Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Demokrasi KitaDemokrasi Kita Tidak Otentik

Rusman

Rusman·7 Mei 2023·4 menit baca

Bagikan
Demokrasi Kita Tidak Otentik
Cerpen Kecil (Geo) Politik
Cara Orde Baru mengalihkan perhatian (deception) agar rakyat tak berpikir politik dan tidak berpolitik praktis, modusnya dilempar sebuah ‘permainan’. Permainan itu dulu bernama Porkas, misalnya, atau SDSB —varian perjudian— dan lain-lain. Betapa canggih. Selain pemerintah bisa menarik pungutan dari hal ilegal (judi) guna membiayai program kegiatan (olahraga), juga yang paling utama — warga masyarakat cenderung lupa bahkan abai terhadap dinamika politik. Sebagian besar publik apolitik. Hari-harinya sibuk meramal mimpi serta asyik memasang lotre. Nyaris tidak ada gejolak politik yang berarti dikala Porkas dan/atau SDSB diizinkan beroperasi.
Kalau sekarang —era reformasi— terutama sejak 2004, ‘permainan deception‘ oleh rezim (sistem dan aturan) malah lebih canggih ketimbang Orde Baru. Mainan yang dilempar ke publik bukan lagi perihal judi dan hal-hal ilegal, namun hal legal bahkan konstitusional melalui sistem negara yakni one man one vote. “Satu orang satu suara”. Ini model demokrasi ala Barat dalam election alias pemilu. Model demokrasi paling tren di abad ke-21.
Akan tetapi, ketika demokrasi impor tersebut dipraktikkan di negara yang belum matang berdemokrasi, dipastikan akan ada dampak (ikutan) negatif. Sudah tentu. Faktanya, selain one man one vote cuma sekadar hura-hura politik berbiaya tinggi, “pesta rakyat”, ia juga bisa berubah jadi malapetaka bagi bangsa dimaksud jika one man one vote bertabrakan dengan kearifan lokal alias local wisdom. Memang tampak gaduh dan mewah di atas permukaan, tetapi miskin substansi. “Politik glamor.” Kegaduhan demokrasi (impor) tidak menyentuh ke kepentingan rakyat/nasional.
Dalam one man one vote, contohnya, rakyat diajak ikut ke ranah politik. Seolah-olah turut berpartisipasi dalam dunia politik, padahal di- plekotho. Sekali lagi, one man one vote memposisikan rakyat ‘dikerjain’ habis-habisan (plekotho), atau dimanfaatkan dalam makna negatif.
Contohnya, bagaimana?
Pada praktik operasional one man one vote, setelah tahap pencoblosan di TPS selesai, rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi justru tidak bisa lagi menitipkan suaranya. Bahkan saluran untuk menyampaikan aspirasi pun sulit diperoleh. Ini sama saja plekotho. Bagaimana tidak, semua hak-hak rakyat sebagai ‘pemilik saham’ di republik ini dikooptasi partai politik (parpol). Geblek. Maka menjadi wajar bila sekarang marak apa yang disebut dengan istilah ‘parlemen jalanan’. Demonstrasi, misalnya, atau unjuk rasa dalam keseharian. Atau, penggaduhan melalui media sosial menjadi cara baru menyampaikan uneg-uneg agar didengar para elit dan pengambil kebijakan. Banyak contoh di berbagai aspek. No viral, no justice. Hal itu representasi atas kemacetan aspirasi rakyat kepada para wakilnya di parlemen, termasuk terhadap institusi pelayanan lain seperti penegakkan hukum misalnya, atau program infrastruktur daerah yang pating blang-blonteng seperti jalan di Lampung, dan lain-lain.
Jujur kudu diakui, bahwa Kedaulatan Rakyat kini telah dibajak para elit politik dan ketua parpol, karena setelah warga memberi suaranya di TPS, aspirasi pun wassalam. Para wakil rakyat lebih takut kepada ketua partai daripada rakyat —pemilik saham— sebagaimana guyon parikeno satu diantara anggota PDI-P, tatkala RDP antara Komisi III dengan jajaran Kemenko Polhukam terkait transaksi mencurigaikan ratusan trilun rupiah di Kemenkeu.
Inilah permainan biadab yang dikemas dengan cara modern, ngetren, dan aktual, berbasis UUD NRI 1945, konstitusi hasil amandemen empat kali terhadap UUD 1945 (Naskah Asli). Kenapa begitu, sekali lagi — bahwa hak rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi dibajak oleh parpol secara biadab melalui tata cara seolah-olah beradab.
Memang, diwaktu amandemen sesi ke-4 (2002) UUD 1945, status MPR selaku Lembaga Tertinggi Negara diturunkan menjadi Lembaga Tinggi Negara setingkat BPK, MK, DPR dan lain-lain. Gilirannya, MPR kini tidak lagi berwenang menerbitkan Ketetapan/TAP MPR yang bersifat regeling alias mengatur; tidak ada lagi GBHN (politik rakyat); tidak memiliki Mandataris MPR. Presiden hanya petugas partai, bukan petugas rakyat/negara; dan bila presiden melanggar konstitusi, terbentang mekanisme panjang untuk impeachment atau Sidang Istimewa dan lain-lain.
Inilah satu diantara dampak buruk ketika Kedaulatan Rakyat dibajak oleh entitas yang tidak berhak. Partai politik memang pilar-pilar yang menopang berdirinya sebuah negara, tetapi hakiki pemiliknya ialah rakyat. Melalui partai, aspirasi rakyat diakomodir lalu dijadikan program dan kebijakan negara dalam bentuk GBHN yang berorientasi kepada rakyat. Hari ini, silahkan lihat sendiri akibat ketiadaan politik rakyat alias GBHN. Banyak kebijakan bahkan terbit UU yang orientasinya bukan kepada rakyat, tetapi cenderung atas ‘pesanan’ partai, dan berpihak ke kaum pemodal yang ikut membiayai proses kampanye, misalnya, atau pemenangan ketika copras-capres, dan lain-lain.
Jadi, menurut saya, one man one vote di Tanah Air itu permainan biadab namun dikemas dengan tata cara beradab. Entah sampai kapan.
Tamat
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaPergeseran Paradigma Kepemimpinan Dari Masa Ke MasaSelanjutnyaPrabowo, Anies dan Oligarki

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents