About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Middle East

Rencana Evakuasi Warga PalestinaWarga Palestina dan Pertaruhan Kedaulatan Indonesia

Rusman

Rusman·17 April 2025·4 min read

Share
Rencana Evakuasi Warga Palestina dan Pertaruhan Kedaulatan Indonesia

Sebelum lawatan ke Timur Tengah, pada 9 April 2024, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan gagasan evakuasi warga Palestina sebagai korban perang. Ada dua syarat agar evakuasi bisa terealisasi; Pertama, mendapat dukungan penuh negara-negara Tetangga di Timur Tengah. Kedua, kewajiban mengembalikan setelah kondisi aman dan proses pengobatan korban sudah dianggap cukup. Statemen presiden ini telah menimbulkan pro-kontra dalam negeri.

Sebelumnya, Presiden Jordania King Abdullah dan Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi mengajak Liga Arab mengeluarkan sikap. Pada 1 Februari 2025, Liga Arab mengafirmasi bahwa mereka menolak segala jenis kompromisasi hak-hak Palestina yang tidak bisa dicabut, baik melalui pemukiman, penggusuran maupun pengosongan atas nama keadaan maupun justifikasi apapun (The Begin-Sadat Center for Strategic Studies, 13 Februari 2025).

Maka, rencana evakuasi yang secara teritorial sangat jauh ini dikhawatirkan menjadi langkah pertama yang membuka proses relokasi dan “pengosongan” yang ditentang oleh Liga Arab sendiri. Evakuasi atas nama pengobatan atau nilai kemanusiaan apapun (kecuali di perbatasan atau negara tetangga) ditolak oleh Liga Arab, karena substansinya sama saja, yaitu pengosongan tanah dari pemiliknya. Oleh karena itulah, syarat pertama rencana evakuasi Presiden Prabowo tidak terpenuhi, karena bertolak belakang dengan konteks maupun sikap Liga Arab sendiri.

Syarat kedua dari Presiden Prabowo juga sulit terpenuhi. Pasalnya, negara Timur Tengah sendiri sudah jauh hari melakukannya. Evakuasi untuk tujuan perawatan medis telah lebih dulu dilakukan oleh Kerajaan Yordan dan Pemerintah Mesir. Kementerian Kesehatan Gaza pada awal tahun 2025 mengatakan bahwa puluhan korban luka-luka telah memasuki Mesir untuk perawatan medis setelah jalur Rafah dibuka (Aljazeera, 1 Febaruari 2025).

Mohammed Zaqout, direktur rumah sakit Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan sudah ada 6000 orang siap dievakuasi dan 12000 orang mendesak mendapatkan perawatan medis. Dengan kata lain, yang paling mendesak adalah memberikan bantuan kemanusiaan, finansial, dan obat-obatan untuk disalurkan melalui negara-negara Timur Tengah sendiri, seperti Mesir dan Yordan, yang sudah lebih awal melakukan perawatan medis terhadap korban perang. Rumah sakit-rumah sakit dan barak pengungsian di Yordan dan Mesir jauh lebih penting diperhatikan oleh kebijakan Indonesia.

Selain dari pada itu, Presiden Prabowo juga penting membaca kesiapan negara-negara Eropa untuk memberikan perawatan medis kepada korban perang Palestina. Misalnya, rumah sakit Prancis sudah merawat puluhan orang pasien dari Palestina sejak tahun 2024. Kementeria Kesehatan dan Kementerian Luar Negeri Perancis menanggung semua biaya pengobatan (reliefweb.int, 28 Maret 2024).

Dengan kata lain, jika rencana evakuasi dari Presiden Prabowo hanya untuk perawatan medis, maka teknik evakuasi mungkin belum diperlukan sama sekali, –meskipun di lapangan tidak dipungkuri kapasitas rumah sakit yang tersedia sangat terbatas. Sebaliknya, bantuan kemanusiaan, finansial dan medis di pengungsian jauh lebih medesak, serta niat baik darurat kemanusian bisa disalurkan melalui negara-negara Timur Tengah atau Eropa yang sudah lebih awal melakukannya, seperti Mesir, Yordan dan Prancis.

Tekanan Politik atau Darutat Kemanusian?

Rencana evakuasi dari Presiden Prabowo mungkin bisa dilihat dari perspektif lain, yaitu tekanan politik Donald Trump dan Amerika dari darurat kemanusiaan dan menjalankan amanat UUD 1945 untuk menghapus penjajahan dari muka bumi. Sebab, tekanan Donald Trump tersebut sangatlah mungkin karena wilayah teritorial Indonesia bagian selatan telah dikepung oleh kekuatan gabungan AUKUS (Australia, United Kingdom, United States).

Jika keinginan Donald Trump untuk mengosongkan wilayah Palestina tidak dipenuhi oleh Indonesia, mungkin imbasnya kedaulatan Indonesia, terutama bidang ekonomi bisa dipertaruhkan. Hal itu mungkin menjadi latar belakang merasionalisasi kebijakan Prabowo untuk mengevakuasi warga Palestina ke Indonesia. Namun, apabila rencana evakuasi terlaksana, itu sama saja Indonesia telah kalah dua kali, setelah sebelumnya pemerintah menyatakan tidak akan membalas sanksi ekonomi Amerika atas barang impor Indonesia.

Untuk keluar dari tekanan politik Amerika tersebut, pemerintah perlu mempertimbangkan lagi untuk meningkatkan kerjasama dengan Prancis. Sebelumnya, Indonesia telah membeli jet tempur Rafale dari Prancis, dengan memanfaatkan situasi tidak menguntungkan bagi Prancis setelah ditinggal pergi oleh sekutu-sekutunya dan tidak diikutsertakan ke dalam barisan AUKUS. Itulah rasionalisasi mengapa Prancis rela menjual jet tempurnya ke Indonesia dalam jumlah besar, bahkan menuai protes dari internal mereka.

Situasi yang sama perlu dieksploitasi oleh Indonesia, mengingat Prancis menjadi salah satu negara Eropa Barat yang membela kepentingan Palestina dan mengecam Israel. Eksploitasi ini mungkin dilakukan oleh Indonesia dengan cara mengirimkan bantuan kemanusiaan, medis, finansial, dan dukungan politik kepada rumah sakit-rumah sakit Prancis agar meningkatkan kualitas dan kuantitas perawatan medis bagi korban perang.

Kerjasama Indonesia-Prancis terkait perawatan medis warga Palestina membuahkan dua keuntungan. Pertama, pemerintah Indonesia tetap dapat menjalankan amanat UUD 1945 untuk menghapus segala macam penjajahan di muka bumi. Kedua, pemerintah Indonesia dapat mengamankan teritorialnya di wilayah selatan dari ancaman AUKUS, terutama kebijakan Amerika. Seperti pepatah lama, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Dalam ushul fiqh terkenal sebuah prinsip “al-Ghayatu la Tubarriru al-Wasilah”. Artinya, tujuan yang mulia tidak membenarkan segala cara. Jadi, mungkin membantu warga Palestina sebagai korban perang tidak dapat dibenarkan apabila ditempuh dengan cara-cara yang kurang strategis dalam diplomatis. Oleh karenanya, Liga Arab dengan tegas telah menolak relokasi yang menyebabkan pengosongan wilayah Palestina. Indonesia juga idealnya menolak dan ikut jalan yang sama dengan Liga Arab. Sebaliknya, evakuasi harus dilakukan dengan cara yang tepat, tanpa harus berhadap-hadapan dengan Liga Arab dan mempertaruhkan kedaulatan negara sendiri. Wallahu’alam Bihsawab.

Aguk Irawan MN

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBRICS Sebagai Pendorong Utama Pembangunan Ekonomi Global dan Pertumbuhan Ekonomi LokalNextMembaca Rencana Evakuasi 1000 Warga Gaza Ke Indonesia

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents