Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

James DanandjayaJames Danandjaya, Ensiklopedia Foklor Indonesia

Rusman

Rusman·13 Desember 2025·6 menit baca

Bagikan
James Danandjaya, Ensiklopedia Foklor Indonesia

Oleh: Mulyawan Karim
(Kompas, 10 Desember 2007)

Kenapa dongeng Bawang Putih dan Bawang Merah bisa mirip dengan dongeng Cinderella dari Eropa? Di Indonesia, mungkin hanya James Danandjaja yang mampu memberi jawaban komprehensif atas pertanyaan semacam ini.

James yang antropolog Universitas Indonesia ini bisa bicara panjang lebar soal teori-teori yang bisa menjelaskan proses sejarah yang menyebabkan terjadinya kesejajaran itu, komplet dengan contoh-contoh dongeng lain dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia, yang intinya juga berkisah soal ibu tiri nan jahat.

James Danandjaja, yang lahir dengan nama James Tan, memang pakar dongeng dan ilmu dongeng. Resminya, profesor emeritus alias guru besar pensiunan berusia 73 tahun ini adalah ahli folklor, cabang ilmu antropologi yang mempelajari berbagai bentuk kebudayaan yang diwariskan turun-temurun secara lisan. Oleh karena itu, kecuali dongeng, ilmu folklor juga mempelajari berbagai warisan tradisi lisan lain, sejak teka-teki, legenda, mite, sampai busana dan arsitektur tradisional.

“Folklor itu penting dipelajari. Tradisi lisan merupakan cerminan identitas masyarakat atau golongan di mana ia hidup. Masakan Padang yang pedas dan berbumbu keras, misalnya, mencerminkan karakter orang Minang yang penuh semangat,” kata Pak Jimmy, begitu James biasa dipanggil para mahasiswanya, dalam obrolan di rumahnya di daerah Tanah Baru, Depok, Rabu pekan lalu.

Sejak awal jadi antropolog James sudah giat melakukan penelitian kepustakaan dan mengumpulkan cerita rakyat langsung dari berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara lain. Saat melanjutkan studi di Uni- versity of California, Berkeley, pada 1972, dia melakukan riset kepustakaan di sana untuk menyusun tesis master yang kemudian juga terbit sebagai buku berjudul An Annotated Bibliography of Javanese Folklore.

Dibantu mahasiswa

Ribuan naskah dongeng, teka-teki, cerita humor, sampai permainan rakyat juga dikumpulkannya selama lebih dari 30 tahun dia mengajar di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. Setiap mahasiswa peserta kuliah folklor ia tugasi mengumpulkan cerita rakyat apa saja. “Awalnya, setiap mahasiswa saya minta mengumpulkan 100 cerita. Tetapi, kemudian terus berkurang jadi 50, 30, dan akhirnya cuma 10 item saja,” cerita James.

Dari laporan tugas para muridnya itulah, antara lain, James menghasilkan sejumlah buku kumpulan cerita humor, seperti Humor Mahasiswa Jakarta (1988) dan Humor dan Rumor Politik Masa Reformasi (1999). Naskah-naskah cerita rakyat dari berbagai daerah khusus ia rangkum dan terbitkan sebagai serial buku anak-anak, yakni Cerita Rakyat dari Bali, Cerita Rakyat dari Jawa Tengah, Cerita Rakyat dari Kalimantan, dan Cerita Rakyat dari Sumatera, yang semua terbit pada 1992.

“Sebetulnya belum semua naskah sudah saya terbitkan. Sebagian berkasnya dalam bentuk ketikan yang tersimpan di ruang Jurusan (Antropologi), bahkan hilang dibuang dosen lain yang mungkin tak senang dengan apa yang saya lakukan,” sesal James.

Buku-buku James tak hanya laku dijual di Tanah Air, tetapi juga banyak dibaca orang di mancanegara. Beberapa universitas di Malaysia dan Brunei Darussalam menjadikan Folklor Indonesia, buku lain yang disusun James, bacaan wajib bagi para mahasiswanya. “Buku saya itu sudah dicetak ulang sampai enam kali,” kata pria yang memilih hidup sendiri itu.

Terapi amnesia

Meski lahir di Jakarta pada tahun 1934, James melewati masa remajanya di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Di sana pula dia sempat mengembangkan bakatnya yang lain, menari balet. Di ruang tamu rumahnya, James, yang pada tahun 1950-an sempat menjadi instruktur tari di sekolah balet Namarina, memajang beberapa foto kenangan masa muda, termasuk foto besar Jimmy remaja sedang menari balet.

James baru kembali tinggal di Jakarta sejak kuliah di UI dan belajar antropologi dari Profesor Koentjaraningrat (alm). Setelah jadi sarjana, guru besar antropologi Indonesia yang pertama itu pula yang membantu James mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di AS dan meraih gelar master dalam bidang folklor.

Sambil mengembangkan ilmu folklor, di UI James juga mengembangkan spesialisasi antropologi psikologi. Ini dilakukan terutama setelah ia meraih gelar doktor pada 1977 dengan disertasi berjudul Petani Desa Trunyan di Bali: Lukisan Analitis yang Menghubungkan Praktik Pengasuhan Anak Orang Trunyan dengan Latar Belakang Etnografisnya. Karya ilmiah ini kemudian juga diterbitkan oleh Pustaka Jaya sebagai buku (1980).

Sebagai dosen, James tak tergolong dosen killer. Namun, para mahasiswanya mengenal Pak Jimmy sebagai pribadi yang tekun, rajin, dan berdisiplin tinggi. Ia tak bisa menerima mahasiswa yang terlambat datang kuliah dengan alasan hujan. “Hujan air saja kok dibikin alasan. Saya baru akan terlambat kalau hujannya hujan golok,” begitu Pak Jimmy pernah menegur mahasiswa sambil bercanda, sekitar 30 tahun silam.

Pada tahun 1999 James memulai memasuki masa pensiun. Namun, sampai hari ini ia masih tetap aktif mengajar sebagai guru besar emeritus di UI dan Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida). “Biar saya punya penghasilan tambahan karena uang pensiun saya cuma Rp 1,2 juta sebulan,” demikian James memberi alasan.

Di masa senjanya James juga tetap giat meneliti dan menulis. Setelah menulis buku berjudul Folklor Amerika, yang diterbitkan tahun 2003, hari Senin (10/12) ini rencananya dia akan meluncurkan buku barunya, Folklor Tionghoa, di Kampus UK Depok.

James berharap buku barunya itu bisa berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan warga keturunan Tionghoa dari penyakit amnesia yang sudah lama diderita. Akibat indoktrinasi yang dilakukan rezim Orde Baru (Orba) yang tak ingin mengakui eksistensi mereka, menurut James, banyak warga keturunan Tionghoa, sadar atau tidak, berusaha melupakan jati diri suku bangsanya.

“Tekanan rezim Orba inilah yang mengakibatkan banyak warga keturunan Tionghhoa mengalani autohypnotic amnesia, yakni proses melupakan jati diri atas kemauan sendiri agar bisa diakui sebagai orang Indonesia,” ujar James.

Saat ini dia juga tengah menulis buku otobiografi, yang penyelesaiannya tak ia targetkan. “Buku itu sudah selesai 60 persen, tetapi tak ada target kapan harus selesai,” katanya. Apalagi, kondisi fisiknya kini tak lagi prima. Selain menderita gangguan pada penglihatan, sejak terserang stroke awal November lalu James nyaris tak bisa lepas dari kursi rodanya.

BIODATA
Nama: James Danandjaja
Lahir: Jakarta, 13 April 1934

◆ Pendidikan:
– Sarjana antropologi budaya, Universitas Indonesia (UI) (1963)
– Master folklor, University of California, Berkeley (1977) – Doktor antropologi psikologi, UI (1977)

◆ Pekerjaan:
– Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) (1960-1983)
– Sekretaris Dekan FSUI (1963-1965)
– Sekretaris Jurusan Antropologi FSUI (1960-1975)
– Penjabat Ketua Jurusan Antropologi FSUI (1975-1976)
– Sekretaris Program Sarjana Humaniora FSUI (1982-1983)
– Pengajar Antropologi Program S2 Antropologi dan Kajian Amerika Ul (1982-)
– Pembimbing Akademik Program S2 Kajian Amerika UI (1983-)
– Kepala Tim Evaluasi Proposal Penelitian Tesis Doktoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI
– Pembimbing Akademik Program S2 Antropologi FISIP UI
– Sekretaris Komisi IV (Urusan Penilaian Kenaikan Pangkat Golongan IV ke Atas dan Guru Besar) Senat UI (1984-1988)
– Pengajar Antropologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (UKI) (1963-1969)
– Dosen tamu Fulbright di University of California, Berkeley untuk mata kuliah Foklor Indonesia dan Etnografi Ball (1980-1981)

◆ Penghargaan:
– Penghargaan Buku Terbaik dari Yayasan Buku Utama, untuk buku “Folklor Indonesia” (1987)
– Satyalencana Karya Satya Tingkat I atas jasa telah bekerja selama 30 tahun sebagai pegawai negeri sipil. (1998)
– Satyalencana Kebudayaan untuk jasa dalam pengembangan dan penulisan di bidang antropologi budaya dan ilmu folklor (2002)
– Anugerah Sewaka Winayaroha (Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi) dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (2006)

Sumber: Kompas, 10 Desember 2007

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMenyingkap Soft Power Di Balik Kolonialisme dan ImperialismeSelanjutnyaSoekarno dan Pancasila di Tanah Persia

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents