Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

“Dwi FungsiDwi Fungsi” Tentara Dalam Sejarah

Rusman

Rusman·13 Oktober 2025·4 menit baca

Bagikan
“Dwi Fungsi” Tentara Dalam Sejarah

“Pada kerajaan tradisional, bukan saja tidak ada perbedaan antara kekayaan pribadi dan kekayaan umum, tetapi juga perbedaan fungsi antara jabatan militer – tempat kebanyakan elite politik berasal – dan jabatan pengumpul pajak, penggerak tenaga manusia untuk kerja bakti, atau pekerjaan administratif lain.”

Kebanyakan dinasti didirikan – dan dipertahankan – dengan kekerasan. Di abad ke-18 Voltaire mengatakan, raja pertama kali adalah seorang tentara – dan bukan pilihan Tuhan seperti ideologi di Eropa waktu itu mengatakannya. Kerajaan di Indonesia, baik yang maritim maupun yang pedalaman, ynng berdasarkan ekonomi pertanian, menunjukkan pula pentingnya senjata dalam fungsi itu.

Dalam sejarah Indonesia kita mengenal Ken Arok (abad ke-13), nenek moyang pertama raja-raja Singasari dan Majapahit, yang (tidak ditutupi oleh babad-babad) memulai kariernya sebagai kepala perampok. Raja pertama Mataram Islam (akhir abad ke-16) bergelar Senopati (Pemimpin Perang). Karier kekerasan Iskandar Muda dari Aceh (abad ke-17) sangat terkenal. Kerajaan-kerajaan maritim yang kecil, oleh sumber-sumber kepustakaan Portugis atau Belanda sering disebut “negara-negara bajak laut”.

Padahal, kekuatan Barat di Asia, dari Portugis sampai kompeni-kompeni perdagangan bertindak sebagai perompak dengan politik blokade dan penenggelaman kapal-kapal dagang yang bukan dari mereka atau dengan pendudukan pelabuhan dan pengusiran raja-rajanya – seperti dilakukan VOC terhadap Pangeran Jacatra (1629), atau Portugis terhadap Malaka (1511).

Dengan singkat, di masa lampau, antara politik, perdagangan, perompakan laut, usurpasi kekuasaan, dan perampokan, hampir tidak ada pemisah. Toh dalam zaman modern ini orang sering lupa bahwa salah satu jalan paling cepat bagi mobilitas sosial, dan yang masih sering dipakai, adalah jalan kekerasan. Dahulu, raja menjadi maharaja dengan ekspansi militer dan bukan pembangunan ekonomi. Orang biasa (wong cilik) yang berambisi besar, menjadi perampok. Dan, kalau berhasil, ia dapat menjadi senapati.

Kerajaan di Indonesia sering mengangkat seorang perampok menjadi lurah ataupun bupati/gubernur/penguasa lokal karena telah membuktikan dirinya dapat mengumpulkan upeti banyak dan dapat menguasai daerah, artinya juga dapat mengamankan wilayahnya. Prinsip kebijaksanaan semacam ini menurut Soemarsaid Moertono, sarjana ilmu politik kerajaan tradisional, juga dipakai untuk menangkap maling (dengan maling). Kepala pemberontak (politis) dan gembong perampok (kriminal) samar sekali perbedaannya di masa lalu.

Penggunaan kekerasan bagi kerajaan menjadikan tentara unsur utama elite politik atau elite berkuasa. Kawan-kawan seperjuangan pendiri dinasti menjadi inti kaum priayi pada kerajaan Jawa. Raja Mataram, Senapati, seperti semua raja sebelumnya, mengklain pemilikan seluruh tanah Jawa dan kedudukan sebagai Lord of Life – artinya tenaga kerja.

Dalam masyarakat primitif seperti kalangan pemburu, binatang yang bisa dibunuh si pemburu menjadi miliknya. Demikian juga dalam masyarakat tradisional, harta yang ditaklukan si pemenang (entah dalam perang atau dalam intrik politik) menjadi kepunyaannya. Ungkapan paling sempurna dari konsep ini adalah bahwa raja, sang pemenang utama, adalah pemilik semua tanah, harta, dan nyawa.

Tentu, raja tanpa kawan-kawan seperjuangan tidak dapat merebut kedududukannya; jadi layak sekali kalau raja lalu membagi-bagikan rezeki kepada elite ini. Inilah prinsip sistem lungguh: raja membagi-bagikan tenaga kerja (cacah = keluarga petani) dan tanah kepada para priayi, atau di daerah maritim membagikan kedudukan seperti syahbandar yang memungut bea dari kapal, atau saham perdagangan kepada para orang kaya.

Pada kerajaan tradisional, bukan saja tidak ada perbedaan antara kekayaan pribadi dan kekayaan umum, tetapi juga perbedaan fungsi antara jabatan militer – tempat kebanyakan elite politik berasal – dan jabatan pengumpul pajak, penggerak tenaga manusia untuk kerja bakti, atau pekerjaan administratif lain.

Lain dari itu, elite penguasa Indonesia pada kerajaan tradisional, kecuali sang raja, biasanya tidak turun-temurun. Prinsip penguasa yang dapat dipecat menunjukkan bahwa elite politik Indonesia adalah elite jabatan (sevice nobility): seorang penguasa yang kehilangan jabatannya, penghasilannya kembali kepada raja. Sering pewarisnya diangkat kembali ke jabatan yang ditinggalkan, tetapi tidak selalu, sehingga ada juga keluarga-keluarga priayi tinggi yang akhirnya jatuh miskin atau kembali sebagai wong cilik.

Karena yang di atas itu, maka ada daya tarik kuat antara harta dan politik, atau antara orang beruang, seperti pedagang, finansir, pengusaha, di satu pihak, dan golongan penguasa politik di pihak lain. Golongan pertama memerlukan fasilitas usaha dan jaminan hak milik, sedangkan pihak lain memerlukan keuangan untuk program politik dan kekuasaan. Antara kedua pihak ini sering terjadi ketegangan dan konflik juga, tentu, karena baik modal maupun kekuasaan sering memiliki dinamikanya sendiri.

Misalnya, dalam hal tanah; petani yang ditaklukkan atau lungguh priayi yang jatuh, yang hartanya dapat disita raja demi kepentingan politik, demi keserakahan, atau hal lain. Menurut laporan-laporan Barat, harta para pedagang besar di kerajaan-kerajaan Indonesia – baik pesisir maupun pedalaman – tidak aman dari hak sita raja. Hal yang sama berlaku pula di Eropa di Abad Pertengahan, abad ke-8 sampai abad ke-15.

Oleh: Onghokham
Sumber: TEMPO, 12 Oktober 1985

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSejarah, Kekuasaan dan AmnesiaSelanjutnyaRatu Belanda

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents