About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Middle East

Pertemuan Antony Blinken-Netanyahu Membuka “Kotak Pandora” Operasi Rahasia AS dan Israel Gagalkan Pembentukan Negara PalestinaNegara Palestina

Hendrajit

Hendrajit·18 December 2023·4 min read

Share
Pertemuan Antony Blinken-Netanyahu Membuka “Kotak Pandora” Operasi Rahasia AS dan Israel Gagalkan Pembentukan Negara Palestina

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik pada November lalu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara frontal menuding Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menerapkan kebijakan luar negeri yang “double standards” dalam menyikapi konflik antara Israel versus Palestina.

Yang dimaksud Perdana Menteri Malaysia tersebut, dalam menyikapi konflik antara Rusia versus Ukraina yang sejak awal mendapat dukungan terbuka dari AS maupun sekutu-sekutu strategisnya yang tergabung dalam NATO, berusaha mempersuasi negara-negara berkembang untuk mendukung aksi internasional mendukung Ukraina melawan Rusia. Namun AS dan negara-negara blok Barat sama sekali tidak peduli terhadap kejahatan militer Israel membantai warga sipil di Gaza.

Ini menurut saya bukan sekadar double standar melainkan secara terang-terangan menunjukkan pemihakannya terhadap Israel alih-alih bersikap netral menyikapi konflik Arab Palestina versus Israel yang dipicu oleh keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1947 yang tidak adil. Ketika Arab Palestina yang jumlah populasinya sekitar 56 persen lebih hanya dapat bagian luas wilayah sebesar 35 persen. Sebaliknya Israel yang penduduknya hanya sekitar 35 persen dari jumlah total populasi malah mendapat luas wilayah sebesar 65 persen dan memperoleh wilayah-wilayah Palestina lahan pertaniannya subur-subur.

Sejak 1947 Inggris dan AS bersekutu merekayasa prakondisi di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menciptakan pembagian wilayah Palestina yang menguntungkan kelompok zionis Israel, sehingga pada 1948 berhasil mendeklarasikan berdirinya negara Israel secara sepihak. Maka itu sama sekali tidak heran jika AS dan Inggris bersama-sama dengan negara-negara Eropa Barat yang tergabung dalam NATO, selalu memihak Israel sebagai negara bangsa sejak berdirinya pada 1948.

Baca juga: 

Menguak Tiga Aktor Kunci Di Balik Politik Devide et Impera Inggris di Palestina

Dengan begitu sama sekali tidak mengejutkan jika pada pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyatakan bahwa HAMAS sebagai pejuang kemerdekaan Palestina merupakan bagian dari jejaring ISIS. Pernyataan tersebut tentu saja selain mengagetkan melainkan juga aneh. Bagaimana mungkin bisa berkata seperti itu padahal baru selang  5 tahun yang lalu Israel secara nyata telah menjalin komunikasi yang cukup dekat dengan anggota-anggota ISIS. Bahkan Israel memberikan bantuan senjata dan bantuan kesehatan kepada ISIS.

Halaman muka buku berjudul <i>Operasi Senyap Mossad di Dunia Arab dan Iran</i>

Pada 2018 beberapa perwira militer Israel terungkap telah membawa beberapa pemimpin militer ISIS dari provinsi Kuneitra di Suriah/Moaz Nassara dan Abu Ratep dari “Fursan Al-Golan”, Ahmad An-Nasha dari “Saif Ash-Sham,” Ala Al-Halaki dari “Jaish Ababil.”

Apa segi menarik dari serangkaian fakta-fakta tersebut? Edisi Israel “Haaretz” beberapa waktu lalu mempublikasikan informasi bahwa HAMAS telah diberi dana keuangan dari salah satu negara Eropa hingga meletusnya konflik bersenjata pada 7 Oktober 2023 lalu. Lebih lanjut menurut informasi yang dilansir “Haaretz” tersebut, Perdana Menteri Netanyahu mendesak pemberian dana kepada HAMAS untuk menciptakan prakondisi merebaknya kembali konflik bersenjata antara Arab Palestina dan zionis Israel. Sehingga pada perkembangannya gagasan dan rencana pembentukan Negara Kedaulatan Palestina tidak bisa tidak bisa dibentuk melalui cara-cara damai. Hal itulah yang kemudian Sheikh A. Yasin kemudian membentuk organisasi “Mudjama Al-Islamiyah” yang kemudian menjadi dasar pembentukan HAMAS dan mendapat bantuan dana dari Israel.

Tentu saja berita yang dilansir “Haaretz” harus tetap ditelaah secara kritis dan tidak boleh ditelan mentah-mentah. Namun informasi tersebut setidaknya cukup efektif untuk mematahkan sikap sok suci pemerintah AS ketika menuding HAMAS sebagai ISIS seolah-olah AS dan Israel bersih dari keterlibatannya dalam merancang operasi intelijen yang manipulatif dan kotor. Terlepas HAMAS terkait dengan jejaring ISIS atau tidak, namun fakta menunjukkan ada masa ketika badan intelijen AS CIA maupun MOSSAD Israel pernah terlibat dalam berbagai operasi rahasia menggalang dan mendorong aksi-aksi kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah dan Palestina pada khususnya, untuk tujuan strategis melestarikan kepentingan dan keuntungan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Kalau kita cermati meletusnya konflik bersenjata antara Israel versus Palestina menyusul aksi HAMAS pada 7 Oktober lalu, memang pada awalnya Perdana Menteri Netanyahu menggunakan dalih serangan HAMAS sebagai alasan bagi Israel untuk melancarkan tindakan militer terhadap Palestina, dengan dalih bahwa HAMAS telah melancarkan sabotase menggagalkan rencana pembentukan Negara Palestina.

Namun pada perkembangannya Israel tidak bisa mengontrol Hamas, seperti halnya juga AS ketika menjalin komunikasi dengan Al-Qaeda dengan memberikan dana dan bantuan militer untuk memerangi pasukan pendudukan Uni Soviet di Afghanistan.

Nampaknya AS dan Israel tidak belajar dari sejarah. Sehingga sejarah pahit dan tragis yang dialami AS menyusul aksi terorisme di World Trade Center 11 September 2001, kali ini sejarah itu berulang kembali di Gaza. Bahwa dalam suatu operasi intelijen, aktivitas penggalangan yang tidak diikuti dengan aktivitas pembinaan, pada perkembangannya para agen intelijen yang semula merupakan sekutu pada perkembangannya menjelma jadi agen-agen intelijen yang justru berfungsi menjadi agen-agen kontra intelijen yang merugikan dan merusak rencana strategis dan rencana operasi CIA maupun MOSSAD.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousEkspansi Global Korporasi Rockefeller-Morgan-Bloomberg Di Balik Gencarnya Kampanye Global Anti-TembakauNextRahasia Kebangkitan Vitalitas Peradaban Cina Melalui Kebijakan Empat Modernisasi Deng Xiaoping

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents