Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca Ketegangan Yordania Versus IranYordania Versus Iran

Rusman

Rusman·18 April 2024·4 menit baca

Bagikan
Membaca Ketegangan Yordania Versus Iran
Serpihan Isu dan Fenomena Lain dalam Konflik Iran-Israel
Iran mengancam akan menyerang Yordania (selanjutnya ditulis: Yordan) jika masih nekat membantu Israel. Nah, ancaman tersebut, ataupun ‘serangan’ Iran kelak, perlu dikaji sebagai serpihan isu lain dalam konflik Israel versus Iran.
Apa pasal pemicu?
Tak lain, beberapa aksi militer Yordan mencegat rudal dan drone Iran sehingga gagal mengenai target di Israel. Tak pelak, aksi tersebut membuat ‘Iran marah’. Lumayan. Kendati puluhan roket tercegat (dari 300-an roket) di wilayah udara Yordan, aksi tersebut cukup ‘menampar’ Iran di satu sisi, walau pada sisi lain, Abdullah II —Raja Yordan— menuai protes dari rakyatnya karena membela Israel tapi abai terhadap nasib Gaza, juga Raja Yordan disindir Parlemen Eropa.
Atas pro kontra di atas, sebagian orang mengatakan wajar bila Yordan sebagai pemilik kedaulatan (udara) menembaki/intercept rudal-rudal yang melintas di udaranya karena dipersepsikan mengancam warga sipil. “Angkatan Bersenjata kami akan melawan apapun yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan dari tanah air dan warganya, dan kebersihan ruang udara serta teritori,” kata media Pemerintah Yordan.
Pendapat lain justru mempertanyakan, “Adakah rudal atau drone Iran yang nyasar mengenai objek di wilayah Yordan?” Menurut data, sampai saat ini belum ada peluru nyasar ke Yordan. Rudal Iran dikenal memiliki presisi tinggi. Tak mungkin jatuh ke Yordan. Seandainya ada korban dari warga Yordan akibat keliru sasaran, maka kewajiban Yordan melindungi wilayah udaranya dari lintasan benda-benda asing atas nama keamanan tanah air dan keselamatan warganya. Dalam konteks perang tersebut, Iran nyaris belum pernah salah sasaran dan tak satu pun korban di pihak Yordan. Namun demikian, pro kontra tersebut lanjut bergulir hingga kini.
Dari perspektif geopolitik, aksi Yordan kuat diduga hanya test the water. “Memancing reaksi publik”. Khususnya reaksi Iran. Ya. Yordan sebenarnya negara miskin penghasil garam, tapi sebagai catatan khusus bahwa ia merupakan proksi Amerika Serikat (AS). Itu poin andalan. Sementara poin lainnya, AS sendiri selaku ‘tuan’-nya Yordan justru tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan Israel versus Iran. Retorika pun berkelindan di ruang geopolitik merangkai asumsi baru, antara lain:
1. Sebagai proksi, kenapa Yordan nekat masuk dalam pusaran konflik Iran melawan Israel; dan/atau
2. Jangan-jangan, intercept terhadap rudal dan drone Iran oleh Yordan atas perintah AS secara silent?
Pertanyaan selidik mencuat mempertebal asumsi di atas, kenapa AS selaku ‘Polisi Dunia’ tidak ingin terlibat dalam konflik Iran versus Israel, padahal dunia tahu stigma Israel ialah ‘AS Kecil’ dan anekdot AS sebagai ‘Israel Besar’ — jika tidak boleh mengatakan Setan Kecil dan Setan Besar seperti julukan terhadap Israel dan AS yang disematkan oleh Imam Khomeni tempo doeloe?
Uraian di bawah ini, mencoba menjawab retorika dan pertanyaan di atas.
Tak boleh dielak, ujung dari perilaku geopolitik negara manapun ialah (meraih) geoekonomi. Pada terminologi lain, geoekonomi kerap disebut bagian dari agenda utama Kepentingan Nasional (National Interest), misalnya, atau lebih mengerucut lagi versi PBB, dimana makna Kepentingan Nasional itu sudah identik dengan kepastian jaminan untuk dapat survive bagi suatu negara yakni food and energy security dan di beberapa negara juga termasuk water (air bersih). Inilah makna poin-poin dalam perspektif geoekonomi.
Secara geostrategi, keengganan AS juga Inggris dan Perancis terlibat dalam konflik Iran melawan Israel, semata-mata terkait energy security-nya. Sebab, Selat Hormuz —merupakan chokepoint tersibuk di dunia— sangat vital dan strategis berada di teritori serta dalam kendali Iran. Karena kodrat geopolitik, Selat Hormuz dilintasi 22 juta barel minyak/per hari. Seandainya selat strategis tersebut ditutup oleh Iran dengan alasan Kepentingan Nasionalnya terganggu akibat konflik dengan Paman Sam, maka selain harga minyak dunia bakal melambung sangat tinggi, juga di dalam negeri AS sendiri niscaya timbul gejolak sosial ekonomi akibat krisis energi berkepanjangan yang akan berimbas pada krisis-krisis lain, terutama krisis politik.
Dan tentunya juga akan memberikan dampak kepada ekonomi negara-negara lain seperti kelompok negara di kawasan Eropa Barat dan Timur antara lain Inggris, Italia bahkan merambah di kawasan Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hongkong, termasuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara di antaranya Indonesia. Ini yang mutlak diwaspadai. Kenapa demikian, bahwa nyaris separuh kebutuhan energi AS terutama impor minyaknya berasal dari lintasan di Selat Hormuz, Iran.
Secara geopolitik, ketergantungan AS terhadap (kondusivitas) Selat Hormuz sangat tinggi, dan sisi lain yang dihitung oleh AS bahwa Iran merupakan aliansi Rusia dan Cina dalam BRICS. Keterlibatan AS pada konflik Iran – Israel justru memancing dedengkot BRICS turun gunung. Jika seperti itu, bisa terbangun asumsi baru bahwa pemicu Perang Dunia III nantinya bisa berawal di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.
Sekurang-kurangnya, fenomena lain yang perlu dicatat akibat konflik Iran-Israel antara lain adalah:
1) dunia kurang percaya lagi terhadap teknologi Israel terutama mesin perangnya yang selama ini dimitoskan sangat canggih;
2) melemahnya hegemoni Barat khususnya AS karena sikap plin-plan dan ‘ketidakberdayaan’ selaku Polisi Dunia; dan
3) ada proses pergeseran geopolitik (geopolitical shift) di Timur Tengah yang ditandai perdamaian antara Iran dan Arab Saudi —keduanya kini anggota BRICS— atas inisiasi Cina. Termasuk silent warfare dalam bentuk perang unipolar yang diremote AS versus multipolar yang dikendalikan BRICS.
Demikian sedikit bacaan tentang serpihan isu dan fenomena lain akibat ketegangan Iran dan Yordan, side effect dari konflik Israel melawan Iran.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBRICS Sport Games 2024, Memperkuat Kerja Sama Strategis Indonesia-Rusia di Berbagai BidangSelanjutnyaPakta Militer JAPHUS dan AUPHUS: Bisa Meningkatkan Eskalasi Ketegangan dan Perlombaan Senjata di Asia Tenggara

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents