About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Politik Glamor: Antara Indonesia EmasIndonesia Emas Atau Indonesia Bubar?

Rusman

Rusman·7 August 2025·4 min read

Share
Politik Glamor: Antara Indonesia Emas Atau Indonesia Bubar?
Hari-hari ini, kita —bangsa Indonesia— sebenarnya tidak sekadar disuguhi agenda Politik Glamor oleh para elit politik, sepertinya — republik ini tengah digiring ke jurang perpecahan. Entah hal itu disadari atau tidak, baik oleh para elit maupun khalayak. “Indonesia Bubar!” Teriak Prabowo Subianto pada kampanye pemilihan presiden (Pilpres) 2019 lalu. Dan dengung teriakannya masih menggema hingga kini. Merujuk kronologi, Indonesia bubar itu narasi tersirat dari novel fiksi ilmiah atau techno-thriller yang berjudul “Ghost Fleet” alias Armada Hantu karya PW Singer dan August Cole yang dirilis tahun 2015. Esensi buku dimaksud ialah skenario perang masa depan antara Amerika Serikat (AS) Vs Cina di mana melibatkan berbagai teknologi canggih lagi mutakhir. Singkat narasi, Cina melancarkan serangan kejutan terhadap AS dengan menggunakan teknologi mutakhir, termasuk serangan siber dan senjata anti-satelit. Lalu, AS membalasnya dengan mengaktifkan armada lawas/cadangan yang disebut “Ghost Fleet“. Jadi, Ghost Fleet itu lebih merujuk pada konsep (fiksi) pertempuran di perairan dengan menggunakan armada kapal perang (lawas) yang diaktifkan kembali. Nah, dalam fiksi ilmiah tersebut, hampir keseluruhan pertempuran antara AS Vs Cina berlangsung di bekas wilayah Indonesia. Inilah poin yang ditangkap oleh Prabowo kemudian ia persepsikan, bahwa bila perang tersebut benar-benar terjadi, Indonesia sudah tidak ada lagi alias bubar (2030). Sedang teks dan narasi perihal Indonesia Bubar tak pernah ada, bahkan tidak tersurat pada novel tersebut. Kembali ke Politik Glamor, prolog tulisan ini. Adalah sistem politik baru pasca UUD 1945 karya the Founding Fathers diubah secara brutal oleh kelompok reformis gadungan. “Sistem yang destruktif lagi manipulatif”. Sehingga yang sebenarnya terjadi bukanlah reformasi, tetapi deformasi. “Justru merusak tatanan bernegara.” Sekali lagi, UUD baru dinilai sebagai sistem destruktif. Kode UUD 1945 diganti menjadi UUD NRI 1945 atau kerap disebut UUD 2002. Inilah sistem politik destruktif yang tampak mewah (dan sangat gaduh) di atas permukaan, karena high cost politics, sangat liberal, penuh janji dan dusta, mengejar banyak-banyakan suara dan lain-lain, namun — (sama sekali) tidak menyentuh kepada Kepentingan Nasional RI. Silakan cek satu per/satu isu dan kegaduhan yang kini ramai di publik. Adakah manfaatnya bagi (kesejahteraan) rakyat? Jika kita jujur dan jeli mencermati, sejak 2004 kali pertama Pilpres, Pilkada dan ‘pil-pil’ lain digelar secara langsung berbasis UUD 2002, hiruk pikuk Politik Glamor bukannya mereda, selain gaduh, juga timbul keterbelahan rakyat kian dalam lagi melebar di level manapun. Ya. Kegaduhan nyaris tidak bertepi. Keterbelahan hampir tak bisa dihenti. Pertanyaan selidik muncul dari beningnya pikir di kesunyian diri, “Bagaimana cara terbaik menghentikan keterbelahan (dan kegaduhan) di publik akibat praktik Politik Glamor?” Kenapa demikian, sebab — jika praktik Politik Glamor yang berbasis UUD 2002 terus dilanjutkan, dipastikan asumsi Prabowo tentang Indonesia Bubar 2030 bisa menjadi realitas geopolitik. Sedangkan 2045 ialah Takdir Geopolitik bangsa ini mencapai Indonesia Emas. “Indonesia Mercusuar Dunia.” Inilah keniscayaan siklus setiap 100 tahun (Al-Baqarah 259). Itu kehendak Ilahi Robbi, Tuhan Pemilik Langit dan Bumi. Ini rujukan sangat absolut. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu sendiri yang mengubahnya. Kembali ke beningnya pikir di atas, “Bagaimana caranya?” Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, pada simposium memperingati Dekrit Presiden 1959 di Universitas Jayabaya, Jakarta, 15 Juli 2025, pun memberi metafora menohok tentang praktik sistem destruktif UUD NRI 1945 alias UUD 2002, yakni: “Ibarat orang berjalan, bangsa ini telah tersesat jauh akibat mengabaikan dan meninggalkan konstitusi warisan Pendiri Bangsa. Muncul beragam propaganda dan agitasi, contoh, adanya framing di publik, bahwa jika kembali ke UUD 1945 asli — identik dengan kembali ke era Orde Baru. Hal itu merupakan cara pandang terbatas dan keliru. SALAH BESAR. Kenapa? Sebab, baik Orde Lama maupun Orde Baru sebenarnya belum melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Banyak manipulatif di sana-sini atas nama program dan situasional. Terlebih lagi pada Orde Reformasi, tak lagi sekadar manipulatif, tetapi malah disimpangkan secara brutal melalui sistem bernegara“. Jadi, tunggu apa lagi? Kembali ke UUD 1945 karya Pendiri Bangsa merupakan jalan terbaik. Pak Try —Wapres RI ke 6— memberi wejangan di Universitas Jayabaya, Jakarta (baca: Pokok-Pokok Pemikiran Try Sutrisno di Jayabaya). Salah satu wejangannya ialah: ” ... kembali dulu ke Naskah Asli sesuai rumusan Pendiri Bangsa. TITIK. Adapun perubahan, penguatan dan/atau penyempurnaan materi konstitusi dalam rangka menyikapi perubahan zaman dilakukan melalui teknik adendum. Secara hakiki, materi perubahan itulah karya generasi sekarang dengan mempertimbangkan adanya perubahan zaman. Selain kita menyadari pentingnya mengadaptasi dan mengadopsi dinamika semesta, sekaligus sebagai pemahaman secara mendalam bahwa UUD 1945 Naskah Asli bukanlah kitab suci yang sempurna“. Retorika pamungkas pun menyeruak, “Apakah Indonesia bisa meraih Indonesia Emas 2045 dengan sistem UUD 2002, atau jangan – jangan justru (Indonesia) bubar ketika para elit politik ngotot mempertahankan Politik Glamor, sistem destruktif tersebut?” Mengakhiri tulisan ini, bahwa Politik Glamor bersumber dari sistem destruktif pasca UUD 1945 karya Pendiri Bangsa diganti dengan UUD NRI 1945 alias UUD 2002. Inilah sumber kegaduhan. Tapi, hal ini terpulang dari political action para elit politik dan segenap anak bangsa: “Kembali ke UUD 1945 (naskah asli) melalui penyempurnaan dengan batu uji UUD asli, atau ingin melanjutkan praktik UUD 2002 yang telah terbukti kadar kerusakannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?” Silakan saudara-saudara memilih mana. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKondisi Ekonomi Inggris Dalam Krisis, Posisi Perdana Menteri Keir Starmer Berpotensi Ditumbangkan Partainya SendiriNextIndonesia Harus Mempertahankan QRIS, Simbol Kemandirian Dalam Sistem Keuangan Dan Perekonomian Bangsa

More in Analysis

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents