About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

Laporan HazeuHazeu

Rusman

Rusman·1 April 2026·4 min read

Share
Laporan Hazeu

Oleh: Fachry Ali
(TEMPO, No. 5, Thn. XVI, 31 Maret 1984)

Andai G.A.J. Hazeu melihat sendiri dengan mata kepala, yang pertama menarik perhatiannya tentu kumis melintang yang bergerak-gerak cepat di atas bibir lelaki setengah baya yang sedang berpidato itu. Tapi laporan yang diberikan kepada G.G. van Stirum setebal 87 halaman itu adalah laporan resmi. Jabatannya sebagai waarnemend advisuer voor Inlandsche zaken (pejabat penasihat Kantor Urusan Bumi Putra) tidak memungkinkannya membuat laporan kenes. Dan kumis melintang, bagai yang dimiliki Jampang, lepas dari catatan. Padahal kumis itu salah satu ciri khas sang orator dan agitator ulung ini.

Hazeu memang seorang Belanda. Karena itu, bagaimanapun progresif pandangannya terhadap bumi putra, ia tetap bias dengan pemerintah kolonial. Toh ia masih mampu bersikap jujur.

“Pada umumnya, para utusan mengikuti pembicaraan-pembicaraan dengan perhatian,” tulisnya kepada Gubernur Jenderal Linburg Stirum, 29 September 1916. “Tampak ada perhatian besar, kesungguhan, dan tertib. Pimpinan rapat yang dipegang Ketua Tjokroaminoto cukup baik.”

Laporan itu juga menyebutkan suasana kongres, yang ditandai dengan perdebatan-perdebatan sengit tapi dengan nada yang beradab. Sang Ketua memang berhadapan dengan serangan tokoh-tokoh nasionalis lainnya. Sebut saja Abdoel Moeis, Hasan Djajadiningrat, Ardiwinata, Moh. Joesoef, dan Said Hasan bin Semit, lingkaran kepemimpinan Bumi Putra yang oleh Hazeu disebut orang-orang cakap dan berpengetahuan luas.

Kita tahu, mereka termasuk kelompok nasionalis radikal. Namun, demikianlah Hazeu memperlihatkan penilaiannya yang jujur, “kesengitan perdebatan itu selalu berakhir dengan persetujuan”. Tjokroaminoto dianggap cukup cakap mengendalikan pergolakan dengan satu atau beberapa ucapan yang tepat.

Sekalipun Indonesia telah merdeka selama 38 tahun, laporan Hazeu sebenarnya tetap terdengar aneh. Sebab dalam Kongres Nasional Sentral Sarekat Islam yang pertama itu, H.O.S. Tjokroaminoto tak lain tak bukan sedang membakar rakyat untuk berjuang mendapat pemerintahan sendiri.

“Kita cinta bangsa sendiri,” teriaknya lantang di atas podium kepada ribuan massa di Bandung 17 Juni 1916 itu. “Dan dengan kekuatan agama kita, agama Islam, kita berusaha mempersatukan bangsa kita, atau sebagian besar dari bangsa kita. Karena itu, kita tidak takut meminta perhatian atas segala sesuatu, yang kita anggap baik, dan menuntut apa saja, yang dapat memperbaiki bangsa kita, tanah air kita, dan pemerintah kita.”

Dan, dengan suara yang lebih lantang, ia menggemakan tuntutan yang agak aneh terdengar waktu itu. “Tidak boleh terjadi lagi, bahwa dibuat undang-undang untuk kita, bahwa kita diperintah tanpa kita, dan tanpa ikut serta dari kita!”

Sorak pun bergema, menggetarkan alun-alun besar – yang karena dipadati massa menjadi sempit. Dan itu hanya menyebabkan Tjokroaminoto semakin bersemangat. Ia melanjutkan, “Tidak patut lagi Hindia diperintah oleh Nederland. Tidak patut lagi memandang Hindia sebagai sapi perahan, yang hanya mendapat makan karena susunya!”

Sesungguhnya, suara Kongres Nasional Sentral Sarekat Islam ini bukanlah satu-satunya gema yang gelisah. Hampir berbarengan dengan tahun-tahun itu nada tuntutan yang sama kerasnya bergaung di sana-sini. Sejak 1908 sampai dengan 1916 bermunculan kelompok- kelompok nasionalis – berlatar belakang sosial ekonomis yang berbeda dengan tujuan sama.

Dalam tahun-tahun itu lahir Boedi Oetomo, Sarekat Dagang Islam (di Bogor, kemudian didirikan lagi di Surabaya), Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) di bawah pimpinan Sneevliet, Brandsteder, dan Douwes Dekker, Pasoendan (mendapat rechtspersoon, badan hukum, Desember 1914, padahal baru berdiri Mei tahun itu), Tri Koro Dharmo yang kemudian disebut Jong Java, dan kelompok-kelompok lain sejenis.

Dengan demikian kritik-kritik pedas Tjokroaminoto hampir merupakan kritik umum kaum nasionalis yang menekan pemerintah kolonial. Namun keanekaragaman kelompok pejuang ini – dengan dasar-dasar yang berbeda pula – yang menuntut lenyapnya pemerintahan Belanda masih dianggap wajar. Ini terlihat dari laporan Hazeu.

Dia menyebutkan betapa perlunya perubahan kebijaksanaan, karena zaman telah berubah. Rakyat Bumi Putra harus dianggap sebagai manusia, tidak – sebagaimana masa lalu – dipandang seperempat atau setengah manusia. Mereka harus diperlakukan sebagai warga negara yang merdeka dan penuh.

Tentang Sarekat Islam, organisasi rakyat terbesar itu – yang karenanya merupakan kekuatan alternatif bagi pemerintah Belanda – Hazeu menilainya sebagai penjelmaan kesadaran rakyat, yang pada umumnya setia. “Karena itu,” begitu laporannya lebih lanjut, “meskipun kita mau dan mampu membubarkan pergerakan itu, perasaannya, nada jiwa yang dihidupkan, tidak dapat dihancurkan dengan kekerasan.”

Tidak seperti Hurgronye, yang menasihatkan kebijaksanaan westernisasi untuk membelandakan bumi putra – yang melahirkan hasil sebaliknya – nasihat Hazeu terbukti. Kekerasan yang dilaksanakan pemerintah tidak mampu menekan gejolak bumi putra untuk merdeka.

Tiga puluh delapan tahun Indonesia merdeka, pandangan yang berani menangkap struktur realitas ini toh masih langka.

Sumber: TEMPO, No. 5, Thn. XVI, 31 Maret 1984

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMoloku Kie Raha Primadona Dunia: Dari Jalur Rempah ke Jalur Energi yang Menentukan Masa Depan DuniaNextBerita Penjelasan Di Balik Bocoran Dokumen Soros: False Flag Operation atau Covert Reconnaissance Operation?

More in Culture

View all
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents