Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Data TerbakarData Terbakar: Pola Lama Penghilangan Jejak Kejahatan

Rusman

Rusman·15 Desember 2025·3 menit baca

Bagikan
Data Terbakar: Pola Lama Penghilangan Jejak Kejahatan

Kita kembali disuguhi drama yang sering berulang: “bukti penting lenyap ketika kebenaran mulai mendekat”. Kali ini, yang terbakar bukan hanya sebuah gedung di Cempaka Putih, Jakarta, melainkan jejak digital yang berpotensi membongkar kejahatan lingkungan berskala besar.

Gedung Terradrone dilaporkan hangus akibat “baterai yang meledak”. Sebuah penjelasan yang terdengar netral, teknis, dan bagi publik yang sudah kenyang pengalaman, terlalu familiar.

Di negeri ini, berapa banyak arsip, server, gudang, dan dokumen yang hilang dengan alasan serupa, tepat disaat isinya mulai berbahaya bagi pihak-pihak tertentu?

Banjir Membuka Fakta, Api Menutup Jejak

Tatkala galodo di Aceh, Sumut dan Sumbar menyeret gelondongan kayu ilegal hingga ke hilir, sepertinya narasi besar runtuh: “O, itu akibat cuaca ekstrim, atau itu bencana ekologis, murka alam”.

Ya. Kayu-kayu itu adalah bukti telanjang. Tak bisa berbohong. Dan penanda bahwa hulu telah lama diperkosa oleh praktik penebangan liar dan ekspansi sawit ilegal. Akan tetapi, pada saat yang sama —di Jakarta— bukti digital yang selama ini berpotensi menguatkan fakta tersebut justru musnah ditelan api.

Selama bertahun-tahun, Terradrone disebut-sebut melakukan pemetaan udara berskala raksasa di Sumatera karena mencakup ratusan ribu hektar lahan perkebunan. Data resolusi tinggi semacam ini bukan sekadar arsip teknis. Ia adalah senjata yang mampu menunjukkan perubahan tutupan lahan, identifikasi pembukaan ilegal, dan memperlihatkan siapa yang bermain di luar izin. Dengan kata lain, data itu bukan berbahaya bagi publik — tetapi sangat berbahaya bagi mafia sumber daya alam (SDA).

Koinsidensi yang Terlalu Rapi

Publik tidak lagi bodoh. Kita telah berkali-kali menyaksikan pola yang sama, misalnya, server rusak, atau dokumen hilang, gudang terbakar, saksi kunci menghilang, dan semuanya selalu terjadi pada momen paling menentukan.

Ketika sorotan terhadap kejahatan lingkungan semakin menguat. Ketika tuntutan audit lahan dan transparansi data kian nyaring. Ketika bukti mulai cukup untuk menyeret aktor besar, bukan sekadar tumbal lapangan. Lalu, api menyala. Dan kita diminta percaya bahwa ini hanyalah kecelakaan teknis.

Pertanyaannya sederhana namun menohok, “Siapa paling diuntungkan jika data-data itu lenyap?”

Jika Data Hilang, Bukan Soal Kelalaian, Tapi Bencana Politik

Jika benar data pemetaan tersebut tidak memiliki cadangan yang aman dan kini benar-benar musnah, maka ini bukan sekadar kegagalan teknis perusahaan. Ini adalah kegagalan sistemik negara dalam melindungi bukti kejahatan lingkungan. Namun, jika data itu sebenarnya ada — (mungkin) tersimpan di cloud, server luar negeri, atau cadangan independen, maka publik berhak tahu,

1. Dimana ia disimpan?”

2. Siapa yang menguasainya?

3. Mengapa belum dibuka untuk kepentingan hukum dan lingkungan?

Tanpa jawaban yang memadai atas pertanyaan-pertanyaan tadi, semakin memperkuat kecurigaan bahwa kebakaran ini bukan sekadar peristiwa, melainkan bagian dari proses pembersihan jejak.

Api Bukan Akhir Cerita

Tulisan ini tidak menuduh satu atau dua nama. Tidak sama sekali. Namun, sejarah Indonesia mengajarkan bahwa kejahatan SDA tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dilindungi oleh jaringan modal, kekuasaan, dan perilaku pembiaran. Karena itu, kasus kebakaran Terradrone tidak boleh dikubur di bawah abu Cempaka Putih. Mutlak harus ada:

1. Investigasi forensik independen,

2. Audit terbuka atas sistem penyimpanan data; dan

3. Adanya jaminan bahwa bukti kejahatan lingkungan tidak dikorbankan demi kenyamanan segelintir elite.

Jika tidak, maka kita harus berani jujur mengakui bahwa bukan hanya hutan yang dibakar, tetapi juga keseriusan negara dalam menegakkan keadilan ekologis. Ya. Api boleh saja memusnahkan gedung, tapi publik tidak boleh membiarkan kebenaran ikut hangus terbakar.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBerpotensi Merusak Ekologi Laut dan Hak-Hak Asasi Manusia: Negara-Negara Besar dan Korporasi Tambang Harus Menghentikan Penambangan Dasar Laut DalamSelanjutnyaKepemimpinan di Era Flux: Ketika Peta Tak Menjamin Arah

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents