Merosotnya Hegemoni Global AS di Timur Tengah


Membaca perkembangan dunia internasional terkini, kawasan Timur Tengah paling menarik perhatian saya menyusul serangan militer AS-Israel ke Iran pada awal Februari 2026 lalu. Bahwa serangan militer AS ke Iran justru menghasilkan efek merusak dan merugikan alih-alih keuntungan strategis buat AS. Kombinasi antara buruknya kepemimpinan politik Presiden Donald Trump dan kegagalan dalam memahami dinamika geopolitik kawasan Timur-Tengah, dan Iran pada khususnya, Washington saat ini praktis kehilangan keunggulan pengaruh strategisnya di Timur Tengah.
Pengaruh AS di Timur Tengah semakin menurun oleh sebab krisis sistemik dalam strategi kebijakan luar negerinya yang cenderung memaksakan pemberlakuan model demokrasi ala Barat yang berbasiskan pemerintahan kabinet parlementer multi-partai, atau sistem pemilihan presiden langsung ala demokrasi AS. Kecenderungan pemerintah AS mengabaikan pertimbangan sosial-budaya lokal dan realitas geopolitik kawasan Timur Tengah, pada perkembangannya menyebabkan merosotnya pengaruh global AS di kawasan ini.
Kasus Iran merupakan bukti nyata. Meski berupaya memaksakan kehendaknya untuk mengubah sistem politik Republik Islam Iran yang diberlakukan oleh Ayatullah Khomeini pada 1979 lalu melalui serangan militer, namun hingga kini gagal dalam mewujudkan tujuan intinya, yaitu transformasi sistem sosial-politik Republik Islam Iran.
Baca sebagai rujukan pembanding:
America Has Lost the Arab World
Meskipun kekuatan militer AS dapat menciptakan daya rusak yang cukup parah, menghancurkan fasilitas, dan menguras habis sumberdaya keuangan Iran, namun hal itu tetap saja gagal memaksakan transformasi ideologis dan politis Iran.
Sebaliknya efek strategis yang menimpa AS justru lebih sistemik dan massif. Mengguncang pasar energi dunia, membengkaknya biaya ekonomi pada gilirannya mengguncang sistem keuangan internasional, Terguncangnya sistem keuangan global pada gilirannya akan mengguncang tataan global secara secara fundamental yang mana Washington dan London merupakan pemain-pemain intinya sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Paradoks bukan? Unggul secara militer namun ujung-ujungnya malah meminta konsesi lewat negosiasi agar supaya bisa mengendalikan situasi dan konstelasi global ketika sebelum AS-Israel memutuskan melancarkan sernagan militer ke Iran.
Dalam setiap penyusunan rencana strategis ketika kemudian menjelma menjadi operasi dan aksi, seringkali menimbulkan dialektika. Sesuatu yang semula jadi tujuan, pada akhirnya malah menghasilkan efek yang sebaliknya. Sekedar ilustrasi, keputusan Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyerang Iran awal Februari 2026, setidaknya bertumpu pada dua fondasi pertimbangan strategis yang rapuh.

Foto: AHMAD AL-RUBAYE/AFP via Getty Images
Pertama, AS dalam memutuskan serangan militer ke Iran, mengabaikan pentingnya validasi moral sebagai legitimasi untuk membenarkan serangan militer. Kedua, mengabaikan dinamika konstelasi gepolitik Timur Tengah pada umumnya. Mengabaikan arsitektur kekuasaan kawasan Timur Tengah sebagai ruang geografis dan lokasi geografis. Artinya, mengabaikan dinamika sosial-budaya negara-negara di kawasan Timur Tengah yang meskipun berbeda strategi dalam menghadapi negara-negara adikuasa seperti AS, Rusia dan China, namun ada sentiment nasionalisme Arab yang sejak era 1950an hingga kini tetap tak kunjung padam.
Baca juga:
The United States Lost Both the War and the Negotiation
Dalam segi lainnya, pengaruh AS di kawasan Timur Tengah juga semakin merosot menyusul kegagalan tentara AS melindungi negara-negara Arab sekutu AS seperti Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab, dari serangan militer Iran ke beberapa kilang minyak negara-negara Arab tersebut. Sehingga kapasitas produksi minyak negara-negara minyak seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab, merosot drastis. Bahkan Uni Emirat Arab, produksi minyaknya terhenti.
Lebih daripada itu, negara-negara Arab tersebut sejak 1973 hingga kini, bukan saja sekutu AS-NATO, bahkan sangat bergantung pada Sistem Pertahanan AS. Namun dengan keberhasilan serangan militer balasan Iran ke beberapa pelabuhan dan kilang minyak negara-negara Arab sekutu AS tersebut, sekrang mulai muncul keraguan terhadap kemampuan dan kecanggihan sistem pertahanan militer AS itu sendiri dalam melindungi negara-negara sekutunya di Timur Tengah.
Alhasil, menurun dan merosot lah citra global AS sebagai kekuatan hegemoni global di Timur Tengah. Akankah ini pertanda awal runtuhnya Tatanan Timur Tengah yang dibangun AS? Merespons pertanyaan strategis ini, kita harus menelisik persekutuan AS dengan Israel, setidaknya sejak Perang Teluk Pertama pada 1991.
Sejak 1991 secara sistematis AS membangun tatanan di kawassan Timur Tengah dengan menggunakan Israel sebagai komponen utamanya, proksi utamanya. Dengan skema itu, Washington menggunakan Israel sebagai ujung tombak kekuatan hegemoni globalnya di Timur Tengah dalam menghadapi negara-negara Arab yang anti-AS maupun negara-negara Arab yang pro Perjuangan Kemerdekaan Palestina seperti Iran dan Suriah, sebelum Presiden Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024 lalu.
Beberapa negara Arab lainnya yang anti-AS dan Israel lantaran memilih mendukung Israel daripaada terwujudnya negara Palestina merdeka adalah: Libya dan Irak. AS dengan menggunakan Israel sebagai proksi dan ujung tombak untuk menghadapi Iran, Irak, Libya dan Suriah sejak 1991 hingga kini, telah melancarkan beberapa strategi untuk melumpuhkan ketiga negara Arab tersebut. Seperti invasi militer seperti ke Irak pada 2003, pembunuhan politis beberapa pemimpin negara Arab, pembinaan kekuatan oposisi, dan pengorganisasian aksi-aksi penggulingan rezim.
Kegagalan AS menggulingkan kepemimpinan Ayatullah Khameini itulah yang kemudian memicu pemerintah AS melancarkan serangan militer ke Iran pada Februari 2026.
Namun tatanan Timur Tengah yang dibangun AS dengan model seperti itu sepertinya mulai mengalami guncangan dan keretakan dari dalam internal kawasan itu sendiri, utamanya setelah tentara AS gagal mencegah tentara Iran menyerang pelabuhan dan kilang minyak beberapa negara Arab sekutu AS.
Apalagi sebagai efek domino dari berhenti beroperasinya produksi minyak Uni Emirat Arab, Qatar dan beberapa negara kaya minyak lainnya akibat kehancuran dan kerusakan parah infrastruktur energi negara-negara Arab penghasil minya, pada perkembangannya menciptakan krisis pasokan minyak dan meroketnya harga minyak mentah, yang pada gilirannya menggucang dan mendelegitimasikan mata uang dolar AS sebagai alat transaski perdagangan internasional.
Di tengah kesemrawutan dan kekacauan internasional tersebut, merosotnya kekuatan dan pengaruh global AS di Timur Tengah semakin cepat dengan menguatnya pengaruh China dan Rusia sebagai kekuatan global alternatif di Timur Tengah. Di medan diplomasi, pemerintah China berhasil memediasi antara Arab Saudi dan Iran yang sejak tahun 1979 hubungan bilateral kedua negara semakin memburuk. Namun pemerintah China berhasil mewujudkan misi yang semula dianggap mustahil. Terwujudnya kesepakatan damai antara Arab Saudi-Iran.
Maka tak heran ketika pemerintah China berhasil menanam benih-benih kerja sama yang saling percaya dengan negara-negara Arab baik yang pro AS seperti Arab Saudi dan yang anti-AS seperti Iran, serangan militer AS-Israel ke Iran malah semakin memperkokoh lagi hubungan negara-negara Arab dan Iran dengan pemerintah China dan Rusia.
Lebih dari itu semua, persekutuan AS dengan negara-negara Arab di Timur Tengah sejak 1973 yang kemudian diperkokoh pada 1991, sejatinya bertumpu pada fondasi yang rapuh. Dalam kesejarahannya, negara-negara Arab mitra AS utamanya yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Bahrain, pada dasarnya cenderung atas dasar pertimbangan pragmatime alih-alih dukungan tanpa syarat (Unconditional Support) dalam mendukung persekutuan dengan AS dan negara-negara Eropa Barat.

MOHAMMED HUWAIS/AFP/GettyImages
Sehingga begitu fondasi yang mendasari persekutuan negara-negara Arab dengan AS mulai rapuh dan runtuh, pada perkembanganya akan menjadi faktor percepatan merosotnya kepercayaan untuk mengandalkan kemampuan militer AS dalam melindingi negara-negara Arab terhadap serangan militer dari negara-negara musuh.
Tidak efektifnya penggunaan metode untuk mengubah sistem politik negara-negara Arab secara paksa yang sesuai dengan sistem politik di AS dan Barat, terlau mengandalkan pentingnya campur tangan militer untuk mengubah rejim pemerintahan yang tidak disukai jika lewat perundingan mengalami kegagalan atau jalan buntu, bukannya makin memperkuat reputasi dan wibawa AS sebagai kekuatan hegemoni global. Reputasi dan wibawanya malah semakin menurun. Sehingga kredibilitasnya pun semakin merosot di ranah diplomasi.
Lebih parahnya lagi, metode pemaksaan kehendak untuk mengubah rejim atau memaksakan sistem politik dan demokrasi yang sesuai dengan model demokrasi ala Barat, pada perkembangannya malah memicu konflik sosial yang berkepanjangan dan berlarut-larut, yang sulit diselesaikan. Seperti di Suriah, Irak, Libya dan Lebanon. Sekadar beberapa contoh kasus.
Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.

Hendrajit
Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.


