Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Dari Hutan LindungHutan Lindung ke Objek Ekonomi

Rusman

Rusman·18 Desember 2025·4 menit baca

Bagikan
Dari Hutan Lindung ke Objek Ekonomi
(Akar Masalah Kerusakan Ekologis Pasca Amandemen UUD 1945)
Catatan Kronologis Singkat
Galodo —banjir bandang yang disertai material ikutan— di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia merupakan konsekuensi logis dari perubahan sistemik tata kelola sumber daya alam (SDA) di Indonesia, terutama sejak era Reformasi (1998). Inti Reformasi, salah satunya, adalah perubahan konstitusional melalui amandemen UUD 1945 (1999-2002), yang melahirkan UUD NRI 1945 dengan watak baru: lebih individualistik, liberal, kapitalis dan berorientasi pasar.
Karena itu, membaca bencana ekologis hari ini tidak cukup dengan menuding curah hujan ekstrem atau kesalahan teknis di lapangan. Analisis harus ditarik ke hulu — pada keputusan politik dan hukum yang secara struktural mengubah status, fungsi, dan makna hutan lindung.
Catatan ini menegaskan bahwa titik krusial kerusakan ekologis berakar pada perubahan konstitusional beserta kebijakan turunannya, khususnya sejak amandemen UUD 1945 dan lahirnya UU No. 19 Tahun 2004, yang secara nyata menggeser hutan lindung dari kawasan sakral ekologis menjadi objek pemanfaatan ekonomi.
Mengubah Tafsir Pasal 33 UUD 1945: Pintu Legal Pertama
Sebelum diamandemen, Pasal 33 ayat (1), (2), dan (3) UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam praktik rezim sebelumnya—baik Orde Lama maupun Orde Baru—ketentuan ini secara normatif ditafsirkan sebagai mandat negara untuk melakukan perlindungan dan pengendalian kuat, terutama terhadap kawasan strategis seperti hutan lindung dan daerah aliran sungai (DAS).
Namun, amandemen UUD 1945 menambahkan ayat (4) dan (5) pada Pasal 33, yang memasukkan prinsip-prinsip efisiensi, keberlanjutan, dan mekanisme ekonomi. Inilah titik pergeseran paradigma yang fundamental. Frasa “dikuasai oleh negara” tidak lagi dipahami sebagai kewajiban perlindungan ketat, melainkan sebagai kewenangan untuk mengatur pemanfaatan, termasuk membuka ruang perizinan bagi swasta dan investor.
Di sinilah pintu legal pertama terbuka, hutan lindung tidak lagi dimaknai sebagai kawasan yang secara prinsip tertutup dari eksploitasi, namun sebagai ruang yang dapat dikelola melalui mekanisme pasar dan investasi atas nama pembangunan.
UU No. 19 Tahun 2004: Pintu Legal Kedua
Perubahan paradigma konstitusional tersebut kemudian menemukan bentuk konkret dalam UU No. 19 Tahun 2004, yang menetapkan Perppu No. 1 Tahun 2004 dan mengubah UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Secara normatif, UU Kehutanan 1999 secara tegas melarang pertambangan terbuka di kawasan hutan lindung. Namun, UU 19/2004 membuka kunci larangan itu melalui dua poin krusial:
  • Pengakuan dan keberlanjutan izin pertambangan yang telah ada di hutan lindung;
  • Pendelegasian pengaturan teknis kepada Presiden.
Dengan demikian, hutan lindung tidak lagi diposisikan sebagai kawasan ekologis absolut, melainkan sebagai ruang yang dapat dinegosiasikan secara hukum melalui izin lama, kepentingan strategis nasional (PSN), atau pengaturan teknis tertentu. Ini menandai pergeseran signifikan baik pada struktur fundamental maupun struktur fungsional tata kelola kehutanan.
Peran Kebijakan Eksekutif: Normalisasi Kerusakan
Pada masa Presiden Megawati, UU tersebut diikuti oleh berbagai Keputusan Presiden dan peraturan pelaksana yang berfungsi sebagai executive orders. Kebijakan ini antara lain:
  • Memberi kepastian hukum bagi konsesi tambang dan migas;
  • Memungkinkan penggunaan kawasan hutan untuk proyek infrastruktur;
  • Menyediakan payung hukum bagi investor nasional dan asing.
Meski sering disebut sebagai “era transisi”, kebijakan tersebut tidak pernah dicabut oleh rezim-rezim setelahnya. Sebaliknya, pemerintahan berikutnya justru memperluas skema perizinan, mempermudah pelepasan kawasan, dan mengintegrasikan hutan —termasuk hutan lindung— ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam konteks ini, era Megawati berfungsi sebagai turning point, bukan hanya anomali sementara.
Pintu Legal Ketiga: Pelepasan Kawasan dan Alih Fungsi Lahan
Setelah pintu hukum terbuka lebar, lahirlah berbagai instrumen turunan: SK pelepasan kawasan hutan, izin pinjam pakai, revisi tata ruang daerah, hingga izin perkebunan sawit skala besar, pertambangan, HTI, industri pulp, PLTA, geothermal, dan proyek infrastruktur masif lainnya.
Kasus kerusakan hulu DAS di Sumatera Barat (sejak 2004), konflik ekologis Batang Toru di Sumatera Utara (2019-2022), dan berbagai wilayah lain menunjukkan pola yang sama. Banjir, longsor, kekeringan, dan konflik sosial bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan manifestasi dari satu kebijakan struktural yang berkelanjutan: “hutan lindung diperlakukan sebagai ruang ekonomi”.
Simpulan: Hulu Keruh, Hilir Membuncah
Secara ekologis, hutan lindung berfungsi sebagai penyangga hidrologis, penyerap air hujan, serta pengendali erosi dan sedimentasi. Ketika hutan di hulu dirusak, air hujan tidak lagi terserap, limpasan permukaan meningkat, sungai kehilangan kapasitas alaminya, dan galodo menjadi keniscayaan.
Dalam kerangka ini, bencana bukan lagi force majeure, melainkan akibat kebijakan yang secara teoritis dapat diprediksi. Galodo di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah akumulasi keputusan politik dan hukum pasca amandemen UUD 1945 melalui tiga entry point utama:
Pintu I: Amandemen UUD 1945 yang menggeser tafsir Pasal 33;
Pintu II: UU No. 19 Tahun 2004 yang membuka celah pemanfaatan hutan lindung;
Pintu III: Kebijakan Eksekutif yang memperluas alih fungsi kawasan hutan
Kesimpulan —meski terkesan prematur— cukup terang: hutan lindung tidak lagi diperlakukan sebagai kawasan sakral ekologis, melainkan sebagai objek ekonomi yang sah secara hukum.
Dan jika kondisi ini tidak dikoreksi secara menyeluruh, bahkan radikal, maka galodo lanjutan hanyalah soal waktu — entah kapan dan di mana.
Demikian adanya, demikian sebaiknya.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
(Dirangkum, diolah, dan dianalisis dari berbagai sumber bacaan)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaICC Cenderung Memihak Kepentingan Geopolitik Negara-Negara Yang Selaras Dengan AS dan Uni EropaSelanjutnyaReaktualisasi Sosialisme Pasca Penyatuan Vietnam, Investasi Asing Jadi Sarana Kebangkitan Nasional

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents