Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Koalisi Besar dan Prakiraan KeadaanPrakiraan Keadaan 2024

Rusman

Rusman·6 April 2023·4 menit baca

Bagikan
Koalisi Besar dan Prakiraan Keadaan 2024
Secara tersirat, tajuk agenda dalam Pemilu 2024 ialah: “Melanjutkan program infrastruktur Jokowi”. Ya. Meski remang, agenda dimaksud berjalan senyap lagi pasti. Tak bisa tidak. Ketika MPR hanya selevel BPK, MK, DPD dan seterusnya (lembaga tinggi, bukan Lembaga Tertinggi Negara); tatkala Mandataris MPR sudah tidak ada (Presiden cuma petugas partai); selama konstitusi tak mengenal lagi GBHN; sepanjang MPR tidak bisa memilih presiden/wakil dan lainnya, maka dibolak-balik bagaimanapun narasi politik akan gampang dibaca. Terang benderang. Katakanlah, se-ekstrim apapun fluktuasi perkembangan politik, arah anginnya mudah ditebak dan jejak para elit tidak sulit dilacak. Mudah sekali membaca manuver para petinggi dan elit partai jelang Pemilu 2024. Selain mereka mulai menebar sinyal soal capres/cawapres yang digadang-gadang, paling menarik ialah rajutan antarkoalisi. Koalisi Besar contohnya, sebuah kejutan jelang 2024. Ini model koalisi yang ditawarkan oleh Golkar. Jalinan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yaitu Golkar, PPP dan PAN bergandeng dengan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) yakni Gerindra dan PKB. Luar biasa. Ide ini, selain bisa mengancam eksistensi PDI-P sebagai ruling party pada satu sisi, juga mampu ‘menjepit’ Koalisi Perubahan (Nasdem, PKS, dan Demokrat) di sisi lain. “Satu ayunan dua pukulan”. Cakep. Apalagi Demokrat kini tengah di-‘PK’-kan oleh Pak Moel —Peninjauan Kembali— hingga ke Mahkamah Agung (MA) dalam kasus ‘rebutan kepemimpinan’ di Demokrat. Di sini, posisi capres dari Koalisi Perubahan (ARB) agak rawan bila panitia pendaftaran mensyaratkan partai pengusung capres wajib clean and clear dari masalah hukum. Artinya, jika Demokrat leave group dari Koalisi Perubahan akibat tersandung ‘PK’-nya Pak Moel maka presidential threshold tidak sampai 20%. Retorikanya, “Apakah manuver Pak Moel memang untuk menjegal ARB?” Diam-diam, Golkar sendiri tengah dirundung konflik internal. Aroma perpecahan tercium akibat ambisi person dan faksi di internal ingin mengambilalih kepemimpinan Golkar. Bila perseteruan internal tersebut mencuat di atas permukaan, maka anatomi konflik mirip kasus Demokrat. Gilirannya, pencalonan kandidat dalam Koalisi Besar (KIB dan KIR) yang sebelumnya hampir mengerucut, bisa berantakan karena ada salah satu ketua partai ingin menjadi cawapres. Kudu ada tata ulang kekuatan, formatur, penyaringan kembali kandidat capres/cawapres, dan lain-lain. Memang akan terlihat sedikit gaduh. Nantinya, ide dan wacana perpanjangan waktu jabatan presiden, kembali bergulir. Mencuat lagi. Tak terduga, wacana dimaksud seperti menemukan momentum atas keberadaan Koalisi Besar. Namun, mutlak harus melalui pintu penundaan pemilu berdalih kegentingan memaksa ataupun dalih-dalih lainnya. Jujur, isu ini mengandung risiko tinggi khususnya penolakan publik baik dari kalangan elit politik dan akademis, kelas menengah, maupun penolakan oleh akar rumput. Nyaris tidak ada skenario yang dapat diterima oleh publik kecuali menggelar Pemilu 2024 sesuai jadwal. Gegara Koalisi Besar, maka alternatif hajatan 2024 tinggal dua skenario: Skenario I: Tetap digelar Pemilu meski penuh ketidakpastian (unpredictable). Ada kegalauan di sekeliling oligarki karena calon-calon mereka berjatuhan satu per/satu, oleh sebab tidak mampu berselancar di tengah lingkungan strategis terutama tatkala isu Timnas Israel U-20 gaduh di publik; dan Skenario II: Ada perpanjangan masa jabatan presiden antara 3-4 tahun dengan risiko, itu tadi — akan muncul gejolak signifikan di kalangan elitis, kelas menengah, dan akar rumput. Berkenan skenario mana hendak dipilih? Bagi istana, dua skenario di atas sama-sama tidak menguntungkan. Buah simalakama. Apa hendak dikata, lahirnya Koalisi Besar lintas koalisi (KIB dan KIR) mampu mengubah peta kekuatan dalam perhelatan 2024. Para stakeholder pun menghitung ulang langkahnya, sedangkan hari H kian mendekat. Dalam konsolidasi —hitung ulang— nanti, akan muncul ide strategis yang dipersepsikan sebagai “jalan tengah” bagi kedua skenario tadi, antara lain yaitu: Pertama, digelar konvensi alias Kesepakatan Nasional guna menyelesaikan kebuntuhan konstitusi dengan cara-cara bijak demi keselamatan bangsa dan negara; atau Kedua, diterbitkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 Naskah Asli dalam rangka menampung aspirasi rakyat dan para elit untuk tetap digelar Pemilu, namun melalui mekanisme di MPR RI selaku Lembaga Tertinggi Negara. Gilirannya, Kedaulatan Rakyat yang telah dibajak kaum reformis sejak amandemen ke-4 (2002) akan dikembalikan lagi. Kedaulatan Rakyat dipulihkan kembali. Memang (tetap) akan muncul gejolak massa sebagai akumulasi hazard masa lalu, atau ada massa aksi terkait support terhadap jalannya sidang di MPR, namun demonstrasi di luar gedung cenderung terkendali, soft, dan terlokalisir di Senayan kendati riak-riak di daerah lain juga ada. Peta konflik di Senayan nantinya lebih kepada rebutan alias berebut siapa yang berhak duduk sebagai perwakilan ‘utusan’; dan siapa berwenang menunjuk para utusan, baik dari golongan maupun utusan daerah? Kenapa begitu, sebab anggota DPD RI yang kini berada dan duduk sebagai anggota MPR versi UUD NRI 1945 (hasil amandemen), disinyalir justru ingin menjadi anggota DPR dari fraksi perorangan bila status MPR —balik ke UUD 1945 Naskah Asli— dipulihkan lagi sebagai Lembaga Tertinggi Negara. Tak dapat disangkal, kapasitas MPR RI bakalan superjumbo karena situasi dan faktor konvensi. Nah, Peristiwa ini niscaya mengundang sorotan publik baik regional maupun global. Itulah sekilas prakiran keadaan ke depan jika mesin Koalisi Besar telah beroperasi. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. Tamat M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaICC Bukan Badan Peradilan Internasional Yang Independen dan BerdaulatSelanjutnyaSkema AS-Uni Eropa di Balik Politisasi Muslim Tatar Delegasi Ukraina di Indonesia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents