Kalau kita pikir secara seksama, Amerika Serikat (AS) bukan sekadar menganut standar ganda, lebih buruk dari itu, tidak konsisten dengan azas yang mereka promosikan ke seluruh dunia. Katanya dunia internasional harus menganut sistem ekonomi pasar bebas. Kenyataannya, begitu kalah dalam persaingan dagang, AS malah membantin papan caturnya.
Hengli Group, yang dibangun oleh pasangan suami istri selama tiga dekade dari sebuah pabrik tekstil yang bangkrut menjadi raksasa Fortune Global 500 dan salah satu penyuling minyak swasta terbesar di China, secara tiba-tiba jadi korban persaingan antar dua negara adikuasa, AS versus China.
Hengli, perusahaan penyulingan minyak terbesar di Tiongkok yang dikenai sanksi oleh AS. Gara-gara membeli minyak dari Iran, musuh besar negara Paman Sam. Padahal pihak Hengli menyangkal tudingan AS tersebut.
Namun kalau dari awal memang Hengli sudah jadi target utama AS untuk dilumpuhkan, kebenaran sudah tidak penting lagi. Yang jadi pertimbangan Washington untuk melumpuhkan perekonomian China sudah barang tentu karena fakta bahwa Hengli merupakan perusahaan penyulingan minyak terbesar di China. Bulan lalu saja, anak perusahaan Hengli Petrochemical, berhasil mengoperasikan kilang minyak berkapasitas 400.000 barel per hari di kota Dalian di timur laut. Itu baru salah satu anak perusahaannya.
Untuk Data-Data Penting terkait Hengli saya olah dari kantor berita Reuters.
Silahkan Baca:
Hengli, China’s silk-to-petrochemicals empire, faces the chill of US sanctions
Singkat cerita, Hengli bukanlah perusahaan penyulingan kecil-kecilan atau abal-abal. Hengli boleh dibilang masuk kategori pabrik berskala dunia, yang berhasil menyediakan dirinya sebagai fasilitas penyulingan dan Petrokimia secara terintegrasi. Adapun para pendiri Hengli adalah pasangan suami isteri Chen Jianhua dan Fan Hongwei.
Fakta bahwa Hengli yang semula merupakan sebuah pabrik tekstil yang bangkrut menjadi raksasa Fortune Global 500 dan salah satu penyuling minyak swasta terbesar di China, dalam telaah strategis AS sebagai negara adikuasa pesaingnya, pastinnya telah memandang Henglu sebagai sasaran strategis yang dalam perhitungannya akan melumpuhkan perekonomian China secara menyeluruh.
Bagaimana dampak langsung dari penetapan terhadap Hengli oleh oleh Washington? Unit utama Hengli di luar negeri, sebuah cabang perdagangan di Singapura yang mempekerjakan sekitar 100 orang, sudah ditutup pada Mei lalu. Apakah ini dampak langsung tersebut cukup signifikan untuk melemahkan perekonomian nasional China? Masih perlu telaah secara lebih mendalam.
Namun terkait kepentingan strategis China dengan Arab Saudi, bisa jadi hal itu bisa berdampak lebih serius. Sebab dengan sanksi ekonomi tersebut, bisa merusak kesepakatan awal antara China dengan perusahaan rakasasa minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco pada 2024. Dalam kesepakatan tersebut Saudi Aramco akan mengambil 10% saham Hengli Petrochemical.
Namun kalau mengetahui situasi dan konstelasi yang sesungguhnya, Hengli sejatinya fokus bisnisnya tetap di dalam negeri China dan sepenuhnya berada dalam proteksi dari Beijing. Sehingga pada prakteknya tetap beroperasi seperti biasa meskipun ada sanksi ekonomi dan masuk daftar hitam Washington.
Anehnya, kebijakan AS yang menggunakan sanksi ekonomi atau embargo terhadap negara-negara yang membeli minyak ke negara pesaing atau musuh, malah semakin bergantung pada negara yang dijadikan dalih penetapan sanksi.
Sebagai misal, Shandong Yulong Petrochemical, pesaing Hengli, terkena sanksi Inggris dan Eropa karena membeli minyak dari Rusia. Namun akhirnya Inggris dan Eropa malah semakin bergantung pada minyak mentah Rusia.
Beberapa pelaku usaha memprediksi bahwa Hengli kemungkinan besar juga akan menerapkan kebijakan seperti halnya Shandong Yulong ketika dikenakan sanksi oleh Inggris dan Eropa. Justru malah memutuskan untuk membeli minyak dari Iran.
Hengli, bisa dibilang merupakan salah satu contoh success story China di bidang industri yang patut jadi sumber inspirasi. Pada tahun 2025 lalu, Hengli berhasil membukukan laba sebesar 7,07 miliar yuan ($1,04 miliar) dengan pendapatan sebesar 201 miliar yuan.
Baiklah. Ini memang baru soal angka. Chen Jianhua, kelahiran dari distrik Wujiang, Suzhou, mulai merintis ekayaan pertamanya dengan berdagang sutra sisa. Mungkin karena nama depannya dalam bahasa China berarti “Membangun China, ” kodrat Chen memang selalu merintis dari awal dan berhasil. Chen Jianhua pada usia 23 tahun membeli sebuah pabrik tekstil yang bangkrut dengan hanya 27 karyawan, pada 1994. Yang berarti ketika Program 4 Modernisasi China di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping mulai menggeliat dan bangkit dari masa keterpurukannya antara 1960-1980.
Chen Jianhua boleh dikatakan merupakan anak kandung reformasi China era Deng Xiaoping. Betapa tidak. Untuk membantu upaya China dalam mematahkan dominasi asing atas produksi serat sintetis, Hengli milik Chen melakukan ekspansi ke hulu, dan akhirnya memasuki sektor penyulingan yang didominasi negara untuk menjadi produsen petrokimia yang terintegrasi penuh.
Bagi Indonesia, kisah sukses Chen Jianhua dan Hengli, sudah seharusnya menjadi sumber inspirasi kebangkitan perekonomian nasional kita. Dan terutama bagaimana peran sentral negara dalam mendorong keberhasilan pengusaha berbakat seperti Chen Jianhua. Menjadikan Chen Jianhua oleh sebab minat dan bakat khususnya, menjadi salah satu pengusaha berbasis industri papan atas di China.
Ketika Hengli kemudian menjadi contoh bagi jenis baru produsen petrokimia swasta besar yang memproduksi bahan baku untuk membuat plastik dan produk lainnya bagi sektor manufaktur China yang berkembang pesat. Bahkan saat ini Hengli menjadi produsen asam tereftalat murni (PTA) terbesar di dunia, yang digunakan dalam pembuatan serat sintetis.
Industri Berat Hengli juga berhasil memenangkan pesanan untuk 115 kapal senilai lebih dari 100 miliar yuan, dengan pelanggan termasuk perusahaan pelayaran Yunani, Norwegia, dan Jepang.
Inilah bukti nyata buah keberhasilan Program 4 Modernisasi China yang mulai diluncurkan Deng Xiaoping pada akhir 1970-an. Menyatupadukan sektor Pertanian, Industri, Ilmu-Pengetahuan dan Teknologi, serta Militer-Pertahanan, secara terintegrasi. Yang mana kunci kata kunci buah keberhasilan China sekarang karena bertumpu pada Kemandirian Teknologi dan Keamanan Rantai Pasok.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)