Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Krisis Energi di Timur Tengah dan Potensi Rusia Sebagai Negara Pemasok Alternatif di Asia PasifikAsia Pasifik dan Eropa

Hendrajit

Hendrajit·27 Maret 2026·6 menit baca

Bagikan
Krisis Energi di Timur Tengah dan Potensi Rusia Sebagai Negara Pemasok Alternatif di Asia Pasifik dan Eropa

Destabilisasi kawasan Timur Tengah seturut meletusnya Perang terbuka AS-Israel versus Iran, bukan hanya menciptakan ketidakastian di pasar energi yang ditandai meroketnya harga minyak dan gas. Lebih daripada itu, juga dipicu oleh relasi yang sangat rentan antar pasokan energi dan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah saat ini masuk kategori berisiko tinggi.

Salah satunya, tentu saja Selat Hormuz. Sebagai titik strategis eografis yang penting bagi perdagangan minyak global—telah melumpuhkan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Bukan itu saja. Serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel  terhadap kilang minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar secara langsung memengaruhi pasokan. Jika konflik berlanjut, otomatis harga bahan bakar akan meningkat pada skala yang  cukup drastic sehingga memicu gelombang inflasi global baru.

Baca: The conflict in the Middle East reopens the global energy dilemma: Fossil dependence or transition

Namun ketika trend global tersebut menyebabkan prospek suram bagi para produsen Timur Tengah, serentak dengan itu malah menguntungkan bagi para eksportir minyak.

Adapun bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, konflik tegangan tinggi yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran, bukan saja mengakibatkan harga minyak meningkat tinggi, sehingga mengganggu kesepakatan kontrak dengan negara-negara eksportir minyak, sehingga menyebabkan kelangkaan ketersediaan minyak di masa mendatang, maka negara-negara di Asia Pasifik pun terpaksa melakukan reorientasi isu-isu keamanan energi.

Ketergantungan pasokan gas Uni Eropa juga sama krusialnya. Apalagi sejak hubungan Uni Eropa dengan Rusia semakin memburuk menyusul konflik bersenjata Rusia-Ukraina, beberapa negara Eropa Barat yang pada dasarnya pro Ukraina, telah meninjau ulang ketergantungan besar gas mereka kepada Rusia.

Nampaknya, hampir semua negara yang masuk kategori importir minyak, terpaksa melakukan reorientasi keamanan energinya. elat Hormuz—jalur air yang lebarnya hanya 29 mil laut di titik tersempitnya itu, hampir 20% minyak dan gas yang dikonsumsi dunia melewati selat ini—menghubungkan negara-negara kaya hidrokarbon di Timur Tengah dengan konsumen di Asia dan seluruh dunia. Arteri penting dari rantai pasokan energi global ini sekarang hampir tertutup karena ancaman Iran, bahkan beberapa kapal diserang saat mencoba berlayar melewatinya.

A UAE navy ship sails next to a cargo ship in the Strait of Hormuz as seen from Khor Fakkan, United Arab Emirates, Wednesday, March 11, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Sebuah kapal angkatan laut UEA berlayar di samping kapal kargo di Selat Hormuz seperti terlihat dari Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, Rabu, 11 Maret 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)Sekitar 20 juta barel per hari (mbpd) minyak mentah dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz pada tahun 2025. Meskipun terdapat jalur alternatif untuk minyak (seperti dari Arab Saudi melalui Laut Merah, dan dari Uni Emirat Arab melalui Fujairah), kapasitas yang ada hanya sekitar 3,5 mbpd hingga 5,5 mbpd—itu pun dengan kendala logistik tertentu. Hal ini menyebabkan sekitar tiga perempat pasokan terblokir di selat tersebut.

Baca juga:

The Middle East conflict begins to cast a shadow on the global economy

Selain minyak, 112 miliar meter kubik gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab melewati selat tersebut pada tahun 2025.  Namun, tidak seperti minyak, tidak ada jalur lain untuk ekspor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab ke negara-negara di luar kawasan tersebut.

Alhasil, oleh sebab pengiriman terhenti, fasilitas penyimpanan cepat penuh, beberapa negara produsen minyak di kawasan ini telah menutup ladang dan kilang minyaknya. Atau setidak-tidaknya, mengurangi produksi.  atar menghentikan produksi LNG setelah serangan drone, sementara Arab Saudi untuk sementara menutup kilang Ras Tanura yang diserang.

Bagi Indonesia sendiri, pasokan minyak dari Rusia punya proespek yang cukup bagus kalau merujuk pada pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin dengan mitranya dari Indonesia di Istana Konstantine Novsky, St. Petersburg, pada Juni 2025 lalu. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Putin menyatakan niat niat Rusia untuk membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi domestiknya, baik melalui ekspor maupun investasi. “Kami siap meningkatkan pasokan minyak dan gas alam cair [LNG] ke pasar Indonesia,” kata Putin.

Baca juga:

Russia Ready to Boost Oil Supplies to Indonesia, Putin Tells Prabowo

Sepertinya, Rusia saat ini merupakan pemasok minyak dan gas yang cukup bisa diandalkan negara-negara di Asia Pasifik, terutama Indonesia. Apalagi ketika meletus Perang AS-Israel vs Iran sejak Februari 2026 lalu, Impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi anjlok menjadi 23.000 barel per hari pada bulan Maret, turun dari 104.000 barel per hari pada bulan Februari lalu.

Berita yang sempat dilansir kantor berita Reuters, Pertamina Pride, sebuah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar milik perusahaan energi negara Indonesia, Pertamina, termasuk di antara kapal-kapal yang terjebak di Teluk sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran, menurut data LSEG. Kapal tersebut dimuat dengan 2 juta barel minyak mentah Saudi pada tanggal 28 Februari lalu.

Di tengah gencarnya wacana negara-negara importir minyak termasuk Indonesia, untuk melakukan reorientasi ketergantungan minyak dan gas dari Timur Tengah ke Rusia atau eksportir minyak lainnya, Presiden Putin sendiri mengakui bahwa harga minyak sekarang sedang naik dan Rusia siap menjadi pemasok minyak dan gas baru yang bisa diandalkan.

Harga minyak Rusia juga cukup bersaing. Harga minyak mentah Urals Rusia memang telah naik menjadi US$72 (US$102) per barel, naik dari US$40 pada Desember tahun lalu. Namun harga minyak mentah dari negara-negara lain di luar Rusia tetap lebih tinggi, sekarang naik menjadi lebih dari US$100 per barel. Jadi kalau terjadi persaingan merebut sebagai pemasok, Rusia lebih unggul karena mengajukan harga lebih murah.

Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan pada gilirannya akan mendorong  harga minyak hingga US$108 per barel. Ironisnya, Uni Eropa yang sejak tahun 2022 lalu, seturut meletusnya konflik bersenjata antara Rusia-Ukraina, memberlakukan kebijakan pelarangan impor gas dari Rusia, besar kemungkinan Uni Eropa akan mempertimbangkan kembali rencananya untuk melarang kontrakan pasokan dari Rusia.

Sebab dengan semakin meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan Iran terhadap beberapa kilang minyak di Arab Saudi dan Qatar, misalnya, pada perkembangannya akan meningkatkan inflasi, dan bahkan resesi ekonomi di Eropa.

Konstelasi geopolitik global yang tidak stabil saat ini, penutupan Selat Hormuz sejatinya hanya puncak gunung es. Lebih dari itu, hal ini dampak dari situasi ketika kawasan Timur Tengah itu sendiri sekarang benar-benar dalam kondisi perang dan penuh pergolakan yang tak terduga.

Yang menyebabkan masalah jadi krusial adalah, cadangan minyak Timur Tengah diperkirakan 66% dari total cadangan minyak dunia.  pada akhir abad ke-20 Timur Tengah menghasilkan sekitar sepertiga produksi minyak dunia dan wilayah ini merupakan pemasok utama minyak ke negara-negara maju di dunia, terutama Eropa, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan negara-negara lain di Timur Tengah.

Masalah krusial yang tak kalah penting adalah, saat ini Amerika Serikat lah satu-satunya kekuatan hegemoni global yang memegang pengaruh paling kuat di Timur Tengah.

Tapi ironinya pula, seturut semakin menguatnya kerja sama internasional maupun regional berbasis pendekatan multilateral dan multipolar alih-alih unipolar yang dikendalikan AS dan Uni Eropa sebagai kekuatan tunggal hegemoni global tanpa tandingan sejak Pasca Perang Dingin, sekarang hegemoni global AS di Timur Tengah mengalami goncangan. Apalagi sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, kedigdayaan AS sebagi kekuatan hegemoni global di Timur Tengah justru mulai menurun, dan mulai dipertanyakan dan diragukan. Termasuk oleh negara-negara sekutunya sendiri di kawasan Timur Tengah.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaNATO Seperti AS, Punya Ambisi Geopolitik Menguasai Asia Pasifik dan Menghancurkan Sentralitas ASEANSelanjutnyaHormuz: Kuburan Ambisi Perang

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents