Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Buku LawasBuku Lawas, Energi Baru

Rusman

Rusman·8 Februari 2026·4 menit baca

Bagikan
Buku Lawas, Energi Baru

Oleh: Cornelius Helmy
(Kompas, 7 Februari 2016)

Sebagian buku dan dokumen lawas itu jauh lebih tua dari pemiliknya. Lewat bumbu cinta dan kreativitas, para penikmatnya berusaha menjaga isi dan semangat buku agar selalu mempunyai makna dan memberikan energi baru.

Cat putih yang melabur ruangan berukuran 4 meter x 2,5 meter itu nyaris tak terlihat lagi. Rak-rak buku menempel hingga ke ujung atap perpustakaan setinggi 3,5 meter yang berada di kawasan Sumur Bandung, Kota Bandung, Januari lalu. Rampung setahun lalu, perpustakaan milik Ryzki Wiryawan (31) itu menjadi rumah bagi sedikitnya 3.000 buku lawas yang dikumpulkannya sejak 2006.

Tepat di muka pintu masuk, buku berwarna biru tua itu terlihat menonjol, judulnya Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. Buku kenangan kelompok Freemason di Hindia Belanda itu sulit dicari kembarannya. Anggota Freemason banyak mendalami beragam hal okultisme (pengetahuan rahasia dan tersembunyi).

Bagi Ryzki, buku itu tidak sekadar langka. Ia melihat, nilainya justru ada dalam isi buku. Di tengah minimnya literatur serupa, itu membantu Ryzki menelurkan dua buku lainnya. Buku Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung terbit tahun 2014. Satu lagi, buku bertema sejarah Bandung akan terbit pertengahan tahun ini.

“Beberapa buku di perpustakaan ini juga ikut membantu merampungkan studi hingga penelitian ilmiah,” katanya.

Ryzki lantas mengambil buku Indische Taal, Land, en Volkenkunde tahun 1877. Sampulnya coklat terbungkus plastik. Tangan Ryzki hati-hati membuka lembar kertas tua mencari bab berjudul “De Kaart van Tjiela of Timbanganten“.

Penulisnya adalah Karel Frederik Holle (1829-1896), pionir penanam teh di Hindia Belanda. Dalam jurnal itu, Holle menyalin peta lawas yang digambar di atas kain, yang berasal dari akhir abad ke-16. Ada nama tempat, sungai, dan gunung, dalam bahasa Sunda. Jakarta disebut Nusa Kalapa dan di sebelah selatannya terletak kawasan Pajajaran, di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.

“Saat mendapatkannya dari pedagang buku di Jalan Dewi Sartika, Bandung, Ryzki tidak membayangkan dokumen itu akan menjadi bahan peneliti asal Jakarta tentang sejarah Pajajaran. Semoga buku ini bisa jadi jembatan masa lalu, kini, dan yang akan datang,” kata Ryzki.

Digitalisasi hingga Wisata

Semangat itu juga muncul dalam diskusi “Jiwa Muda Koleksi Tua” di Bandung, pertengahan Januari lalu. Ryzki menjadi pembicaranya, bersama kolektor buku lawas Bandung lainnya, Indra Prayana (39) dan Dede Brandalan Tjimanoek.

Indra berharap punya peran serupa. Lewat sekitar 500 buku yang dikumpulkan sejak 2005, ia tengah merawat harapan banyak orang agar isi dalam buku lawas itu abadi.

Dia mencontohkan kepercayaan kolektor sepuh asal Bandung, yang menghubunginya sekitar enam bulan lalu. Tak mengira, ia dipercaya menjaga sejarah lewat puluhan eksemplar majalah bertema fiqih Islam yang diterbitkan periode 1920-1934. Majalah seperti Al Moe’min terbitan Cianjur, Al Imtisal (Tasikmalaya), Al Moechtar (Tasikmalaya), hingga Al Mawa’idz (Tasikmalaya) diwariskan kepadanya untuk diteruskan ilmunya hingga kini.

“Rekan dari Perpustakaan Ajip Rosidi di Bandung, perpustakaan yang banyak mendalami masalah kesundaan, tertarik mendigitalisasi majalah ini. Saya dengan senang hati menyambutnya,” kata Indra saat ditemui di perpustakaan miliknya berukuran 4 meter x 6 meter persegi di kawasan Antapani, Bandung.

Deny Rahman (36), moderator diskusi sekaligus aktivis beragam kegiatan literasi di Bandung sejak 2001, sepakat dokumen dan buku lawas itu akan jauh lebih berguna jika banyak orang bisa belajar. Dia yakin, justru hal itulah yang diinginkan para penulis buku langka itu dulu. Isi dalam buku berguna untuk generasi selanjutnya.

“Saat diketahui banyak orang, efeknya bagi kegiatan literasi di Jabar sangat positif baik. Selain muncul penulis buku baru, komunitas jalan-jalan sejarah tumbuh subur,” tambah Deny.

Pada 17 Februari 2016, misalnya, Deny menjadi satu dari 30 orang yang menapaki jejak sejarah penanam teh asal Belanda, RE Kerkhoven, di Gambung, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Diinisiasi kelompok jalan-jalan sejarah, Balad Junghuhn dan Tjimahi Heritage, acara itu mengambil referensi dari buku Sang Juragan Teh karya Hella S Haasse.

Bagi Deny, perjalanan itu tidak hanya menemukan warisan kerja keras RE Kerkhoven membuka kebun teh yang melegenda. Lewat acara itu, dia tahu RE Kerkhoven punya kepedulian tinggi yang menghidupkan sekitar 2.000 warga Gambung hingga kini. Pembangunan penampungan air bersih, listrik, hingga warisan penanaman teh jadi buktinya.

Pada hari yang sama, komunitas jalan-jalan lainnya, mooibandoeng, yang diprakarsai Ridwan Hutagalung (45), juga menggelar perjalanan serupa ke Garut. Acara ini adalah rangkaian kegiatan “Mengenal Riwayat Preangerplanters” yang digelar bersama Komunitas Aleut.

Ridwan mengatakan, sekitar 30 peserta jalan-jalan diajak menjelajahi jejak sejarah di Rumah Bambu hingga Perkebunan Teh Cikajang yang dikelola KF Holle. Peta Sunda yang disalin Holle dalam bab “De Kaart van Tjiela of Timbanganten” juga kembali aktual dibicarakan dalam perjalanan itu.

“Nama mooibandoeng diambil dari majalah promosi wisata keluaran tahun 1930-an. Semangatnya ingin yang dijaga hingga saat ini. Kami ingin mempromosikan kawasan alternatif wisata di tanah Priangan,” kata Ridwan.

Ryzki yang juga hadir dalam perjalanan itu meyakini, lewat minat besar anak muda penikmat sejarah, banyak dokumen lawas akan tetap hidup menjadi energi. Bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan juga bekal untuk esok yang lebih baik.

“Kami yakin dalam kekinian terkandung masa lalu. Masa sekarang juga sedang termuat masa depan yang akan terjadi” kata Ryzki.

Sumber: Kompas, 7 Februari 2016

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBilamana Habbema jadi Menteri P & KSelanjutnyaMembaca K-pop Diplomasi Korea-Japan di Nara, Pelajaran Strategis untuk Indonesia

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents