Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Indonesia Harus Mempertahankan QRIS, Simbol Kemandirian Dalam Sistem KeuanganSistem Keuangan Dan Perekonomian Bangsa

Hendrajit

Hendrajit·3 Agustus 2025·4 menit baca

Bagikan
Indonesia Harus Mempertahankan QRIS, Simbol Kemandirian Dalam Sistem Keuangan Dan Perekonomian Bangsa

QRIS bagi Indonesia merupakan sebuah inovasi besar di bidang Sistem Pembayaran Digital. Berdasarkan laporan  riset Goldman Sachs, Volume transaksi QRIS kuartal pertama mencapai 62 triliun rupiah, 56 juta pengguna aktif, dan 38 juta merchant/pedagang.

Maka ketika pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menekan Indonesia agar menghentikan QRIS sebagai Sistem Pembayaran Digital ala Indonesia, rasa-rasanya hal itu sama saja memaksa Indonesia  mundur ke belakang. Dan bagi Indonesia, QRIS bukan saja mempertaruhkan masa kini, tapi juga merupakan simbol kedaulatan dan kemandirian Ekonomi Indonesia kini dan kelak. Sudah selayaknya pemerintah dan berbagai komponen bangsa bersatu-padu menolak tekanan dan intimidasi Washington terhadap pemerintah Indonesia agar menghentikan QRIS sebagai Sistem Pembayaran Digital ala Indonesia.

Apalagi ketika pemerintah AS menggunakan dalih bahwa QRIS telah membatasi kepemilikan negara-negara lain dalam jaringan pembayaran dalam negeri. Bukankah selama ini Visa dan Mastercard justru telah digunakan AS dan kepentingan korporasi-korporasi global untuk mengendalikan sistem perbankan internasional?

Selain itu, kiranya patut kita simak secara seksama pernyataan Piter Abdullah Redjalam, Direktur Eksekutif Segara Research Institute. “ Kode Respons Cepat Standar Indonesia (QRIS) dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) Indonesia mencerminkan kemandirian finansial dan kedaulatan digital negara kita. Kritik AS, lanjutnya, berakar bukan pada minat untuk berpartisipasi, melainkan karena merasa tidak puas atas pembatasan kepemilikan asing dalam infrastruktur pembayaran negara kita.

Untuk selengkapnya ada dalam artikel: US Criticism of QRIS Baseless, Says Indonesian Economist

Selanjutnya Piter Abdullah Redjalam mengatakan: “Kritik AS bukan tentang bergabung dengan QRIS. Ini tentang pembatasan kepemilikan asing dan hak suara di lembaga pembayaran nasional, yang melemahkan dominasi mereka yang telah lama ada melalui Visa dan Mastercard.”

Sangat tepat pandangan yang dikemukakan oleh Piter Abdullah, apalagi ketika diperkuat oleh Laporan Estimasi Perdagangan Nasional 2024 tentang Hambatan Perdagangan Luar Negeri. Dalam laporan tersebut terungkap bahwa AS menggambarkan QRIS dan GPN Indonesia sebagai potensi hambatan dalam perdagangan. Barang tentu yang dimaksud laporan tersebut bahwa AS berikut kepentingan-kepentingan korporasi global yang ada di belakangnya, khawatir terhadap melemahnya atau bahkan mungkin hancurnya dominasi AS dalam perdagangan internasional.

Maka itu saya setuju dengan Piter Abdullah bahwa pemerintah Indonesia sebaiknya jangan mundur dan menyerah barang selangkah pun menghadapi tekanan AS. Dan jangan menyerahkan kendali atas sistem keuangan dalam negeri kita di tengah meningkatnya ketegangan antara AS versus Cina dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Di Indonesia negeri kita tercinta, pembayaran dengan menggunakan QRIS sudah jadi suatu tren baru yang meluas di perlbagai lapisan masyarakat. Dari warung kaki lima sampai hotel bintang lima, semua bisa pakai QRIS.

Sebagaimana penuturan Agus M Maksum, yang artikelnya ada dalam web the global review, Ibu Sari, nenek 70-an penjual mangga. yang bedagang di Pasar Senen, engangkat ponsel, menunjukkan stiker QR. Scan. Klik. Bayarannya masuk.
“Penjualan saya naik 40% sejak pakai QRIS,” kata Ibu Sari. “Tidak takut uang palsu. Tidak repot kembalian.” Wow, fantastic bukan? 

A customer scans the QRIS payment system code when shopping at a small-sized fruit vendor in Boyolali, Central Java on Dec. 2, 2024. (Antara Photo/Aloysius Jarot Nugroho)

Inilah yang disebut Inovasi, bukan sekadar kreativitas. Sebuah tindakan penemuan dan penciptaan produk baru yang spektakuler, mengandung kebaruan, dan bermanfaat bagi orang banyak.

Silahkan juga baca artikel Agus M Maksum Selengkapnya: 

Visa dan Mastercard Panik, QRIS Santai Saja

Informasi lain yang sangat terang-benderang menggambarkan kemanfaatan bagi pelbagai lapisan masyarakat dan sekaligus simbol kemandirian dan kedaulatan finansial nasional, bisa kita simak melalui keterangan Andi Pratama, direktur pembayaran digital Bank Indonesia. Menurut penjelasan Andi Pratama yang lulusan  MIT, yang pernah bergabung di Silicon Valley, * Biaya transaksi QRIS hanya dikenakan 0,7%, beda jauh sekali dengan Visa/Mastercard yang mengenakan biaya 3-5% , transgfer langsung antar-bank, dan semua berbasis standar global EMVCo.

Singkat cerita, QRIS bukan sekadar inovasi dalam teknologi. QRIS sebagai alat transaksi digital punya daya cakup yang sangat luas. Maka itu, sebagaimana dikemukakan oleh Piter Abdullah, saya sependapat bahwa bagi Indonesia tetap penting untuk membuka perundingan internasional dengan negara-negara lain, namun prinsip-prinsip inti tidak boleh dikompromikan dengan negara-negara lain, termasuk AS sekalipun. Yaitu kedaulatan dan kemandirian di bidang ekonomi, perdagagan dan sistem pembayaran yang kita terapkan di dalam negeri.

Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini, Indonesia sebaiknya tidak tergantung hanya pada AS dan sekutu-sekutunya yang tergabung dalam Uni Eropa. Melainkan juga dengan Cina, Rusia, dan Timur-Tengah, dalam menawarkan jalur alternatif untuk memperluas pasar ekspor maupun dalam meningkatkan daya saing.

Kita harus tetap teguh dalam mempertahankan martabat bangsa sebagaimana diktum yang diungkapkan Presiden Pertama Republik Indonesia, Sukarno: Berdaulat Dalam Politik, Berdikari(Mandiri)  dalam Ekonomi, dan Berkepribadian Dalam Budaya Bangsa.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI) 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaPolitik Glamor: Antara Indonesia Emas Atau Indonesia Bubar?SelanjutnyaIslamophobia dan Muslim di Eropa

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents