Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Blokade Laut ala Amerika Serikat Terhadap Cina di Laut Cina SelatanLaut Cina Selatan 2006, Cikal Bakal Strategi Indo-Pasifik AS 2017

Hendrajit

Hendrajit·7 Februari 2026·3 menit baca

Bagikan
Blokade Laut ala Amerika Serikat Terhadap Cina di Laut Cina Selatan 2006, Cikal Bakal Strategi Indo-Pasifik AS 2017

Strategi Indo-Pasifik Amerika Serikat (US Indo-Pacific Strategy) baru diluncurkan Presiden Donald Trump pada 2017 lalu, dengan dalih untuk menggalang kekuatan negara-negara di Asia Pasifik untuk membendung meluasnya pengaruh Cina.

Namun kenyataannya, sejak 2006 pemerintah Amerika yang kala itu masih di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, secara gencar sudah melancarkan blokade laut terhadap Cina yang disebut “Blokade Jarak Jauh atau distane block.”

Dalih yang jadi dasar pemerintah AS dalam penerapan Strategi Distance Block atau Blokade Jarak jauh kala itu, oleh sebab meningkatnya kekuatan militer Cina dan kemampuannya untuk menggagalkan agresi militer AS secara langsung di sepanjang pantainya sendiri.

Dengan kata lain, blokade laut AS dilancarkan dengan  tujuan untuk memutus berbagai “jalur komunikasi” ekonomi Cina, baik jalur laut dari Timur Tengah ke Cina melalui Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Jadi sekarang baru kita menyadari secara jelas bahwa itulah tujuan strategis Washington ketika meluncurkan  Strategi Indo-Pasifik AS pada 2017 lalu.

Dengan demikian bisalah disimpulkan bahwa Strategi Indo-Pasifik AS telah menempatkan kawasan Asia Tenggara di tempat mana wilayah-wilayah di atas perairan Laut Cina Selatan berada, menjadi target utama Washington untuk membangun Ruang Pengaruh atau Sphere of Influence. Membloke pelayaran dan rute dagang Cina.

Memang kalau kita amat secara cermat, sejak 2019 pemerintah Beijing telah membuat kebijakan untuk memperketat kendali atas jalur perdagangan strateginya yang melewati Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia. Adapun Pusat Penyelamatan Maritim tersebut berada di Fiery Cross Reef di Kepulauan Spratly, yang juga saat ini masih diklaim oleh Taiwan, Vietnam, dan Filipina.

Baca:

China Opens Maritime Hub to Tighten Grip on South China Sea

Baca juga:

South China Sea law enforcement ship unveiled as Beijing seeks to tighten control over disputed waters

Meskipun Kementerian Transportasi Cina mengatakan bahwa Maritime Hub atau Pusat Penyelamatan Maritim tersebut hanya untuk tujuan damai dan melindungi keselamatan navigasi dan transportasi di Laut Cina Selatan, bagi pemerintah AS nampaknya dipandang sebagai langkah militer yang bersifat agresif. Sehingga dengan dasar itulah Washington mengumumkan kebijakan Blokade Laut/Blokade Jarak Jauh.

“Satu-satunya yang kurang adalah pasukan yang dikerahkan,” tulis Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat Philip Davidson tahun lalu. “Setelah diduduki, Cina akan mampu memperluas pengaruhnya ribuan mil ke selatan dan memproyeksikan kekuatan jauh ke Oseania. Singkatnya, Cina sekarang mampu mengendalikan Laut Cina Selatan dalam semua skenario kecuali perang dengan Amerika Serikat.”

Terlepas dari retorika yang disuarakan oleh petinggi angkatan laut AS Philip Davidson, nilai strategis geopolitik Laut Cina Selatan itu sendiri. Khususnya kandungan Sumberdaya Alamnya, harus diakui memang wow. Coba saja bayangkan.

Selain merupakan salah satu wilayah laut terpenting di dunia,Laut Cina Selatan ini sangat kaya akan sumber daya alam, diperkirakan mengandung 11 miliar barel minyak, 190 triliun kaki kubik gas alam, dan sekitar 10 persen dari perikanan global.

Bukan itu saja yang terpenting. Pperdagangan senilai 5,3 triliun dolar AS mengalir melalui Laut Cina Selatan setiap tahunnya, yang hal itu berarti lebih dari 30 persen dari total pengiriman barang di seluruh dunia mengalir lewat perairan Laut Cina Selatan.

Pemerintah Cina memang menaruh prioritas pada Kepulauan Spratly. karena letaknya, baik secara geografis maupun simbolis, berada di tengah Laut China Selatan. Taruhannya sangat tinggi di wilayah ini, karena negara mana pun yang dapat mengklaim Spratly mungkin memiliki dasar hukum untuk memperluas zona ekonomi eksklusifnya hingga mencakup pulau-pulau tersebut dan sebagian besar perairan sekitarnya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaAmerika Serikat, Inggris, Prancis di Tengah Hadirnya Board of Peace Sebagai Panggung Global BaruSelanjutnyaIndonesia Dalam Pusaran Kekerasan Simbolik Board of Peace

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents