Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Konstelasi Geopolitik Asia PasifikAsia Pasifik Pasca-Pemilu Presiden AS November 2024

Hendrajit

Hendrajit·1 September 2024·5 menit baca

Bagikan
Konstelasi Geopolitik Asia Pasifik Pasca-Pemilu Presiden AS November 2024

Papua saat ini sasaran choke point dua kubu, Amerika Serikat versus Republik Rakyat Cina.  Saya katakan sasaran artinya belum terjadi, namun sedang proses diupayakan oleh kedua adikuasa tersebut.

Dalam perspektif geopolitik Australia yang merupakan deputy sharif Amerika di Asia Pasifik, Vanuatu sudah menjadi titik rawan mengingat pengaruh Cina yang semakin menguat dalam ekonomi dan perdagangan di Pasifik.

Dalam kekhawatiran AS maupun Australia sebagai sekutu strategisnya di Pasifik, ketika Pelabuhan Loginville berhasil dikuasai Cina,  maka selain AS Cina pun  dapat mengakases pengamanan maritim. Sehingga otomatis Papua Nugini  yang berbatasan secara langsung dengan Papua Barat di Indonesia,  bisa gatal-gatal. Yang mana pada gilirannya  Papua Barat pun mengalami demam tinggi.

Dalam konstelasi global saat ini, perlu telaah strategis dampak hasil Pemilihan Presiden Amerika November 2024 mendatang.

Situasi tak terduga harus diantisipasi jika Donald Trump yang menang. Sebagai pengusaha Trump menyadari betul negaranya saat ini banyak mengalami defisit perdagangan dengan negara-negara di Asia, alias mengalami defisit perdagangan bukan saja terhadap Cina dan Jepang. Bahkan dengan beberapa negara ASEAN seperti Vietnam dan Malaysia. Artinya, nilai impor AS lebih besar daripada nilai ekspornya. Yang dibeli lebih besar daripada yang dijualnya

Alhasil, untuk mengompensasi neraca perdagangannya Trump besar kemungkinan akan.meneruskan program lamanya: mencanangkan untuk menggalakkan ekspor senjata ke negara-negara yang selama ini AS tekor alias mengalami defisit perdagangan.

Di sinilah para pemangku kepentingan kebijakan luar negeri RI harus mampu merespons perkembangan global yang tak terduga Pasca-Pemilihan Presiden AS November mendatang. Bahwa seperti halnya pada era Trump 2017-2019, AS akan menciptakan suatu kondisi kritis dan penuh pergolakan sebagai market areas atau daerah pasar bagi ekspor senjata AS.

Dengan demikian, tema yang akan digulirkan bukan lagi kampanye pasar bebas dan free trade area. Melainkan mengembangkan konsepnya Obama yaitu POROS KEAMANAN ASIA secara lebih ekstrem. Bukan saja mengirim 60 persen kapal perangnya ke Laut Cina Selatan. Melainkan secara lebih skematik, mengawinkan STRATEGI INDOPASIFIK AS sebagai forum kerja sama multilateral berbasis ekonomi dan perdagangan, dan US PACIFIC COMMAND sebagai persekutuan pertahanan dan militer di Asia Pasifik, dengan terbentuknya persekutuan militer empat negara AS, Australia, Jepang dan India. Saat inipun di era kepresidenan Joe Biden, Strategi Indo-Pasifik AS yang dirilis Trump sejak 2017 masih tetap dipertahankan. Dengan kata lain, kalau Joe Biden saja tetap mempertahankan skema kolaborasi pendekatan ekonomi-perdagangan-pasar bebas dan persekutuan militer dalam skema Strategi Indo-Pasifik AS, apalagi Donald Trump yang memang merupakan pemrakarsa Strategi Indo-Pasifik AS.

President Biden and Prime Minister Kishida at the White House.

President Biden and Prime Minister Kishida at the White House. (Via X.com)Kita hingga kini memang belum secara terang-terangan diajak bergabung dalam  forum Indopasifik maupun persekutuan ala SEATO seperti QUAD, dan hal itu sebenarnya sudah tepat. Kedua negara adikuasa tersebut  menyadari arus besar di negeri kita masih berpedoman pada Politik Luar Negri Bebas-Aktif.

Melalui kerangka analisis tadi, ada beberapa lokasi geografis kita titik-rawan. Biak di Papua maupun Morotai di Maluku utara dan juga Bitung di Sulawesi Utara, bakal menjadi titik rawan ketika terjadi pergeseran pendekatan dari  ekonomi ke militarisasi dalam kebijakan luar negeri ketika  Trump jika November nanti berhasil mengalahkan pesaingnya dari Demokrat, kamala Haris.  Dengan begitu kawasan inipun bakal berubah jadi medan konflik bersenjata. Sebab Cina pastinya akan melakukan manuver militer juga sebagai respons terhadap manuver AS dan NATO yang kian agresif di Asia Padifik.  Bukan sekadar manuver ekonomi bisnis yang mana Cina sekarang sebenarnya  sedang di atas angin.

Sekadar informasi. Dalam memodernisasikan kekuatan angkatan bersenjatanya, termasuk di bidang peralatan militernya, pada 2013 saja Cina telah mengucurkan dana yang cukup besar untuk memperkuat armada selamnya. Bukan itu saja. Cina setidaknya memiliki 9 kapal selam bertenaga nuklir. Dengan demikian, nampak jelas CIna telah memperkuat persenjataan strategisnya untuk pengamanan maritime-nya. Cina juga mengembangkan kapal selam kelas Jin yang memiliki  kemampuan meluncurkan rudal balistik berdaya jangkau 7,400 kilomater.

Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa Grand Strategi Indo-Pasifik yang digagas secara bersama antara AS, Australia, Jepang dan India, sejatinya merupakan model kerjasama regional yang digunakan bukan saja untuk menata ulang, melainkan juga untuk mengacak-acak kembali tatanan regional di Asia Tenggara, sehinga membawa implikasi tumbuhnya benih-benih perpecahan internal di antara negara-negara ASEAN. Bahkan pada perkembangannya juga memecah-belah kekompakan di antara 24 negara yang tergabung dalam forum kerjasama ekonomi Asia-Pasifik (APEC).

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Perdana Menteri India Narendra Modi berfoto saat mereka tiba sebelum pengumuman persekutuan Quad di Istana Kantei, Selasa, 24 Mei 2022, di Tokyo.

AP Photo/Evan Vucci Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Perdana Menteri India Narendra Modi berfoto saat mereka tiba sebelum pengumuman persekutuan Quad di Istana Kantei, Selasa, 24 Mei 2022, di Tokyo.Dengan potensi konflik yang semakin memanas seturut pergeseran dari pendekatan ekonomi-perdagangan ala Demokrat ke militerisasi kebijakan luar negeri ala Trump, maka selain ketiga titik rawan wilayah kita tadi  bakal menjadi sasaran perebutan pengaruh dan bukan tidak mungkin juga sebagai areas of war.  Namun seiring dengan itu juga berpotensi bakal membahayakan perdamaian dan stabilitas kawasan di Asia, utamanya Asia Tenggara.

Sehingga zona damai, bebas dan netral seperti dicanangkan ASEAN benar benar sedang dalam bahaya. Apalagi Laut Cina Selatan, yang merupakan bagian dari wilayah Lautan Pasifik Tengah, nampaknya juga merupakan titik-rawan ketegangan antara AS vs Cina sejak beberapa tahun terakhir. Laut Cina Selatan yang masih dalam Wilayah Indo-Pasifik Tengah, merupakan wilayah yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik melalui berbagai laut dan selat. Perairan Laut Indonesia sebagian besar termasuk ke dalam wilayah Indo-Pasifik Tengah. Perairan yang juga termasuk wilayah Indo-Pasifik Tengah adalah Laut Cina Selatan, Laut Filipina, pantai utara Australia, dan laut di sekitar Nugini. Juga beberapa negara yang masuk lingkup Pasifik Selatan seperti Mikrosia, Kaledonia Baru, Kepulauan Salomon, Vanuatu, Fiji dan Tonga.

Oleh sebab itulah Pelabuhan Loginville menjadi titik-rawan dalam perspektif geopolitik AS, Australia maupun sekutu-sekutu strategisnya yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Maka itu, kebijakan luar negri RI terlalu penting untuk ditangani semata-mata oleh para birokrat kementerian luar negeri kita.  Yang umumnya masih memandang krisis global saat ini seolah-olah masih sebagai business as usual.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaRevolusi Warna di Indonesia dan Upaya Asing Melestarikan Liberalisasi KonstitusiSelanjutnyaBlackwater, “Anak Kandung” Agenda Swastanisasi Militer AS

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents