Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Konflik (TNITNI versus Polri) di Jeneponto: Kemana akan Berlabuh?

Rusman

Rusman·1 Mei 2023·2 menit baca

Bagikan
Konflik (TNI versus Polri) di Jeneponto: Kemana akan Berlabuh?
Telaah Kecil Geopolitik
Ada asumsi tua di dunia geopolitik yang nyaris dilupakan publik yakni “conflict is protection oil flow and blockade somebody else oil flow“. Terjemahan bebasnya kurang lebih begini, “Konflik diciptakan untuk melindungi aliran minyak dan memblokade pihak lain atas aliran minyak dimaksud”. Ya. Minyak di sini adalah ‘simbol’ belaka, ia bisa dimaknai sumber daya alam (SDA) lainnya (emas, gas, nikel dan lain-lain) atau komoditas unggulan lainnya.
Dalam perspektif geopolitik, tidak ada konflik agama, ras, golongan, suku dan lain-lain melainkan karena faktor geoekonomi. Itu teori dasar geopolitik.
Asumsi tua di atas, itu baru satu sisi. Pada sisi lain, dalam sejarah devie et impera, bahwa konflik antara TNI versus Polri merupakan model adu domba tingkat tinggi apapun pemicu, isu atau pintu masuknya.
Kenapa?
TNI-Polri adalah anak kandung revolusi. Perekat bangsa. Pecah keduanya, maka pecahlah bangsa ini. Keduanya adalah institusi besar yang memiliki struktur sampai ke desa. Anggotanya punya militansi, jiwa korsa, dan melekat budaya yang sama yakni ‘perintah adalah segala-galanya’, serta masing-masing institusi dibekali senjata beragam jenis. Maka itu tadi, kalau meletus konflik secara struktural, siapa berani menjamin tak akan pecah bangsa ini?
Maka dari itu, seyogianya anggota TNI-Polri baik dari level atas (perwira tinggi) hingga di tingkat bawah hendaknya saling menahan diri. Jangan memprovokasi situasi; clometan; jangan kembangkan ego sektoral, dan lain-lain. Kenapa demikian, bahwa berlarutnya konflik yang biasanya selesai paling lama seminggu karena sinergitas para pimpinan kesatuan, –contoh dulu– kini kok agak alot ya. Sinergitas yang terjalin selama ini seperti mentok. Entah kenapa.
Insting geopolitik pun liar berhipotesis, “Jangan-jangan ini setingan pihak ketiga (swasta dan asing) yang ingin konflik terus berlangsung?”
Asumsi-asumsi pun semakin dalam serta meluas berbasis asumsi tua pada prolog telaah kecil ini, antara lain:
1. Apakah ada komoditas unggulan –emas, minyak, gas, nikel, dan lain-lain– di Jeneponto;
2. Apakah daerah tetangga Jeneponto dan sekitarnya terdapat kandungan komoditas unggulan sebagaimana poin 1 di atas;
3. Bagaimana sejarah konflik di Sulawesi selama ini; dan lain-lain.
Sekali lagi, konflik TNI-Polri adalah agenda adu domba level tinggi. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh pihak ketiga yang memiliki powerful baik uang, jaringan dan hegemomi. Seyogianya para pihak di level manapun saling menahan diri. Membunuh masing-masing ego sektoral. Hentikan perang narasi. Endapkan dulu situasi, agar akar persoalan (ikan) terlihat di air yang jernih.
Jangan sampai kejadian, ketika TNI-Polri melemah akibat konflik berlarut, tiba-tiba Indonesia ‘diserbu’ oleh kepentingan asing sebagaimana Turkistan Timur dulu yang kini bernama Xinjiang.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
Tamat
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaPrabowo, Anies dan OligarkiSelanjutnyaUpaya AS dan Inggris Mendorong Persekutuan Militer di Asia Pasifik Akan Memicu Militerisasi dan Perlombaan Senjata

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents