About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitics

Belajar Dari Cina dan India Memanfaatkan Senjata Nonmiliter Menghadapi Perang NirmiliterPerang Nirmiliter Asing

Hendrajit

Hendrajit·4 September 2024·4 min read

Share
Belajar Dari Cina dan India Memanfaatkan Senjata Nonmiliter Menghadapi Perang Nirmiliter Asing

Dalam Sistem Perang Rakyat Semesta yang bertumpu pada pemberdayaan dan pendayagunaan sarana-sarana nonmiliter, setidaknya ada enam sumber kekuatan nonmiliter yang bisa menjadi obyek pemberdayaan, yaitu  sumberdaya manusia, sumber kewenangan (otoritas), pengetahuan dan ketrampilan; aset tidak kasat manta (intangible), sumberdaya manteriil, dan kemampuan penegakan hukum yang secara akumulatif melalui sistem perencanaan dan sistem penggunaan akan memberikan kepada negara  dan bangsa kapasitas  kekuatan untuk melakukan penangkalan  dan pertahanan  menghadapi ancaman nonmiliter.

Dalam kasus Cina, sumber kekuatan nonmiliter dalam Sistem Pertahanan Rakyat Semesta Nonmiliter yang didayagunakan antara lain Sumber Daya Manusia dan Pengetahuan-Ketrampilan. Tentu saja yang dimaksud Sumberdaya Manusia adalah penduduknya yang berjumlah 1,3 miliar. Namun selain itu juga diikuti dengan penguatan kualitas pengetahuan dan ketrampilan.

(Silahkan baca Suryanto Suryokusumo, Konsep Sistem Pertahanan Nonmiliter, Suatu Sistem Pertahanan Komplemen Sistem Pertahanan Militer Dalam Pertahanan Rakyat Semesta. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016).

Kisah keberhasilan Republik Rakyat Cina (RRC) dalam mengembangkan Strategi Pertahanan Rakyat Semesta Nonmiliter, kiranya bisa jadi sumber inspirasi bagi negeri kita. Pada 1999 dua orang perwira senior RRC Qiao Liang dan Wang Xiangsui menulis buku yang cukup menggugah bertajuk Unrestricted Warfare China’s Master Plan to Destroy America. Menurut kedua perwira senior itu, RRC tak mungkin melawan AS dengan adu kekuatan bersenjata , lantaran kemajuan teknologi persenjataan Cina masih ketinggalan 20 tahun dibandingkan Amerika.

Konsep Sistem Pertahanan Nonmiliter : Suatu Sistem Pertahanan Komplemen Sistem Pertahanan Militer Dalam Pertahanan Rakyat Semesta

Dengan menerapkan falsafah, tidak akan menyerang musuh dengan cara yang diungguli musuh, pemerintah RRC menerapkan strategi melawan Amerika dengan cara nonmiliter. Lantas, apa sumber kekuatan nonmiliter yang digunakan pemerintah RRC sebagai obyek pemberdayaannya? Ternyata cadangan devisa  RRC yang saat ini berkisar antara 2,5 hingga 3 triliun dolar AS hasil kemajuan pesat perekonomian Cina, menjadi senjata nonmiliter untuk menangkal berbagai ancaman dari negara manapun yang bakal mengganggu kepentingan nasionalnya termasuk Amerika.

Nampaknya dengan fakta bahwa cadangan devisa Cina saat ini mencapai 2,5 hingga 3 triliun dolar AS, kekuatan ekonomi merupakan sumber kekuatan nonmiliter yang berhasil didayagunakan pemerintah Cina untuk menunjang program pengembangan kemajuan teknologi senjata militernya. Apalagi sejak era Deng Xiaoping pada akhir 1970an menggantikan Mao Zhe Dong, telah mencanangkan Program Empat Modernisasi yang mengintegrasikan Pertanian, Industri, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Militer. Sehingga kemajuan pesat bidang ekonomi Cina, termasuk cadangan devisanya yang sangat besar itu saat ini, sejatinya merupakan buah dari Program Empat Modernisasi Cina tersebut.

Sehingga meskipun dalam analisis dan estimasi Qiao Liang dan Wang Xiangsui pada 1999 lalu Cina masih ketinggalan 20 tahun dibanding Amerika, namun saat ini kekuatan militer Cina sudah mampu menanding kekuatan bersenjata Amerika. Meskipun AS relatif masih lebih unggul, namun kekuatan militer Cina saat ini sudah mampu mengungguli negara-negara di Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Lantas bagaimana dengan India di kawasan Asia Selatan saat ini? Sejak 1978 hingga 2005, perekonomian India maju pesat. Dari 10 miliar dolar pada 1978, ekspor dan impor barang dan jasa berhasail mencapai 188 miliar dolar AS. Menariknya lagi, sejak 1990an menerapkan liberalisasi ekonomi, India muncul sebagai negara utama dalam bidang teknologi dan informasi maupun komunikasi, dengan pertunbuhan rata-rata 6,0 persen setahun.

Alhasil, sejak 2002 India mulai mampu mensejajarkan diri dengan Cina sebagai negara adidaya di bidang ekonomi. Satu lagi sumber kekuatan nonmiliter India selain di bidang teknologi dan informasi adalah industri film yang mengalami kemajuan yang cukup fenomenal. Standar pendidikan India juga punya standar dunia. Bukan itu saja. Sejak 1990an ada sekitar 60 ribu pakar perangkat lunak India menyerbu Amerika layaknya serbuan militer.

Apa contoh ancaman non-militer terhadap integrasi nasional dari berbagai dimensi? Kita bahas bersama-sama, yuk!

Bahkan menurut prediksi para analis dari JP Morgan, dengan penduduk yang mayoritas berusia muda dan berpengetahuan tinggi, maka dalam 20-30 tahun mendatang India diprediksi akan unggul dalam pelayanan Teknologi Informasi atau berbasis pengetahuan dengan layanan jarak jauh.

Indonesia dan Asia Tenggara Harus Belajar dari Success Story Cina dan India

Learning point bagi Indonesia dengan menelaah keberhasilan Cina dan India mendayagunakan salah satu sumber kekuatan nonmiliter-nya adalah, bahwa kedua negara besar di Asia tersebut mampu mengenali karakteristik geografis dan sumberdaya manusia-nya dengan sangat mendalam. Sehingga menghayati betul kekuatan dan kelemahannya. Cina misalnya, menyadari betapa pentingnya Lintasan Jalur Sutra yang menghubungkan Asia ke Eropa via Utara  maupun via Selatan, kemudian didayagunakan oleh pemerintah Cina dengan menggulirkan Silk Road Maritime Initiatives (Prakarsa Jalur Sutra Maritim) sebagai Strategi Nasional, yang kemudian dikembangkan menjadi Program One Belt One Road (OBOR) dan Belt and Road Initiative (BRI0), yang gagasan dasarnya adalah mengaitkan kerja sama ekonomi dan perdagangan antar-bangsa dengan konektivitas geografis yang berada dalam lintasan jalur sutra.

Maka itu dalam membangun secara sistematis pertahanan nonmiliter harus didesain sesuai dengan karakter kolektif bangsa Indonesia sendiri. Sistem Pertahanan Nonmiliter Bangsa Indonesia harus berakar pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Tak ada salahnya mempelajari kasus-kasus pertahanan nonmiliter beberapa negara di pelbagai belahan dunia, seperti dalam kasus Cina dan India tersebut tadi. Seperti ungkapan dari Ki Hajar Dewantara dan Ki Mohammad Said: “Kekuatan Rakyat adalah sumber dari kekuatan negara. Artinya, kekuatan pertahanan nonmiliter dibangun dari potensi kekuatan sosial dan politik yang terkandung pada masyarakat.

Melalui suatu ketrampilan, kekuatan tersebut dapat dimanfaatkan dan digunakan tidak hanya untuk menghancurkan penindasan atau tirani, tetapi juga untuk menangkal dan mengalahkan agresi dengan efektif dalam rangka pertahanan nonmiliter.

Di sinilah pentingnya mempelajari, mendalami dan menghayati Geopolitik Sebagai Ilmunya Ketahanan Nasional. Baik untuk Pemetaan Kondisi Fisik Lingkungannya maupun karakter kolektif masyarakatnya, Pemetaan Sumberdaya Manusia-nya, Pemetaan Sumberdaya Alam-nya, dan Pemetaan Lokasi Geografisnya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousSistem Aliansi QUAD Tidak Efektif, AS Bebas Hambatan Menata Arsitektur Pertahanan Regional Asia PasifikNextRevolusi Warna di Indonesia dan Upaya Asing Melestarikan Liberalisasi Konstitusi

More in Geopolitics

View all
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analysis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents