gejala tersebut sebagai hyper-reality. Realitas semu. Atau istilahnya Era Simulakra. Simulakra merupakan suatu era dimana batas antara citra dan realitas telah melebur. Bahkan, citra itu sendiri berubah menjadi (seolah-olah) sebuah realitas. Istilah lain fenomena tersebut kerap disebut post-truth. Era pasca-kebenaran. Di era (post-truth) ini, kebohongan menyamar sebagai kebenaran lewat emosi nitizen, buzzers, atas nama euforia mengaduk-aduk alam bawah sadar serta persepsi publik. Hoaks misalnya, dibilang kenyataan, atau fakta objektif dikatakan opini, dan lain-lain. Tergantung setting agenda kelompok kepentingan di balik algoritma. Tahapan setelah riak adalah syirik. Ya. Arti syirik secara vertikal (hablum minallah) ialah menyekutukan Tuhan. Itu makna mutlak. Membuat sesembahan selain Dia, Tuhan Yang Mahapengasih. Sedangkan arti horizontal (hablum minannas) dari syirik ialah, “Semua itu karena aku!” Kalau tidak ada aku, engkau tak jadi apa-apa. Sopo siro sopo insun. Angkuh. Merasa paling hebat sendiri. Begitu ilustrasinya. Fase setelah syirik disebut munafik. Ini fase mencla-mencle. Tidak satunya kata dan perbuatan. Isuk dele sore tempe. Jika berkata ia bohong, kalau berjanji diingkari, bila dipercaya (amanah) ia mengkhianati. Nah, kelompok religius, khususnya muslim sudah membaca tanda-tanda kiamat selain hal-hal di atas, contohnya, kelak kiamat ditandai dengan munculnya Dajjal, Ya’juj Ma’juj dan seterusnya, salah satu di antaranya juga muncul Ruwaibidhah.   Rasullah SAW bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara”. Lantas, beliau ditanya sahabat, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi perkara umum”. Poin intinya, Ruwaibidhah adalah sosok yang tak punya kapasitas keilmuan, tetapi ikut campur dalam urusan orang banyak. Dan Rasulullah telah memberi isyarat kemunculannya sejak 14 abad silam. Fase terakhir sebelum kiamat —masa kehancuran— tiba disebut fasik. “Membuat kerusakan di muka bumi”. Pada fase ini, apapun kebijakan terkait umat justru membuat kerusakan di sana-sini meski dikemas dengan diksi dan semantik canggih, misalnya, sustainable, green energy, dan lain-lain. Dua asumsi di atas, entah teori perubahan ataupun kiamat, silakan deskripsikan ke kondisi hari ini baik di level lokal/nasional, regional, maupun geopolitik global. Clue-nya begini: “Sudah di tahap mana perubahan dan/atau fase kiamat sekarang ini?” Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaPenjajahan Gaya Baru dan Kontra SkemaSelanjutnyaBagi Amerika Serikat, Demokrasi Berarti Memaksa Negara-Negara Sasaran Ramah Terhadap Globalisasi Korporasi

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents