Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Indonesia DiserbuIndonesia Diserbu Dari Internal dan Eksternal!

Rusman

Rusman·6 April 2025·6 menit baca

Bagikan
Indonesia Diserbu Dari Internal dan Eksternal!

Catatan Kecil Asymmetric Warfare

Bahwa Ketahanan (Kedaulatan) Nasional kita tengah dikepung dan diserbu oleh berbagai anasir, dimana ancamannya bukan lagi bersifat potensial, tapi sudah faktual alias gangguan nyata. Artinya, tanpa antisipasi secara serius dan konseptual, Indonesia bisa porak-poranda bahkan cenderung bubar sebagaimana ramalan di buku science fiction: “Ghost Fleet” karya PW Singer dan August Cole (2015).

Uniknya, banyak anak bangsa ini terkesan abai atau tidak menyadari kondisi yang tengah otewe tersebut. Memang. Terdapat sebagian warga, elit politik dan tokoh menyadari hal itu, namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena faktor politis dan kendala struktural.

Yang menyedihkan bahwa tidak sedikit anak bangsa ini justru menjadi bagian dari anasir penyerbuan dimaksud, sedang mereka tidak memahami, atau pura-pura tidak tahu karena turut menikmati? Kalau meminjam istilah kelompok aktivis, “Kaum pengkhianat yang jadi penikmat”. Inilah prolog sekaligus asumsi guna mengaudit catatan ini.

Tak bisa dipungkiri, bahwa instrumen penyerbuan di atas dilakukan secara nirmiliter (asymmetrical war). Ini metode peperangan paling digemari di abad 21 karena tanpa asap mesiu. Memang nyaris tak teraba karena menumpang pada aspek ekonomi, sosial dan budaya (ekosob) atas nama pembangunan. Jadi, seolah-olah alami, semua peristiwa dianggap wajar-wajar saja.

Merujuk judul catatan, adapun anasir penyerbuan dari sisi eksternal ataupun internal ialah sebagai berikut:

Pertama, sisi eksternal:

1. Masuk (deras)-nya Liberalisme. Pasca Orde Baru jatuh, badai eforia menerjang publik melalui framing dan fabrikasi isu “Asal Bukan Orde Baru”. Maka, segala sesuatu yang berbau-bau Orde Baru harus dihapus, kudu dibuang, kalau perlu dihancurkan. Puncak eforia (rèformasi) ialah amandemen empat kali UUD 1945 pada tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002. Kenapa begitu? Itulah kudeta konstitusi melalui silent invasion oleh asing. Hasil penelitian Prof Kaelan dari UGM terhadap UUD yang diamandemen, bahwa 97% isi pasal-pasal dalam Batang Tubuh di UUD Naskah Asli telah diganti total. Gilirannya, selain antara Pembukaan dan Batang Tubuh tidak nyambung; konstitusi kini berubah individualis, liberal dan kapitalistik; juga, praktik konstitusi UUD NRI 1945 (hasil amandemen) —kerap disebut UUD 2002— telah meninggalkan Pancasila sebagai Norma Hukum Tertinggi. Pancasila tidak lagi menjadi sumber dari segala sumber hukum. Pembuatan UU dan/atau aturan di bawah UU, contohnya, hanya menginduk pasal-pasal di Batang Tubuh yang sudah diliberalisasi (diamandemen). Tak nyambung lagi dengan Pancasila di Pembukaan;

2. Narkoba. Tidak boleh dipungkiri, maraknya narkoba di berbagai lapis sosial dengan beragam jenis dan modus membuat sebagian warga khususnya generasi muda (bisa) menjadi ‘generasi linglung’. Padahal, sejarah Perang Candu I (1839 – 1842) dan Perang Candu II (1856 – 1860) di Cina, setidaknya telah memberi pointers kewaspadaan ke publik global, bahwa penyebaran narkoba merupakan bagian dari metode kolonial guna melemahkan sebuah bangsa, menghancurkan daya juang dan daya lawan bangsa terhadap kolonialisme di negerinya. Inilah yang kini terjadi. Narkoba menjadi sarana merusak bangsa dengan harga murah;

3. Gelombang TKA. Sistem dan aturan (rezim) yang mendewakan pertumbuhan via investasi asing sering kali abai terhadap histori “Kuda Troya” dalam kolonialisme. Investasi asing berskema Turnkey Project Management, contohnya, kerap menyertakan alias memboyong sendiri pekerjanya dari negara asal dalam jumlah banyak. Siapa berani menjamin, jika para pekerja itu bukan tim intelijen atau personel militer yang disusupkan sebagaimana taktik Kuda Troya dulu?

4. Devide Et Impera alias Strategi Belah Bambu. Tak bisa dipungkiri, di Era Reformasi ini, jurus pecah belah ala Snouck Hugronye meraih “pucak karir”-nya, mengapa? Sebab, devide et impera berhasil disusupkan dalam sistem bernegara lewat amandemen empat kali UUD (1999-2002), misalnya, pola multipartai, otonomi daerah, pilpres langsung (one man one vote) yang sangat liberal dan lain-lain. Itulah sarana adu domba sesama anak bangsa atas nama demokrasi yang ditempelkan pada sistem bernegara;

5. Debt Trap alias Jebakan Utang. Tak perlu banyak narasi dalam sub paragraf ini. Bahwa John Adams (1735 – 1826), Founding Father Amerika Serikat menyatakan: “Ada dua cara untuk menaklukkan dan memperbudak suatu negara. Satu adalah dengan pedang. Yang lain adalah dengan utang.” Pernyataan Adams kini terbukti di panggung geopolitik global. Tak sedikit negara di Afrika terpaksa menyerahkan pelabuhan lautnya, bandara, serta mengizinkan akses untuk pangkalan militer asing di negaranya dst karena terjerat hutang. Mereka Gagal bayar ketika masa jatuh tempo tiba. Agaknya, isu di atas bakal terjadi juga di Bumi Pertiwi. Entah kapan;

6. Termasuk jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan terus melemahnya rupiah terhadap US$ diduga oleh beberapa pakar, selain faktor-faktor internal, juga disinyalir adalah desain (serbuan) asing terhadap kedaulatan negeri ini;

7. Tarif reciprocal (timbal balik) yang diberlakukan Donald Trump tanggal 2 April 2025 cukup merepotkan pengambil kebijakan di republik ini. Minimal perlu strategi baru dan percepatan langkah, khususnya deversifikasi target (pasar) di jajaran BRICS sendiri agar kita tidak begitu mengalami kegoncangan ekonomi.

8. Dan seterusnya.

Kedua, sisi internal:

1. Neo-Komunis atau PKI Gaya Baru. Kendati PKI telah ‘mati’ dihajar Orde Baru, kemudian dipagari dengan Tap MPRS/XXV/1966, tetapi PKI Gaya Baru mampu berselancar di lapis-lapis sosial, budaya, bahkan merembes ke sistem politik, dan lain-lain. Ya. Ideologi tidak pernah mati, kata Prof Anhar Gonggong, namun bagaimana masyarakat memberi ruang. Dan agaknya, di era (reformasi) ini, mereka memperoleh ruang dan momentum untuk bangkit kembali beserta modus baru penyebarannya;

2. Korupsi. Apabila di Era Orde Lama dan Orde Baru, korupsi itu karena faktor moral. Nah, di Era Reformasi sekarang ini — korupsi bukan soal moral belaka, namun yang utama justru faktor sistem bernegara. “Korupsi berjamaah”. Adanya otonomi daerah, atau multipartai, pemilu bermodel one man one vote dan lainnya, hal-hal itu memberi kontribusi besar atas politik biaya tinggi (high cost politics) lalu membidani stigma buruk bahwa ‘korupsi di Indonesia diciptakan oleh sistem’. Nomer Piro Wani Piro
(NPWP) tidak hanya berlaku di hajatan pemilu saja, tetapi NPWP juga ada di projek-projek APBN/APBD. Istilahnya ‘diijon’. Korupsi sudah dimulai pada tahap perencanaan;

3. Gelombang PHK. Isu bangkrutnya pabrik-pabrik dan PHK ratusan ribu buruh merupakan fenomena yang mutlak wajib diwaspadai, terutama dengan akan masuknya investor asing menggantikan sektor yang tengah dirundung kebangkrutan dan badai PHK;

4. Media dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Memang tidak banyak media dan LSM yang menjadi corong asing. Segelintir saja. Namun, daya agitasi dan propaganda yang masif karena didukung buzzers perlu kewaspadaan bersama agar tidak meluas;

5. Belum lagi unsur internal lain seperti defisit APBN, kenaikan pajak, PHK, daya beli menurun, kenaikan harga kebutuhan publik, dan lain-lain turut berkontribusi dalam gangguan sisi dalam;

6. Dan lain-lain.

Itulah faktor internal dan eksternal yang tengah mengepung lagi menyerbu bangsa dan negara ini. Silakan dicermati secara jeli, bahwa setiap kegaduhan publik sejak 2004 (kali pertama pilpres langsung) di bawah naungan UUD 2002, meskipun tidak selalu berawal dari faktor-faktor di atas tapi imbas kebijakannya akibat struktur dimaksud.

Bagaimana sebaiknya road map bangsa ini ke depan guna mencapai masyarakat yang makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran, atau minimal meraih Indonesia Emas 2045, Indonesia Mercusuar Dunia?

Monggo didiskusikan untuk masukan kepada para pihak yang berkompeten. Catatan ini hanya tinjauan kecil secara asimetris.

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKetegangan Geopolitik Dunia Mempengaruhi Perencanaan dan Keputusan Industri Pelayaran-Pengiriman Kontainer/Tanker ShippingSelanjutnyaMengenal Kampung Pembuat Senjata Ilegal, Darra Adam Khel

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents