Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca Konflik SuriahKonflik Suriah Dari Perspektif Arab Spring dan Stigma Bergerak

Rusman

Rusman·12 Desember 2024·5 menit baca

Bagikan
Membaca Konflik Suriah Dari Perspektif Arab Spring dan Stigma Bergerak

Telaah Kecil Proxy War di Suriah

Membaca larinya Bashar al-Assad ke Moscow, Rusia dan kemenangan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah, harus dilihat dari beberapa perspektif:

1. Kronologi Arab Spring semenjak ia bersemi di Tunisia (2010);

2. Teori “Stigma Bergerak” mulai dari isu al Qaeda – ISIS – Jabhat al-Nusra, dan terakhir isu HTS;

3. Strategi Proxy War alias perang perpanjangan tangan melalui pihak ketiga.

HTS inilah yang dianggap sukses menumbangkan Rezim Assad di Suriah setelah bercokol sekitar 50-an tahun apabila dihitung dimulai dari kekuasaan Hafez al-Assad —ayah dari Bashar al-Assad— sejak 22 Februari 1971.

Tanpa melihat dari tiga perspektif di atas, jika kurang cermat, selain bisa keliru dalam membaca kondisi yang terjadi di permukaan, publik juga dapat terjebak dengan apa yang disebut false flag operation (operasi bendera palsu) atas nama turbulensi geopolitik.

Sekilas Kiprah Arab Spring

Kita mulai dari Arab Spring atau Musim Semi Arab alias Kebangkitan Dunia Arab.

Tak bisa dipungkiri, Arab Spring merupakan peperangan asimetris (perang nirmiliter) atau asymmetric warfare yang digelar oleh Barat di Jalur Sutra (khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara) sejak 2010 hingga awal 2012-an melalui gerakan massa. Jadi, dalam gerakan tersebut tidak ada letusan peluru, tanpa asap mesiu. Ya. Arab Spring bertujuan ganti rezim di jajaran Jalur Sutra.

Gerakan Arab Spring dimulai sejak 18 Desember 2010 di Tunisia kemudian merambat ke Mesir, Libya, Bahrain, Suriah, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, Sahara Barat dan lainnya. Gerakan tersebut bergerak secara simultan dengan intensitas —besar dan kecilnya— berbeda.

Apa dan bagaimana ouput dari Arab Spring di Jalur Sutra?

Singkat kata, gelombang protes di Tunisia dinamai media massa sebagai Revolusi Melati. Ia meletus karena dipicu aksi bakar diri Mohamed Bouazizi (26 tahun) terhadap sikap pejabat setempat. Massa pun bergerak sistematis dan masif. Tak pelak, aksi ber-isu-kan kemiskinan, korupsi, kebebasan dan demokrasi tersebut mampu memaksa Zine al-Abidine Ben Ali, Presiden Tunisia, mundur dan lari ke luar negeri (14 Januari 2011).

Ketika Revolusi Melati merambat ke Mesir, ia mampu menumbangkan Presiden Husni Mubarok yang telah berkuasa 30 tahun. Sukses di Tunisia dan Mesir, gelombang massa (Arab Spring) berlanjut ke Yaman, Bahrain, Libya, Suriah pada Januari, Februari dan Maret 2011.

Tidak semua metode gerakan massa berjalan sukses, meski di Yaman juga mampu menjatuhkan Presiden Ali Abdullah Saleh, lalu diganti oleh Wakil Presiden Abdullah Rabbuh Mansur Hadi. Tak pelak, peristiwa di Yaman itu mirip kasus 1998 di Jakarta, dimana Pak Harto lengser oleh gerakan massa kemudian digantikan Pak Habibie. Bahkan ada pendapat bahwa gerakan massa di Jalur Sutra itu meniru gerakan reformasi di Jakarta.

Balik ke Jalur Sutra. Tatkala Arab Spring tiba di Libya, Suriah dan beberapa negara lain, namun dianggap gagal karena selain kurangnya respon rakyat, juga kemampuan pemerintah setempat mengendalikan aksi unjuk rasa.

Gagal melalui gerakan massa, khusus di Libya dan Suriah, tensi gerakan dinaikkan oleh Barat menjadi manuver bersenjata alias pemberontakan sipil. Nah, pada peristiwa tersebut terlihat perbedaan kepemimpinan antara Muammar Khadafi dan Bashar al-Assad. Pada konteks ini, Bashar mampu “mengayun” pemberontakan sipil hingga konflik berlarut sampai tiba kejatuhannya (2024) tetapi tanpa melalui resolusi PBB, sedangkan Khadafi jatuh akibat resolusi PBB. Ia terpancing dalam menghadapi pemberontakan sipil dengan mengerahkan mesin-mesin perang modern.

Di sinilah blunder Khadafi. Bombardir mesin perangnya dinilai sebagai pelanggaran HAM. “Tidak seimbang antara aksi dan reaksi.” Atas dasar laporan puluhan NGO Libya yang berafiliasi ke Barat, terbitlah Resolusi PBB Nomor 1973 tentang No Fly Zone. “Zona Larangan Terbang”. Namun, praktiknya justru bombardir NATO terhadap Libya hingga luluh lantak. Dunia diam membisu. Khadafi dinyatakan “tewas”, kekayaannya di luar negeri dibekukan (entah kini dimiliki siapa), sumber daya alam (SDA)-nya menjadi bancaan asing, dan Libya sekarang seperti negara tak bertuan.

Pertanyaan lebih dalam ialah, apa hakiki Arab Spring di Jalur Sutra?

Singkat kata, ia sejenis Revolusi Berwarna (Color Revolution) yang pernah terjadi di Semenanjung Balkan atau istilahnya Balkanisasi. Meski Balkanisasi itu sendiri merujuk pada:

1. Pecahnya Kekaisaran Ottoman setelah Perang Dunia I; dan

2. Pecahnya Yugoslavia dari 1991 hingga 1992.

Namun, kita bahas topik balkanisasi pada sesi lain. Terlalu panjang. Sekarang kita bahas soal Stigma Bergerak sebagaimana clue dalam tulisan ini.

Stigma Bergerak dan Kiprahnya

Memang belum ada definisi dan keterangan text book tentang “Stigma Bergerak”. Maka ia perlu realita kasus, sedikit pendalaman, dan contoh peristiwa, misalnya, Irak di era Saddam Hussen silam (2003). Sebelum diserbu oleh koalisi militer Barat pimpinan Amerika Serikat (AS), ia dituduh “menyimpan senjata pemusnah massal.” Katakanlah, ini isu permulaan atau stigma pertama terhadap Irak yang dituduhkan AS.

Ketika isu senjata pemusnah massal tidak terbukti, namun Irak terlanjur porak-poranda, stigma pun berubah menjadi isu “menegakkan demokrasi.” Nah, ini stigma alias isu kedua.

Dan setelah Saddam dihukum gantung lalu pemerintah Irak dalam kendali koalisi militer asing, stigma pun berubah menjadi “menjaga stabilitas”. Ini isu ketiga atau terakhir.

Gambaran perjalanan atau perubahan stigma mulai isu pertama (senjata pemusnah massal), isu kedua (menegakkan demokrasi), hingga isu terakhir (menjaga stabilitas) disebut: “Stigma Bergerak”. Isu tersebut bergerak menyesuaikan situasi dan kondisi terbaru di negara target.

Demikian pula dengan apa yang terjadi di Syria kini. HTS itu isu paling terakhir setelah stigma permulaan yakni isu al-Qaeda “kalah” dalam peperangan di Afghanistan (2001-2011) dimana gembong teroris Osama bin Laden dinyatakan “tewas” diserbu Navy Seal, pasukan elit AS, di Pakistan. Secara tersirat, War on Terrorism dinyatakan tutup buku oleh Barat. NATO ditarik dari Afghanistan.

Bubarnya al-Qaeda tidak serta merta selesai, ia pun berganti kelamin menjadi ISIS di bawah komando Abu Bakr al-Badaghdadi; namun, ISIS pun kalah dalam proxy war di Suriah dan kemudian mlungsungi menjadi Jabhat al-Nusra; dan terakhir Jabhat al-Nusra berganti menjadi HTS yang mampu menjatuhkan Bashar al-Assad sehingga Assad lari ke Moscow, meminta suaka politik.

Selanjutnya, antara keempat isu di atas (al-Qaeda, ISIS, Jabhat al-Nusra dan HTS) sebenarnya serupa tetapi tak sama. Serupa dalam hal pola, tidak sama pada modus dan aktornya. Lalu, apa target dan motif stigma bergerak tersebut? Satu kata: Minyak!

“If you would understand world geopolitics today, follow the oil,” kata Deep Stoat, salah satu pakar strategi AS. Bila ingin memahami dunia geopolitik hari ini, ikuti kemana minyak mengalir. Atau, kata Guilford: “When it comes to oil 90% about politics, 10% is about oil itself“.

Retorika filosofi dalam ujung catatan ini ialah, “Seandainya Suriah hanya penghasil kurma dan nasi kebuli, apakah mungkin stigma bergerak ada (being), nyata (reality) dan berperan (existence) di negeri lintasan pipa minyak dan gas (geopolitical pipeline) antarnegara tersebut?”

Inilah sedikit ulasan singkat tentang proxy war di Suriah. Let them think, let them decide. Siapa pemenang dan siapa kalah dalam perang proksi di Suriah korbannya adalah rakyat Suriah.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSeharusnya Indonesia Bisa Berperan Sebagai Global Player Dalam Persaingan AS-CinaSelanjutnyaBeberapa Perusahaan Industri Militer Strategis Dan Think-Thank AS Sumber Pemicu Meningkatnya Lomba Senjata dan Proyek Perang di Asia Pasifik

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents