Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Liberalisme Itu Komunis SenyapKomunis Senyap?

Rusman

Rusman·15 Juli 2023·3 menit baca

Bagikan
Liberalisme Itu Komunis Senyap?
Catatan Kecil Geopolitik cq Neocortex War
Tidak ada ideologi yang mati, namun bagaimana negara dan masyarakat memberi ruang terhadap ideologi dimaksud. Itu poin asumsi dari Prof Anhar Gonggong, pakar sejarah Indonesia. Namanya asumsi, perlu breakdowning untuk pembuktian.
Demikian pula komunisme. Sebagai ideologi, tidak akan pernah mati. Hanya tersingkir sebentar. Jika diberi ruang oleh rakyat, ia akan bangkit kembali. Dan sebaliknya, bila tidak ada ruang baginya maka komunis akan ‘tidur’. Jadi, hidup dan matinya sebuah ideologi sangat tergantung bagaimana rakyat dan rezim kekuasaan mengelola.
Rusia contohnya, salah satu negara serpihan Uni Soviet, dimana Soviet tempo doeloe dikenal sebagai ‘mbah’-nya komunisme global, namun sekarang —setelah Uni Soviet runtuh— komunisme tidak diberi ruang gerak. Pola dan cara Putin mengeliminer komunisme melalui gereja, masjid, dan tempat-tempat ibadah lain diberi keleluasaan untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, konsepsi dan aktivitas yang jelas-jelas berbasis anti-Tuhan, LGBT misalnya, secara resmi dilarang lewat UU dengan sanksi keras. Kenapa? Agama dan keyakinan manapun pasti melarang perkawinan sejenis. Itu keniscayaan kehidupan.
Ibarat tumbuhan, komunis itu jenis parasit alias benalu. Menempel pada pohon yang kuat, namun (nantinya) justru mengajak mati bersama ‘tuan’-nya. Sudah ada contoh-contoh. Uni Soviet dulu merupakan ‘pohon kuat’ bagi komunisme, toch akhirnya mati juga. Pecah berkeping – keping menjadi 15 negara. Atau, komunis di zaman Orde Lama (Orla), meski dulu menginduk kepada PKI —partai terbesar ke-4 di era Orla— akhirnya mati bersama ‘inang’-nya (PKI), diberangus oleh Orde Baru (Orba) tanpa ampun. Kenapa? Ya. Testur ‘Tanah Pancasila’ niscaya menolak jenis tanaman parasit semacam komunisme, khususnya pada sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Ketika Orba jatuh dan Pak Harto lengser, muncul euforia reformasi nyaris di segala sektor dan lini melalui isu utama yakni segala sesuatu berbau Orba kudu dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikebebasan dan perikomunisme. Namanya euforia, publik menyambut secara gegap gempita. Gilirannya, kebebasan atau liberalisme bak gelombang tsunami menerjang serta meluluh-lantakkan hampir semua konsepsi tata negara yang dibuat oleh Orba. Merobohkan pintu serta pilar-pilar yang dulu menutup geliat komunisme di Bumi Pertiwi.
Nah, pada titik inilah komunisme memperoleh momentum. Setelah sekian lama ‘tiarap’ karena tidak diberi ruang gerak oleh Orba, kini ia bangun dari tidurnya, berdiri, lalu bereksistensi. Ya. Pasca-Orba runtuh, komunisme berselancar melalui arus liberalisme sebagai titiannya.
Sekarang membahas liberalisme. Tak pelak, seperti halnya HAM dan demokrasi, liberalisme ialah pilar penopang kapitalisme. Ideologi tersebut digebyarkan sebagai lawan abadi dari komunisme.
Tetapi, apakah demikian faktanya?
Tak juga. Tersirat justru sebaliknya. Komunis bukanlah antitesis kapitalis, namun malah sintesis. Percampuran yang selaras (dan senapas). Bahwa antara kapitalis dan komunis itu serupa tapi tak sama. Berbeda-beda rupa tetaplah sama.
Modus keduanya serupa, contohnya, mencari bahan baku semurah-murahnya, dan/atau mengurai pasar seluas-luasnya. Hanya pola keduanya yang tak sama. Jika tujuan penguasaan atau pengendalian kapitalis adalah modal alias kapital oleh segelintir elit swasta/partikelir, sedang komunisme dikendalikan oleh segelintir elit negara. Sekali lagi, serupa namun tak sama. Bahkan ada anekdot yang menyatakan, bahwa komunisme itu ‘kapitalis plat merah’.
Monopoli kapitalis itu modal/kapital, sedangkan monopoli komunisme ialah massa/rakyat. Sama. Hanya berbeda pola.
Tatkala China menerapkan one country and two system, yaitu sistem negara yang mengelaborasi antara komunis dan kapitalis dalam ‘satu tarikan napas’, maka hasilnya sungguh dahsyat. Massa/rakyat dikendalikan, modal dalam genggaman. Ke dalam menerapkan tata cara komunisme; ke luar menggunakan pola dan modus kapitalisme, yakni mencari bahan baku semurah-murahnya, mengurai pasar seluas-luasnya. Begitulah.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

Sebelumnya“Semerbak Kembang Sore” (1)SelanjutnyaSaatnya Indonesia dan ASEAN Memandang Pentingnya Forum Kerjasama SCO Dari Perspektif Geopolitik Lintasan Jalur Sutra

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents