Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Invasi Darat ke Iran: Potensi Bunuh Diri MassalBunuh Diri Massal Militer Amerika

Rusman

Rusman·9 Maret 2026·6 menit baca

Bagikan
Invasi Darat ke Iran: Potensi Bunuh Diri Massal Militer Amerika

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Gagasan Amerika Serikat (AS) akan menurunkan pasukan darat ke Iran terdengar seperti skenario dari masa lalu — era ketika Washington masih percaya bahwa superioritas militer —otomatis— berarti kemenangan cepat. Namun, jika skenario itu benar-benar digelar, dunia mungkin sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar operasi militer: bunuh diri massal skala besar bagi militer AS.

Tulisan ini berangkat dari asumsi sederhana, bahwa invasi darat AS ke Iran bukan hanya berisiko gagal, tetapi berpotensi berubah menjadi bencana militer yang mahal dan memalukan. Bila hal dilangkahkan, agaknya — Trump tengah merencanakan kegagalan bagi misinya sendiri (epic of fury operation).

Tampaknya, AS ingin mengulang sukses pola invasinya ke Venezuela. Angkatan Udara mencengkeram, Angkatan Laut memasok kebutuhan dan memadu komunikasi peperangan, lalu Angkatan Darat menyerang berdasarkan simulasi dan replika serangan yang dibuat CIA. Hasilnya Maduro dan isterinya ditangkap. Sebelumnya, hal serupa terjadi pada Presiden Irak Saddam Hosein dan Presiden Libya Ghadaffi. Dan terjadi juga pada Iran yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa petinggi militer dan intelijen Iran. Dalam serangan Ahad malam akhir Februari lalu, mereka berbangga berhasil mengakibatkan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran tewas.

Ketika Dominasi Udara Tidak Lagi Mutlak

Dalam doktrin militer modern, perang selalu dimulai dengan prinsip: “kuasai langit, lumpuhkan sistem pertahanan lawan, baru kemudian masuk ke darat.” Begitulah pola yang terlihat dalam Perang Teluk dan Invasi di Irak. Bombardir udara masif sebagai pembuka, kendaraan lapis baja menjadi penebal, dan infanteri hanya datang untuk “membersihkan sisa-sisa”. Tetapi, Iran bukan Irak tahun 2003. Tak pula Libya pada 2011.

Jika Washington benar-benar memilih opsi invasi darat, ada kemungkinan satu hal yang jarang diakui secara terbuka: dominasi udara yang selama ini menjadi andalan, kini tidak lagi menjamin kemenangan cepat.

Beberapa narasi menyebut kerusakan fasilitas militer AS di Kawasan Teluk. Klaim ini masih perlu divalidasi akurat. Tapi ketika muncul diskursus tentang kemungkinan invasi darat – hal itu sudah cukup memberi isyarat bahwa kalkulasi militer di kawasan tersebut mendekati realitas sebenarnya: pangkalan militer AS di Teluk tak lagi efektif guna mencapai target. Kemudian Trump menjanjikan serangan yang lebih merusak.

Perang modern sekarang bergerak ke arah asimetri biaya. Sistem pertahanan bernilai jutaan dolar bisa dipaksa menembak jatuh drone atau rudal yang jauh lebih murah. Dalam jangka panjang, model ini bisa menguras sumber daya, bahkan bagi negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Bagi AS, biaya besar ini jelas telah memberi keuntungan besar bagi korporasi pemasok industri militer. Juga bagi industri keuangan. Tapi tidak bagi masyarakat AS. Perang ini tidak menyelesaikan akar masalah AS yang mengidap kanker stadium empat pada ketimpangan ekonomi dan ras.

Bangsa Iran: Ditempa oleh Perang

Ada kesalahan klasik yang sering dilakukan kekuatan besar, ia menganggap semua negara bisa ditaklukkan dengan resep militer (teori) yang sama. Tapi, Iran bukanlah Libya, bukan pula Irak, dan jelas ia bukan negara kecil yang bisa runtuh hanya dengan beberapa minggu bombardir.

Negara ini teruji menjalani Perang Iran-Irak (1980-1988), yang menewaskan ratusan ribu orang. Dalam perang itu Iran bertahan menghadapi invasi Irak yang mendapat dukungan luas dari berbagai kekuatan regional (Arab Saudi, Jordania) dan internasional (AS dan Uni Soviet). Ia tidak juga jatuh. Adu domba eksternal dan internal tidak membuatnya goyah. Jiwa dan kejuangan Iran adalah jiwa yang berjuang hingga titik darah penghabisan bagi tegaknya harkat martabat bangsa. Diplomasi, ok. Tapi harga diri tidak boleh tergadai apalagi atas nama kedamaian dan kesejahteraan yang semu. Tidak boleh ada pengorbanan dan perjanjian kenegaraan yang meluruhkan kedaulatan.

Perang tersebut tidak hanya membentuk doktrin militer Iran. Gilirannya juga membentuk mentalitas nasional: bertahan hidup dalam isolasi dan tekanan. Dan dalam situasi seperti itu, invasi asing tidak selalu melemahkan negara — sebaliknya, justru memperkuat kohesi nasional. Di sini Iran menjaga dan memelihara modal sosialnya. Dan hal itu tergantung pada kepemimpinan. Tidak heran jika Trump bersikeras menjatuhkan rezim dan pemimpin Iran. Tegaknya rezim Iran justru karena kokohnya modal sosial bangsa Iran yang dikendalikan kepempinan yang bobot akuntabilitasnya sedemikian tinggi. Khomeini, Ali Khamenei, dan Mahmud Ahmadinejad — membuktikan keluhuran kepemimpinannya melalui sikap sederhana: tidak mendahulukan dirinya, dan ikhlas bersedia bersama kejuangan dan penderitaan masyarakat yang dipimpinannya. Setuju atau tidak, kepemimpin dengan rujukan modal sosial seperti ini menjadi sesuatu yang langka di saat sekulerisme berhasil menang di beberapa negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Cumemu: Musuh Sejati Pasukan Asing

Dalam dunia militer ada istilah klasik: cuaca, medan, musuh alias cumemu. Nah, Iran memiliki ketiganya. Ya. Geografi negara ini didominasi pegunungan, dataran tinggi, dan kota-kota padat yang sulit dikuasai. Bagi pasukan invasi, medan seperti ini adalah mimpi buruk logistik. Belum lagi jaringan pertahanan yang dikembangkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) serta mobilisasi milisi Basij, binaan IRGC. Tentu, mereka lebih menguasai medan dan cuaca dibanding pasukan asing.

Dalam skenario perang darat, setiap kota bisa berubah menjadi benteng. Setiap jalan bisa menjadi medan penyergapan. Di titik inilah, keunggulan teknologi sering kehilangan daya efektivitasnya. Dalam ungkapan lain, pembacaan cuaca dan medan melalui satelit dapat menavigasi ke mana dan bagaimana pasukan bergerak. Tapi untuk membaca karakter musuh dengan semangat kejuangan, pengorbanan yang bersifat spiritual, disertai kemampuan membaca motivasi musuh berperang, tentu pasukan Iran memiliki kekuatan lebih.

Menurut berbagai sumber, Iran mempunyai personil aktif militer 610.000 orang, terdiri dari, antara lain: personal Angkatan Darat 350.000, Korps Garda Revolusi 190.000, dan personal militer lainnya. Jika AS bersama Israel menurunkan pasukan darat 110.000 orang, Iran mempunyai ragam strategi untuk menghambat, memukul mundur atau serangan mematikan.

Invasi yang Melompati Tahapan

Secara teori, invasi militer memiliki tahapan yang jelas: bombardir udara, penetrasi kendaraan lapis baja, lalu pendudukan oleh infanteri. Jika sebuah kekuatan militer terpaksa mengirim infanteri ketika lawan masih memiliki kemampuan tempur penuh, itu bermakna bahwa operasi tersebut dalam kondisi yang jauh dari ideal. Faktor cumemu, bahkan rentan gagal. Atau dalam bahasa militer yang lebih jujur: risiko korban akan melonjak drastis.

Sejarah modern penuh dengan pelajaran pahit tentang hal ini. Pasukan Sekutu sendiri pernah mengalaminya dalam peperangan 10 Nopember 1945 di Surabaya; Perang Vietnam (1955-1975) dan kemudian kembali merasakannya dalam Perang Afghanistan (2001-2021). Teknologi-mesin perang yang modern dan canggih tidak otomatis mengalahkan daya juang serta ketahanan sosial sebuah bangsa.

Ketika Rakyat Turun ke Medan Perang

Invasi asing sering menghasilkan efek paradoks, yaitu rakyat yang sebelumnya terpecah justru bersatu menghadapi musuh eksternal (common enemy). Jika skenario invasi darat terjadi, kemungkinan besar konflik tidak lagi menjadi perang antar-militer semata, ia bisa berubah menjadi perang rakyat, atau perang semesta. Totality war. Rakyat terlibat perang dalam berbagai bentuk. Keterlibatan ini, dengan menghitung kekuatan personil Angkatan Darat yang diturunkan AS dan Israel, menjadikan Iran memiliki ketahanan dan pertahanan berkali lipat.

Sejarah mengajarkan, bahwa perang sejenis ini hampir selalu menjadi perang yang relatif panjang, mahal, melelahkan bagi pihak penyerang, dan tidak menjamin kemenangan bagi agresor. Lagi-lagi, ini soalnya daya juang dan motivasi yang menjadi pembakar semangat berperang.

Perjudian Geopolitik

Kalau Washington benar-benar memilih opsi invasi darat ke Iran, keputusan itu bukan sekadar operasi militer. Ia adalah perjudian geopolitik atas nama keangkuhan berkuasa. Kenapa? Sebab, bukan hanya soal menang atau kalah di medan perang, tetapi juga tentang stabilitas kawasan, nasib ekonomi global, dan kredibilitas kekuatan militer AS itu sendiri. Dengan kata lain, invasi darat ke Iran berpotensi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perang. Menang jadi arang, kalah jadi debu.

Selain bisa menjadi awal runtuhnya mitos tak terkalahkannya mesin perang AS, sekali lagi, bila hal itu terjadi — sejarah juga akan mencatatnya sebagai salah satu keputusan militer paling nekat dan bodoh di abad ke-21. Suatu kebodohan yang mengikuti gejolak nafsu nan menyesatkan ialah awan tebal penutup kebenaran hakiki dan kesejatian kehidupan.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSerangan AS-Israel ke Iran: Mengguncang Stabilitas Pasar Energi Dunia dan Destabilisasi Perekonomian Nasional Negara-Negara BerkembangSelanjutnyaMetafisika dan Jungkirbaliknya Skenario Amerika-Israel di Timur Tengah

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents