Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Belajar dari Dinamika Perang Teluk 2026: Menuju Indonesia Mercusuar DuniaIndonesia Mercusuar Dunia (Bag-2/Habis)

Rusman

Rusman·8 April 2026·5 menit baca

Bagikan
Belajar dari Dinamika Perang Teluk 2026: Menuju Indonesia Mercusuar Dunia (Bag-2/Habis)

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Keempat, Relevansi Ulang Alutsista Strategis

Fenomena lain yang layak dicermati ialah dipertanyakannya superioritas alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti kapal induk, pangkalan militer, hingga jet tempur generasi kelima. Kenapa? Sebab, dalam dinamika Perang Teluk, ketiga instrumen di atas terlihat kurang efektif, bahkan menjadi beban karena dijadikan sasaran terbuka bagi Iran ditandai dengan hancurnya pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk.

Dalam konteks Indonesia, wacana pengadaan kapal induk perlu dikaji ulang secara kritis. Selain mahal dan biaya perawatannya tinggi, pada dasarnya — kapal induk merupakan instrumen militer ofensif aktif untuk projeksi kekuatan di luar wilayah. Sedangkan doktrin pertahanan Indonesia berorientasi pada perlindungan wilayah dan kedaulatan domestik (defensif aktif). Perhatikan saat burung-burung mengalah gajah atau semut-semut yang membuat gajah tak berdaya.

Kelima, Kepemimpinan yang Dekat, Dipercaya, dan Dicintai

Secara administrasi, manajemen Perang Teluk mengajarkan satu hal: kepemimpinan dan pengambilan keputusan ialah “ruh” yang mampu menggerakkan dinamika pertempuran terus menyala. Selain Iran memperlihatkan gaya kepemimpinan yang dekat, terlihat, dipercaya oleh bawahan serta dicintai segenap rakyatnya, juga efektivitas pengambilan keputusan yang “dingin” meskipun secara situasional sangat kritis, tanpa harus terpengaruh peristiwa yang tengah terjadi (contoh: gugurnya Ali Khamenei tak menyurutkan serangan balasan). Patut dicatat, sistem demokrasi liberal yang diterapkan sejak berlakunya UUD 2002 sebagai UUD 1945 palsu, sistem politik Indonesia gagal memulihkan kepercayaan publik (public trust). Diam tapi pasti, rakyat mencibir para politisi yang menyelenggarakan pemerintahan dan menegakkan hukum. Ini wujud public disorder, seperti terjadi pada Agustus Kelabu 2025.

Keenam, Mosaic Defense Doctrine = Spirit Sishankamrata

Tak pelak, Doktrin Mosaic Defense: sistem dan struktur pertahanan yang terdesentralisasi pada unit-unit kecil, mobile, ulet, lincah, dan simbol “miniatur negara”. Jadi, meskipun struktur puncak tidak ada (tewas), atau bahkan ketika sebagian struktur pun dihancurkan musuh, perlawanan terus menyala, semangat berperang terus membara. “Api (perjuangan) tak pernah padam.” Filosofinya sederhana: mati satu, tumbuh seribu. Apalagi jika memegang prinsip, mati bukan akhir kehidupan tapi justru menuju ke alam yang lebih menentramkan dan membahagiakan.

Tampaknya, konsep mosaic defense ini memiliki kemiripan dengan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata) yang telah lama menjadi doktrin dan prinsip Indonesia. Sejarah perjuangan melawan penjajah membuktikan bahwa kekuatan rakyat yang terorganisir, ditopang nilai juang-spiritual dan kebangsaan, mampu mengimbangi bahkan mengalahkan kekuatan militer modern. Perlawanan Pangeran Diponegoro contohnya, ia mampu membuat Belanda bangkrut; atau gerilya Panglima Soedirman melawan kolonialisme, merupakan realitas strategi atrisi-asimetri yang dilakukan para leluhur dahulu; ataupun peristiwa 10 November 1945 di Surabaya merupakan bukti kedahsyatan dari nilai-nilai tersebut. Kuncinya adalah: kepemimpinan yang dipercaya, dekat dengan bawahan, serta dicintai segenap rakyatnya plus nilai-juang pantang menyerah: “hidup mulia atau mati syahid”.

Ketujuh, Swarm Attack di Choke Point

Strategi swarm attack —serangan terkoordinasi dalam jumlah besar, cepat, serempak dan masif— terbukti efektif, terutama di area sempit seperti selat. “Hadang anti-hadang”. Taktik ini mampu memaksa kekuatan besar (kapal perang, misalnya) mundur bahkan hancur karena menghadapi tekanan simultan dari berbagai arah secara tak terputus-serempak.

Dengan posisi Indonesia sebagai jalur Sealanes of Communication (SLOC) dunia, penerapan strategi ini sangat relevan. Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar bukan hanya jalur pelayaran komersil, ia berpotensi menjadi arena pertahanan yang dahsyat jika dibutuhkan. Data menunjukkan, di Selat Malaka melintas berbagai komoditas yang volumenya berkisar di atas 30 persen total peradagangan internasional. Benar bahwa Selat Malaka dikuasai Indonesia, Malaysia dan Singapura. Tapi dominasi berada di tangan Indonesia.

Kedelapan, Kontra Strategi

Adalah tak kalah penting soal “kontra strategi.” Misalnya, ketika NATO melabel IRGC sebagai teroris, ia pun balik menuduh tentara NATO sebagai teoris. Atau, manakala AS menurunkan kapal induk, Iran cukup menggunakan pola swarm attact yang gesit, mengejutkan dan menyulitkan platform raksasa yang cenderung lamban di medan sempit. Tatkala AS-Israel hendak menurunkan ribuan prajurit gabungan darat, laut dan udara —dalam perang darat— Iran memobilisasi satu juta milisi. Ataupun, saat AS mengajukan 15 butir proposal perundingan guna menghentikan perang, ajuan Iran hanya lima poin, namun mampu mengkontra hidden agenda AS dalam (rencana) perundingan tersebut. Itulah strategi kontra alias kontra strategi. Mengejutkan, karena ini bukan hanya soal kecerdasan dan harga diri, tapi juga soal memahami posisi dan proyeksi suatu bangsa dan negara hendak ke mana. Beda sekali dengan Indonesia masuk ke dalam Board of Peace dan menanda tangani ART USA dan Indonesia 2026.

Kesembilan, Keterhubungan dan Pemberdayaan Proxy Lintas Wilayah

Pembelajaran penting terakhir ialah, bahwa perang modern tidak lagi berdiri tunggal di satu aspek: militer. Kemenangan ditentukan oleh keterhubungan seluruh komponen negara seperti militer, ekonomi, energi, teknologi, hingga masyarakat (milisi) sipil, termasuk —jika punya— keterlibatan para proxy lintas wilayah.

Konsep “perang total” dalam terminologi modern memang bukan sekadar mobilisasi, tetapi integrasi dan sinergi. Sistem pertahanan dan keamanan ini mutlak harus didukung oleh hardware dan software yang mewajibkan koordinasi lintas sektor secara real-time, lalu dilatihkan secara berkala – sehingga hal ini dapat mengeliminasi penyakit klasik sesama alat negara-birokrasi: ego sektoral.

Menuju Arsitektur Pertahanan dan Keamanan Baru

Indonesia tidak kekurangan potensi. Tantangannya adalah bagaimana merumuskan doktrin yang mampu mengintegrasikan seluruh keunggulan ke dalam satu sistem yang utuh dari struktur puncak hingga bawah.

Perang Teluk 2026 memberi pesan tegas: kekuatan tidak lagi ditentukan siapa punya senjata canggih, modern, jumlah besar dan keandalan pasukannya, tapi ditentukan siapa yang paling adaptif, terhubung, fleksibel, dan mampu memanfaatkan seluruh instrumen nasional secara cerdas, murah, namun efektif.

Jika mampu membaca arah perubahan ini, Indonesia bukan hanya akan mampu bertahan dalam guncangan geopolitik global, ia juga mampu memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas kawasan, bahkan bisa menjadi rujukan global: “Indonesia Mercusuar Dunia”.

Penutup

Pembelajaran mahal dari AS dan Israel memerangi Iran adalah tekanan dan penindasan ekonomi politik adalah penjajahan intangible, tapi bukanlah kematian. Seperti juga China saat menjadi negara tirai bambu hingga 1994, Iran membangun daya juang bertahan dan mental melawan serta memperkaya ilmu dan iman. Ini berarti soal pendidikan. Pada aspek ini jarang sekali orang menyadari bahwa Barat telah menginvasi dan mengintervensi sistem pendidikan Indonesia sejak RIS. Model pemerintahan sekuler berbasis materialis akhirnya menghilangkan hubungan signifikan antara sistem dan tokoh panutan.

Perhatikan, betapa banyak politisi, penyelenggara negara, penegak hukum, pebisnis, akademisi, media massa, tokoh rohaniawan, dan tokoh masyarakat lainnya yang menikmati sistem sekuler berbasis materialisme. Selama mereka menjadi pihak-pihak yang hanyut dalam ketersesatan ini, selama itu pula Indonesia sulit tegak sebagai bangsa dan negara yang kokoh harkat martabatnya. Ini semua karena negara gagal menyediakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan, kesehatan, infra struktur darat, laut dan dirgantara, penyediaan lapangan kerja, dan perumahan. Kegagalan ini sendiri disebabkan kegagalan terbentuknya modal sosial dan modal politik secara utuh menyeluruh. Ironi, ada pembelajaran amat mahal dari memerangi Iran tapi di sia-siakan. Menjadi mercusuar hanya terjadi jika modal kultural terbentuk karena himpunan modal sosial, politik dan modal ekonomi menghadirkan kesejatian nilai-nilai kemanusiaan seperti yang diamanatkan Kata Pembukaan UUD 1945.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaJebakan Senyap di Tengah Badai Global: Indonesia Belum MerdekaSelanjutnyaBelajar dari Dinamika Perang Teluk 2026: Menuju Indonesia Mercusuar Dunia (Bag ke-1)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents