Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Geopolitik MetaverseMetaverse

Rusman

Rusman·27 Januari 2023·2 menit baca

Bagikan
Geopolitik Metaverse
Metaverse itu ujud lain internet. Atau, cara baru berinteraksi di dunia maya. Tidak lebih. Poin intinya, teknologi (ala metaverse) cuma alat, bukan tujuan. Smart security misalnya, atau smart government dan lain-lain, itu juga bukan tujuan. Ia hanya sebuah konsep serta upaya penyesuaian tata cara kerja melalui (tantangan) eksisting IT guna meraih hal yang diinginkan. Sekali lagi, metaverse bukan tujuan. Dengan kata lain, ia tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu karya, atau menilai kiprah suatu entitas, organisme dan lainnya. Kenapa? Sebab ia cuma alat belaka. Tidak lebih.
Dalam konstitusi kita, inti tujuan negara meliputi: 1) melindungi segenap bangsa; 2) memajukan kesejahteraan umum; 3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan seterusnya sebagaimana termaktup dalam pembukaan UUD 1945.
Pertanyaannya ialah, apakah metaverse bisa melindungi segenap bangsa?
Jawabannya, “Tergantung”. Bisa iya, bisa sebaliknya. Konon, ruang siber Indonesia hanya ter-cover (terlindungi) sekitar lima percent saja, sisanya (90-an percent) masih bolong-bolong. Tak terlindungi oleh kecanggihan IT kita. Kondisi ini tentu mengandung endapan bahaya. Ia dapat mengundang para hacker, ataupun pasukan siber asing masuk secara ilegal. Entah bermaksud mengacak sistem IT atau sekedar test case. Uji kecanggihan.
Ketika kita latah ingin melakukan digitalisasi di berbagai sektor atas nama smart city misalnya, atau smart security dan lainnya, jangan-jangan pasukan siber asing atau kaum hacker justru dapat menyalahgunakan wilayah siber kita untuk hal-hal yang merugikan kepentingan nasional, sedang pihak lain yang diuntungkan. Atau, mereka melakukan false flag operation (operasi bendera palsu), contohnya menyerang sistem IT negara lain tetapi melalui dan/atau menggunakan fasilitas IT milik kita. Sehingga yang terlihat di dunia maya, seolah-olah Indonesia menyerang negara lain.
Adanya teknologi agar manusia bekerja lebih efektif dan efisien, namun jika karena situasi dan kondisi, teknologi justru menimbulkan inefisiensi, kurang efektif, bahkan mengundang bahaya, alangkah bijak bila semangat digitalisasi ditunda dulu sampai infrastruktur serta suprastruktur memenuhi syarat, terutama piranti lunak (UU)-nya sudah tersedia.
End
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

Sebelumnya“Intervensi Kemanusiaan”, Doktrin “Daerah Utama”, dan Strategi Global ASSelanjutnyaKekhawatiran Beroperasinya Kembali Laboratorium Biologi Militer Berkedok Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Cukup Beralasan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents