Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sains & Teknologi

“I Want to Be An Influencer!” Tips Mendukung Impian Anak Anda Secara SiberSecara Siber Dengan Aman

Rusman

Rusman·3 Oktober 2025·5 menit baca

Bagikan
“I Want to Be An Influencer!” Tips Mendukung Impian Anak Anda Secara Siber Dengan Aman

Para ahli Kaspersky telah menyusun panduan untuk orang tua berjudul “Digital Schoolbag: A Parent’s Guide for the School Year”. Panduan ini memberikan kiat-kiat penting untuk membantu menjaga keamanan anak-anak, mencakup praktik keamanan siber, baik di dunia daring maupun luring. Dengan semakin banyaknya anak yang ingin menjadi influencer, panduan ini juga menyajikan wawasan dari pakar privasi Kaspersky tentang risiko keamanan siber utama yang mungkin dihadapi kreator muda, dan apa yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasinya.

Lebih dari 30% anak-anak Gen Alpha mengatakan mereka bercita-cita menjadi kreator media sosial, dengan studi menunjukkan bahwa sekitar 32% anak usia 12–15 tahun sudah menyebut “YouTuber” sebagai pekerjaan impian mereka. Bagi banyak anak, kreator digital adalah panutan dan keinginan mereka untuk bersinar di dunia maya muncul bahkan sebelum masa remaja. Dalam situasi seperti ini, keterlibatan orang tua tidak hanya membantu, tetapi juga vital. Ketika orang tua mengambil peran aktif, dengan mempelajari cara kerja platform, menyiapkan fitur privasi dan keamanan bersama, serta melakukan percakapan terbuka tentang batasan, perjalanan digital bersama ini mengubah potensi risiko menjadi momen yang dapat diajarkan dan memberdayakan anak untuk mengeksplorasi kreativitas mereka dengan percaya diri.

Jadilah orang yang ingin tahu, bukan kritis. Keterbukaan Anda membangun jaring keamanan untuk mereka.

Jika seorang anak berkata, “Aku ingin jadi YouTuber,” hal itu mungkin memicu kekhawatiran orang tua. Namun, langkah pertama yang paling aman bukanlah menghentikannya — melainkan membuka dialog. Tanyakan kepada anak Anda mengapa mereka ingin membangun kehadiran online dan apa yang ingin mereka posting, dan pelajari lebih lanjut tentang minat internet terbaru anak-anak dalam laporan kami. Pendekatan ini melakukan dua hal penting: pertama, menunjukkan bahwa Anda menganggap serius minat mereka, sehingga dapat  membangun kepercayaan. Kedua, memberi Anda kesempatan untuk memperkenalkan topik-topik keamanan secara alami, seperti pengaturan privasi, batasan konten, dan penanganan perhatian online.

Untuk membuat percakapan tersebut lebih mudah dan menarik, mulailah dengan sumber daya yang sesuai usia. Misalnya, Kaspersky’s Cybersecurity Alphabet — sebuah buku gratis yang dapat diunduh — membantu anak-anak mempelajari dasar-dasar kebersihan digital dengan cara yang menyenangkan dan sederhana. Buku ini memperkenalkan konsep-konsep kunci keamanan siber melalui bahasa yang mudah dipahami dan ilustrasi berwarna-warni, sehingga memudahkan anak-anak untuk memahami cara mengenali penipuan, melindungi data mereka, dan tetap aman saat mengeksplorasi kreativitas mereka secara online.

Membuat akun bersama

Daripada menyerahkan ponsel dan membiarkan anak Anda mencari tahu sendiri, luangkan waktu untuk membuat akun bersama. Baik itu YouTube, TikTok, Instagram, atau platform lainnya, duduklah dan ikuti langkah-langkahnya secara berdampingan. Bantu anak Anda:

  • Pilih pengaturan privasi yang sesuai (misalnya, siapa yang dapat melihat postingan, berkomentar, atau mengirim pesan)
  • Nonaktifkan penandaan lokasi secara default
  • Gunakan kata sandi yang kuat dan unik
  • Dan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) untuk perlindungan ekstra

Hal ini tidak hanya mengurangi risiko peretasan atau paparan, tetapi juga mengajarkan anak Anda kebiasaan kebersihan digital yang baik sejak dini.

Ajari mereka apa yang tidak boleh dibagikan

Ketika anak-anak bersemangat mengunggah konten daring, mereka sering kali ingin membagikan segalanya: di mana mereka berada, apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka. Namun, bagian dari tumbuh besar daring adalah belajar bahwa tidak semua informasi pantas untuk dilihat publik. Bantu anak Anda memahami perbedaan antara membuat dan mengonsumsi konten yang menyenangkan versus terpapar materi atau aktivitas yang berpotensi berbahaya atau merusak. Artinya, jangan bagikan alamat rumah, nama sekolah atau seragam, jadwal harian, rencana liburan, atau tempat yang rutin mereka kunjungi. Detail ini secara tidak sengaja dapat mempermudah pelacakan, terutama jika dipadukan dengan foto, tag lokasi, atau stempel waktu.

Cari alias mereka di Google secara rutin

Setelah anak Anda mulai mengunggah postingan dengan nama layar, penting untuk selalu memperhatikan seberapa terlihat dan mudahnya mereka dicari di internet. Cara mudahnya adalah dengan mencari alias mereka di Google secara rutin. Cari nama pengguna, atau inspirasi media sosial mereka, dan lihat apa yang muncul. Apakah ada foto pribadi, tag lokasi, atau komentar yang mengungkapkan lebih dari yang seharusnya? Apakah ada yang menyalin konten mereka atau mencoba meniru mereka?

Peringatkan mereka tentang penipuan kerjasama atau penawaran yang mencurigakan

Saat calon influencer muda mulai mendapatkan visibilitas, mereka mungkin mulai menerima pesan dari merek atau akun yang menawarkan produk gratis, sponsor, atau peluang kolaborasi. Bagi seorang anak, ini mungkin terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan, tetapi dalam banyak kasus, ini adalah penipuan. Ajari anak Anda untuk memperlakukan setiap tawaran tak terduga dengan hati-hati. “Kolaborasi” palsu sering kali datang melalui DM atau email dan mungkin berisi tautan yang mengarah ke situs phishing yang dirancang untuk mencuri kredensial masuk, data pribadi, atau bahkan informasi bank. Beberapa penipu juga meminta “biaya pengiriman” di muka untuk hadiah palsu atau mencoba mengelabui anak-anak agar memasang aplikasi berbahaya.

Bantu mereka mengenali tanda-tanda bahaya, seperti: tata bahasa yang buruk atau nada mendesak (“bertindak sekarang!”), permintaan informasi pribadi atau kata sandi, tautan atau situs web mencurigakan, akun yang tidak terverifikasi dan berpura-pura entitas/brand asli.

Untuk anak-anak yang lebih kecil, sebaiknya semua interaksi terkait bisnis — termasuk membaca DM, mengevaluasi penawaran merek, dan menanggapi permintaan kolaborasi — ditangani oleh orang tua. Diskusikan bersama jenis brand apa yang cocok untuk diajak bekerja sama, dan jelaskan mengapa beberapa penawaran mungkin tidak seaman kelihatannya.

Berdiskusi tentang orang asing daring

Saat anak Anda membangun audiens, mereka mungkin menarik tidak hanya penggemar, tetapi juga orang-orang dengan perilaku yang tidak pantas atau manipulatif. Sayangnya, grooming daring merupakan ancaman nyata, terutama bagi kreator muda, terbuka, dan mudah berbagi detail tentang kehidupan mereka. Jelaskan bahwa tidak semua orang yang terlihat baik di dunia maya memiliki niat baik. Penipu sering bertindak seperti “teman yang suportif” — memuji konten, menawarkan bantuan, atau berpura-pura memiliki minat yang sama. Seiring waktu, mereka mungkin meminta detail pribadi, foto pribadi, atau mencoba mengalihkan percakapan ke platform yang kurang aman (seperti obrolan pribadi, panggilan video, atau aplikasi pesan terenkripsi).

Ajari anak Anda tanda-tanda peringatan seperti:

  • Orang asing yang sering mengirim pesan (terutama jika terlalu pribadi) kepada mereka
  • Seseorang yang bersikeras merahasiakan identitasnya (“jangan beri tahu orang tuamu”)
  • Tekanan untuk membagikan informasi atau gambar/foto pribadi
  • Manipulasi emosional — rasa bersalah, sanjungan, atau ancaman

Yang terpenting, pastikan mereka tahu mereka dapat datang kepada Anda tanpa rasa takut akan hukuman.

“Ketika seorang anak ingin menjadi influencer, itu adalah cara mereka mengekspresikan identitas dan kreativitas. Sebagai orang dewasa, peran kita adalah mendukung ambisi tersebut sekaligus memastikan mereka memahami risiko digital yang menyertai visibilitas. Alat seperti Kaspersky Safe Kids membantu orang tua tetap terlibat tanpa mengganggu — dengan menawarkan wawasan tentang aktivitas online anak mereka, mengelola waktu layar, dan memperingatkan mereka tentang potensi bahaya. Dengan dukungan yang tepat dan diskusi terbuka, kita dapat membantu para kreator muda membangun suara tanpa mengorbankan keselamatan mereka,” ujar Anna Larkina, Pakar Privasi di Kaspersky.

Pelajari lebih lanjut dan unduh Kaspersky’s Digital Schoolbag: A Parent’s Guide for the School Year, tersedia dalam format PDF di sini!

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKaspersky: Lebih Dari 500 Ribu Eksploitasi Menargetkan Bisnis di Indonesia Akibat Sistem yang Belum DitambalSelanjutnyaKaspersky: Layanan Deepfake Kini 400 Kali Lebih Murah

Lainnya di Sains & Teknologi

Lihat semua
Chatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum
Budaya

Chatbot AIChatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum

15 Juli 2026 · 6 menit baca

140 Juta Upaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI
Sains & Teknologi

140 Juta Upaya PhishingUpaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI

9 Juli 2026 · 3 menit baca

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026
Sains & Teknologi

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia TenggaraAsia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026

6 Juli 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents