Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca Kejelasan Kebijakan Luar NegeriKebijakan Luar Negeri Donald Trump di Kawasan Arktik

Hendrajit

Hendrajit·24 Mei 2025·4 menit baca

Bagikan
Membaca Kejelasan Kebijakan Luar Negeri Donald Trump di Kawasan Arktik

Sejak Presiden Donald Trump secara resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025 lalu, ia berulangkali menyerukan agar AS mengendalikan Greenland. Hanya sayangnya banyak kalangan pemerhati hubungan internasional kurang menaruh perhatian terhadap implikasi kebijakan luar negeri AS bukan saja terhadap Denmark sebagai sekutu AS yang tergabung dalam NATO, melainkan terhadap kawasan Eropa Barat pada umumnya.

Betapa tidak. Hingga kini Denmark masih tergabung sebagai anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), bahkan merupakan salah satu pendirinya. Selain anggota NATO, Denmark juga merupakan bagian integral dari Uni Eropa, dan merupakan salah satu aktor penting dalam penyusunan  kebijakan pertahanan Uni Eropa.

Selain itu, isu tentang Greenland erat kaitannya dengan bagaimana strategi global dan kebijakan luar negeri AS memandang kawasan Arktik.

Belajar dari penyikapan kebijakan luar negeri Trump dalam berurusan dengan Ukraina maupun Meksiko, muncul satu pertanyaan krusial: apakah Trump masih berkomitmen untuk membangun hubungan luar negeri yang kosntruktif antara AS dan Denmark terkait Arktik, dengan tetap memelihara hubungan yang solid dengan sekutu-sekutu AS di Eropa Barat,  atau jangan-jangan ini merupakan siasat Trump dengan memainkan langkah awal permainan catur geopolitik AS untuk meraup keuntungan dengan menguasai hak atas Sumber Daya Alam khususnya mineral, di kawasan Arktik.

Baca juga: 

US Policies in the Arctic Are Changing but the Extent Remains to Be Seen

Seperti kita ketahui, hubungan AS-Denmark menjadi krusial  lantaran Greenland termasuk dalam wilayah kedaulatan Denmark. Greenland meskipun merupakan wilayah semi-otonom yang menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, tetapi memiliki otonomi yang luas dalam urusan dalam negeri.

Greenland merupakan pulau kaya mineral, dan lokasi geografisnya pun letaknya sangat strategis. Lantaran Greenland terletak di antara Samudra Arktik dan Samudra Atlantik, di sebelah Timur Laut Kanada.  Secara geografis, pulau ini merupakan bagian dari benua Amerika Utara, namun secara politik dan budaya, ia memiliki hubungan erat dengan Eropa, khususnya Denmark.

Jika Trump memang serius punya ambisi geopolitik di Greenland, bukan saja hubungan AS dengan Denmark akan memburuk, bahkan bisa membawa implikasi berbahaya bagi prospek persekutuan AS dengan Eropa Barat di masa depan.

Namun di tengah-tengah banyak pertanyaan terhadap manuver politik luar negeri Trump dan apa agenda strategisnya dalam menggulirkan isu Greenland, ambisi geopolitik AS di Samudra Arktik memang cukup jelas dan nyata. Misalnya, di Arktik seperti di tempat lain, AS akan menolak kebijakan mitigasi perubahan iklim yang bertujuan untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan akan mendukung ekstraksi dan penggunaan bahan bakar fosil.

Maka seiring dengan perkembangan tersebut, nampaknya para “Pemangku Kepentingan Kebijakan Luar Negeri” baik yang saat ini secara langsung berpotensi terkena dampak buruk kebijakan luar negeri AS di kawasan Arktik, maupun negara-negara lain yang dalam kaitan kawasan Arktik tidak berkepentingan secara langsung, seperti negara-negara berkembang termasuk Indonesia, haruslah memantau dan memonitor formasi tim strategis yang ditempatkan Trump di kementerian luar negeri AS. Karena di tangan para pejabat eselon satu dan eselon dua kementerian luar negeri itu lah, yang akan memainkan peran dalam menentukan bagaimana AS akan bertindak di badan-badan internasional seperti Dewan Arktik, serta menentukan kepentingan AS dalam kebijakan-kebijakan yang terkait dengan Samudra Arktik – seperti regulasi pengiriman, polusi, atau penangkapan ikan.

Tugas Dewan Arktik sebagai forum utama kawasan tersebut,  semasa berlangsungnya krisis Ukraina praktis tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Adapun Negara-negara anggota Dewan Arktik adalah Kanada, Denmark (termasuk Greenland dan Kepulauan Faroe), Finlandia, Islandia, Norwegia, Rusia, Swedia, dan Amerika Serikat.

Dengan bergabungnya Finlandia dan Swedia ke dalam NATO, tujuh dari delapan anggota Dewan Arktik tergabung juga dalam NATO. Kecuali Rusia yang tidak tergabung dalam NATO.  Sehingga selama krisis Rusia-Ukraina sejak 2022, ketujuh negara anggota Dewan Arktik yang tergabung dalam NATO tersebut secara bersama-sama mengisolasi dan mengucilkan Rusia.

Sekali lagi, yang harus dicermati dari manuver AS adalah ambisi geopolitiknya di kawasan Arktik. Sejauh ini negara-negara anggota Dewan Arktik (kecuali Rusia) agar mendukung prakarsa penelitian  berbasis sains dan kebijakan terkait lingkungan dan perubahan iklim. Akankah AS mengizinkan pekerjaan itu berlanjut?

Satu lagi isu strategis yang perlu kita cermati, akankah Trump mengakomodasi aspirasi masyarakat adat dan pribumi? Sebab dalam masalah Arktik, khususnya di Negara Bagian Alaska, penjangkauan dan penyertaan pandangan Masyarakat Adat memainkan peran penting dalam pengembangan dan implementasi kebijakan.

Pemerintah AS  boleh saja menolak  mendukung penelitian iklim di Arktik, tetapi itu tidak sama dengan menyangkal bahwa iklim sedang berubah dan karenanya memerlukan adaptasi lokal. Sekalipun pelepasan emisi karbon bukan fokus perhatian pemerintah AS, namun pemerintah federal mungkin mengakui perlunya mengatasi runtuhnya jalan dan bangunan di Alaska.

Oleh karena itu, Negara-negara Arktik perlu bersabar sementara berbagai kebijakan AS menjadi lebih jelas seiring perkembangan waktu. Karenanya seperti saya sampaikan tadi,  kiprah dan manuver diplomatik para pejabat kunci kementerian luar negeri di Washington   kiranya sangat berperan penting  dalam mengajukan konsep-konsep kebijakan mereka kepada Gedung Putih tentang beberapa topik ini dengan harapan dapat memengaruhi perumusan posisi kebijakan luar negeri AS yang lebih jelas dalam beberapa bulan mendatang.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMenuding Negara-Negara Mitra Dagangnya Curang, Hanya Dalih Untuk Melanggengkan Hegemoni Ekonomi Global ASSelanjutnyaUkraina Menggantikan Kedudukan India Sebagai Pengimpor Senjata Terbesar Di Dunia

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents