About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

Ganis

Rusman

Rusman·5 May 2026·3 min read

Share
Ganis

Catatan Pinggir
(TEMPO, No. 10, Tahun XV, 4 Mei 1985)

Di tahun 1966 ada sebuah pamflet dengan gambar seekor anjing yang ganjil. Kepala binatang itu berbentuk kepala manusia. Ia mengenakan kaca mata. Wajahnya terkenal, dan di bawahnya tercantum dua patah kata: “Anjing Peking”. Sebuah makian, tentu.

Yang dituju oleh pamflet itu – dengan kejengkelan yang juga diteriakkan para mahasiswa yang berdemonstrasi di jalan-jalan menentang pemerintah waktu itu – adalah Dr. Subandrio. Menteri luar negeri ini, yang juga menguasai sebuah badan inteligen, di samping kedudukannya sebagai wakil perdana menteri pertama, bukanlah tokoh yang populer. Entah kenapa dia dibenci banyak orang.

Tapi makian “Anjing Peking” dan pamflet itu, saya kira, pada akhirnya tak dibidikkan kepadanya pribadi. Teriakan itu, karikatur keras itu, adalah ungkapan lebih dari satu kemarahan. Barangkali tiga kemarahan.

Ada kemarahan kepada PKI. Ada kemarahan kepada pejabat-pejabat yang ambisius, yang penuh intrik di Istana, dengan pendirian yang tak jelas. Ada kemarahan, mungkin juga kecurigaan yang runcing tajam kepada RRC.

Peking, di hari-hari itu, memang bukan sebuah negeri impian setiap orang. Tapi kemarahan sudah barang tentu bukan api yang baik untuk menerangi persoalan. Kini, untunglah, hampir 20 tahun setelah karikatur tentang Subandrio itu, banyak emosi telah reda. Mungkin karena itu kita sudah punya waktu, dan kepala sejuk, untuk menelaah kembali sejarah – dan membaca, misalnya, memoar Ganis Harsono.

Ganis, yang kini sudah meninggal, bukan tokoh yang tersohor pada masa lalu. Ia hanya dikenal baik oleh kalangan diplomat dan wartawan asing karena ia pernah jadi juru bicara pemerintah yang cakap. Dalam posisi itu, ketika Indonesia – di bawah Bung Karno dan Subandrio – sibuk dengan urusan politik luar negeri, Ganis praktis orang “lini depan”. Karena itu, pejabat tinggi Deparlu ini bisa bicara banyak tentang masa itu. Juga tentang hubungan Indonesia dengan Cina.

Bagi saya, yang menarik dari memoar berbahasa Inggris yang terbit di Australia itu, dengan judul Recollections of an Indonesian Diplomat in the Sukarno Era, adalah dua bab terakhir dengan kenangan penting di dalamnya.

Kenangan itu mungkin tak sepenuhnya u- tuh dan bersih. Sebuah memoar memang bukan sebuah buku sejarah. Tapi yang pasti, cerita Ganis ternyata tak sepenuhnya mendukung persangkaan-persangkaan yang beredar tahun 1966 dan sesudahnya tentang kemesraan hubungan Jakarta-Peking. Ganis misalnya berkisah tentang “konfrontasi”- nya dengan Marsekal Hoe Loeng, wakil menteri luar negeri Cina waktu itu, pada bulan Januari 1965 di Peking.

Indonesia waktu itu sedang mimpi besar untuk menandingi PBB dengan gagasan Conference of the New Emerging Forces, yang terdiri dari negeri-negeri yang baru muncul tapi membutuhkan di dalamnya Uni Soviet. RRC, sebaliknya, tak tampak antusias. Di depan Subandrio, Menteri Luar Negeri Zhou En-lai tetap mengutuk Moskow. Dan Hoe Loeng, wakilnya, mengulur-ulur tercapainya persetujuan tentang prosedur, hingga Ganis meledak marah dan seorang diplomat muda Indonesia yang sudah menonjol waktu itu, Alex Alatas, berkata geram “Mas Ganis; Ik word er gek van!”

Diplomat-diplomat Indonesia bisa jadi gila menghadapi orang macam Hoe Loeng, tapi Bung Karno punya strategi lain. Ia membutuhkan Cina. Tapi, seperti diceritakan oleh komandan pengawal Istana, Brigjen Saboer, kepada Ganis pada suatu hari menjelang 1965, Bung Karno ingin membuat Indonesia punya orbitnya sendiri – bukan di bawah orbit Amerika, orbit Soviet ataupun orbit Cina. “Bapak”, kata Saboer kepada Ganis (dan yang ia maksud “Bapak” tentu saja Bung Karno), ingin menunjukkan bahwa “Jakarta layak menjadi pusat keempat di dunia”.

Satu impian menggelembung, memang. Ganis sendiri tentu tak menilainya demikian: ia seorang yang loyal kepada ide-ide Bung Karno. Meskipun ia tak menyembunyikan kekecewaannya, ketika menjelang pertengahan akhir 1965, Bung Karno kian menjauhi Subandrio, dan bahkan memilih untuk mempergunakan naskah tokoh PKI Nyoto ketimbang naskah yang disiapkan Ganis buat peringatan 10 tahun Konperensi Asia Afrika.

Lalu, peristiwa-peristiwa pun susul-menyusul. “Orde Lama” hilang, “Orde Baru” datang, dan banyak tokoh meninggal, datang, pergi, datang, pergi. Yang agaknya tetap adalah keinginan itu: dengan atau tanpa “Anjing Peking”, Indonesia memang teramat sukar untuk jadi piaraan yang jinak dalam tatanan bangsa lain.

Goenawan Mohamad 

Sumber: TEMPO, No. 10, Tahun XV, 4 Mei 1985

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBedah Buku “Politik Kesetaraan” Karya Heiner BielefeldtNextKartun Opini Khas Sudi Purwono – Bagian 2

More in Culture

View all
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents