Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Awas! Skenario Adu DombaAdu Domba TNI vs Polri Dapat Menghancurkan NKRI

Rusman

Rusman·28 Maret 2025·3 menit baca

Bagikan
Awas! Skenario Adu Domba TNI vs Polri Dapat Menghancurkan NKRI

Ada adagium tua di dunia geopolitik, “Tidak ada yang abadi dalam kolonialisme di muka bumi melainkan devide et impera“. Bahwa devide et impera kerap disebut dengan istilah strategi belah bambu alias taktik pecah belah, atau trik adu domba, dan lainnya.

Apabila merujuk histori adu domba di Bumi Pertiwi, bahwa maqom tertinggi modus belah bambu ialah membenturkan alias mengadu domba antara TNI Vs Polri, selain terdapat adu domba antarsesama muslim yang kini tengah berlangsung secara diam-diam (karena umat tak menyadari) melalui pengelompokan Islam menjadi beberapa entitas, misalnya, Islam Modern, Islam Tradisional, Islam Radikal, Islam Ekstrim lain, dan seterusnya

Kenapa adu domba TNI-Polri dianggap sebagai maqom tertinggi?

Sebab, TNI-Polri itu anak kandung revolusi. “Mereka perekat bangsa.” Pecah keduanya, maka pecahlah bangsa ini. Demikian kredo bergulir di kalangan nasionalis. Silakan petik hikmah 10 Nopember 1945 di Surabaya. Tatkala keduanya bersatu lalu bersama rakyat mengangkat senjata, maka pemenang Perang Dunia II pun ‘balik kucing’. Mereka kalah perang. Dua jenderal sekutu tewas di Surabaya menjadi saksi betapa dahsyatnya kekuatan manakala TNI, Polri dan rakyat bersatu. “Tak bisa dikalahkan”.

Sekali lagi, upaya memecah TNI-Polri merupakan modus dan maqom tertinggi oleh anasir manapun khususnya pihak asing guna melemahkan persatuan dan kedaulatan bangsa. Itu metode puncak belah bambu.

Ketika kini banyak anak bangsa justru menari-nari dalam gendang yang ditabuh asing, entah di internal TNI-Polri sendiri ataupun dari eksternal (NGO, civil society, media dan lain-lain), disinyalir — selain faktor ego sektoral, esprit de corps yang keliru, tidak memahami sejarah, kurang wawasan dst, juga kuat diduga para penggaduh tersebut merupakan proxy agents dari anasir asing yang tengah mengaduk-aduk Bumi Pertiwi. Katakanlah, ‘buzzers bayaran’ baik dari eksternal maupun di internal TNI-Polri. Nah, entitas terakhir inilah (proxy agents) yang paling berbahaya. Asli. Mereka adalah para pengkhianat bangsa!

Seyogianya, anggota TNI-Polri baik yang telah purna terutama yang aktif agar menahan diri apabila muncul isu di permukaan yang mencoreng nama institusi, seyogianya jangan langsung clometan. Apalagi mengembangkan dan menyebar berita yang belum A1. Biarlah fakta, data dan logika diurai secara profesional oleh aparat berkompeten. Jangan sampai publik justru teralihkan (deception) pada isu lain, sedang persoalan utama malah kabur.

Apapun narasi. Entah secara langsung atau memakai cara melingkar, menyelinap dan seterusnya bahwa upaya adu domba TNI Vs Polri akan selalu menjadi agenda asing baik secara halus, setengah kasar maupun vulgar.

Kalau di Polri ada Partai Coklat alias Parcok, misalnya, demikian pula di TNI, ada Partai Hijau atau Parjo. Keduanya, baik Parcok ataupun Parjo bukanlah potret institusi, atau cermin peran dan fungsi kelembagaan dalam negara. Ia adalah sekumpulan oknum anggota TNI-Polri yang sering hilir mudik di lorong-lorong politik dan kekuasaan. Tak dapat dipungkiri, hal tersebut merupakan outcome dari Pasal 6A Ayat (2) UUD NRI 1945, UU Polri, dan UU TNI dimana selain dominannya peran partai politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (vide Pasal 6A Ayat 2), juga ada keharusan fit and proper test di DPR bagi Panglima TNI dan Kapolri sesuai UU kedua lembaga. Ini konsekuensi logis. Dan gilirannya, mau tidak mau, suka atau tak suka, ada politisasi kuat di Polri dan di TNI.

Jumlah anggota Parcok dan Parjo cuma sedikit, tetapi mereka memegang sistem, kendali dan menguasai sumber daya vital organisasi baik di internal maupun di luar organisasi. Posisi inilah yang kini tengah dibentur-benturkan oleh kekuatan eksternal, sehingga dikhawatirkan membahayakan bangunan kesatuan dan persatuan bangsa sebagaimana asumsi pada prolog tulisan ini: “TNI-Polri itu anak kandung revolusi. Perekat bangsa”.

Seyogianya personel non-Parcok dan non-Parjo tidak perlu terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang sedang dimainkan oleh segelintir proxy agents dengan berbagai naratif. Tetap waspada dalam keimanan Tribrata dan Catur Prasetya bagi anggota Polri, serta kesetiaan terhadap Sumpah Prajurit dan Sapta Marga bagi anggota TNI. Ya. Pesta bakal usai. Indonesia kini memasuki tahap dengan apa yang disebut Babat Alas (2025-2029). Becik ketitik olo ketoro.

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tidak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIndonesia Perlu Mendorong Reformasi Kebijakan Untuk Melawan Perampasan dan Komersialisasi Sumber Daya AirSelanjutnyaUrgensi Ratifikasi Statuta Roma bagi Indonesia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents