Krisis Energi di Timur Tengah dan Potensi Rusia Sebagai Negara Pemasok Alternatif di Asia Pasifik dan Eropa


Destabilisasi kawasan Timur Tengah seturut meletusnya Perang terbuka AS-Israel versus Iran, bukan hanya menciptakan ketidakastian di pasar energi yang ditandai meroketnya harga minyak dan gas. Lebih daripada itu, juga dipicu oleh relasi yang sangat rentan antar pasokan energi dan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah saat ini masuk kategori berisiko tinggi.
Salah satunya, tentu saja Selat Hormuz. Sebagai titik strategis eografis yang penting bagi perdagangan minyak global—telah melumpuhkan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.
Bukan itu saja. Serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel terhadap kilang minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar secara langsung memengaruhi pasokan. Jika konflik berlanjut, otomatis harga bahan bakar akan meningkat pada skala yang cukup drastic sehingga memicu gelombang inflasi global baru.
Baca: The conflict in the Middle East reopens the global energy dilemma: Fossil dependence or transition
Namun ketika trend global tersebut menyebabkan prospek suram bagi para produsen Timur Tengah, serentak dengan itu malah menguntungkan bagi para eksportir minyak.
Adapun bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, konflik tegangan tinggi yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran, bukan saja mengakibatkan harga minyak meningkat tinggi, sehingga mengganggu kesepakatan kontrak dengan negara-negara eksportir minyak, sehingga menyebabkan kelangkaan ketersediaan minyak di masa mendatang, maka negara-negara di Asia Pasifik pun terpaksa melakukan reorientasi isu-isu keamanan energi.
Ketergantungan pasokan gas Uni Eropa juga sama krusialnya. Apalagi sejak hubungan Uni Eropa dengan Rusia semakin memburuk menyusul konflik bersenjata Rusia-Ukraina, beberapa negara Eropa Barat yang pada dasarnya pro Ukraina, telah meninjau ulang ketergantungan besar gas mereka kepada Rusia.
Nampaknya, hampir semua negara yang masuk kategori importir minyak, terpaksa melakukan reorientasi keamanan energinya. elat Hormuz—jalur air yang lebarnya hanya 29 mil laut di titik tersempitnya itu, hampir 20% minyak dan gas yang dikonsumsi dunia melewati selat ini—menghubungkan negara-negara kaya hidrokarbon di Timur Tengah dengan konsumen di Asia dan seluruh dunia. Arteri penting dari rantai pasokan energi global ini sekarang hampir tertutup karena ancaman Iran, bahkan beberapa kapal diserang saat mencoba berlayar melewatinya.

Sebuah kapal angkatan laut UEA berlayar di samping kapal kargo di Selat Hormuz seperti terlihat dari Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, Rabu, 11 Maret 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)Sekitar 20 juta barel per hari (mbpd) minyak mentah dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz pada tahun 2025. Meskipun terdapat jalur alternatif untuk minyak (seperti dari Arab Saudi melalui Laut Merah, dan dari Uni Emirat Arab melalui Fujairah), kapasitas yang ada hanya sekitar 3,5 mbpd hingga 5,5 mbpd—itu pun dengan kendala logistik tertentu. Hal ini menyebabkan sekitar tiga perempat pasokan terblokir di selat tersebut.
Baca juga:
The Middle East conflict begins to cast a shadow on the global economy
Selain minyak, 112 miliar meter kubik gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab melewati selat tersebut pada tahun 2025. Namun, tidak seperti minyak, tidak ada jalur lain untuk ekspor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab ke negara-negara di luar kawasan tersebut.
Alhasil, oleh sebab pengiriman terhenti, fasilitas penyimpanan cepat penuh, beberapa negara produsen minyak di kawasan ini telah menutup ladang dan kilang minyaknya. Atau setidak-tidaknya, mengurangi produksi. atar menghentikan produksi LNG setelah serangan drone, sementara Arab Saudi untuk sementara menutup kilang Ras Tanura yang diserang.
Bagi Indonesia sendiri, pasokan minyak dari Rusia punya proespek yang cukup bagus kalau merujuk pada pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin dengan mitranya dari Indonesia di Istana Konstantine Novsky, St. Petersburg, pada Juni 2025 lalu. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Putin menyatakan niat niat Rusia untuk membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi domestiknya, baik melalui ekspor maupun investasi. “Kami siap meningkatkan pasokan minyak dan gas alam cair [LNG] ke pasar Indonesia,” kata Putin.
Baca juga:
Russia Ready to Boost Oil Supplies to Indonesia, Putin Tells Prabowo
Sepertinya, Rusia saat ini merupakan pemasok minyak dan gas yang cukup bisa diandalkan negara-negara di Asia Pasifik, terutama Indonesia. Apalagi ketika meletus Perang AS-Israel vs Iran sejak Februari 2026 lalu, Impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi anjlok menjadi 23.000 barel per hari pada bulan Maret, turun dari 104.000 barel per hari pada bulan Februari lalu.
Berita yang sempat dilansir kantor berita Reuters, Pertamina Pride, sebuah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar milik perusahaan energi negara Indonesia, Pertamina, termasuk di antara kapal-kapal yang terjebak di Teluk sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran, menurut data LSEG. Kapal tersebut dimuat dengan 2 juta barel minyak mentah Saudi pada tanggal 28 Februari lalu.
Di tengah gencarnya wacana negara-negara importir minyak termasuk Indonesia, untuk melakukan reorientasi ketergantungan minyak dan gas dari Timur Tengah ke Rusia atau eksportir minyak lainnya, Presiden Putin sendiri mengakui bahwa harga minyak sekarang sedang naik dan Rusia siap menjadi pemasok minyak dan gas baru yang bisa diandalkan.
Harga minyak Rusia juga cukup bersaing. Harga minyak mentah Urals Rusia memang telah naik menjadi US$72 (US$102) per barel, naik dari US$40 pada Desember tahun lalu. Namun harga minyak mentah dari negara-negara lain di luar Rusia tetap lebih tinggi, sekarang naik menjadi lebih dari US$100 per barel. Jadi kalau terjadi persaingan merebut sebagai pemasok, Rusia lebih unggul karena mengajukan harga lebih murah.
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan pada gilirannya akan mendorong harga minyak hingga US$108 per barel. Ironisnya, Uni Eropa yang sejak tahun 2022 lalu, seturut meletusnya konflik bersenjata antara Rusia-Ukraina, memberlakukan kebijakan pelarangan impor gas dari Rusia, besar kemungkinan Uni Eropa akan mempertimbangkan kembali rencananya untuk melarang kontrakan pasokan dari Rusia.
Sebab dengan semakin meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan Iran terhadap beberapa kilang minyak di Arab Saudi dan Qatar, misalnya, pada perkembangannya akan meningkatkan inflasi, dan bahkan resesi ekonomi di Eropa.
Konstelasi geopolitik global yang tidak stabil saat ini, penutupan Selat Hormuz sejatinya hanya puncak gunung es. Lebih dari itu, hal ini dampak dari situasi ketika kawasan Timur Tengah itu sendiri sekarang benar-benar dalam kondisi perang dan penuh pergolakan yang tak terduga.
Yang menyebabkan masalah jadi krusial adalah, cadangan minyak Timur Tengah diperkirakan 66% dari total cadangan minyak dunia. pada akhir abad ke-20 Timur Tengah menghasilkan sekitar sepertiga produksi minyak dunia dan wilayah ini merupakan pemasok utama minyak ke negara-negara maju di dunia, terutama Eropa, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan negara-negara lain di Timur Tengah.
Masalah krusial yang tak kalah penting adalah, saat ini Amerika Serikat lah satu-satunya kekuatan hegemoni global yang memegang pengaruh paling kuat di Timur Tengah.
Tapi ironinya pula, seturut semakin menguatnya kerja sama internasional maupun regional berbasis pendekatan multilateral dan multipolar alih-alih unipolar yang dikendalikan AS dan Uni Eropa sebagai kekuatan tunggal hegemoni global tanpa tandingan sejak Pasca Perang Dingin, sekarang hegemoni global AS di Timur Tengah mengalami goncangan. Apalagi sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, kedigdayaan AS sebagi kekuatan hegemoni global di Timur Tengah justru mulai menurun, dan mulai dipertanyakan dan diragukan. Termasuk oleh negara-negara sekutunya sendiri di kawasan Timur Tengah.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit
Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.
