Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca Modus Asing Merebut Jakarta dari Perspektif Perang AsimetrisPerspektif Perang Asimetris

Rusman

Rusman·26 Agustus 2024·4 menit baca

Bagikan
Membaca Modus Asing Merebut Jakarta dari Perspektif Perang Asimetris
Telaah Kecil tentang Unjuk Rasa 22-23 Agustus 2024 di Pelbagai Daerah
Membaca dinamika (geo) politik itu simpel. Pada level manapun. Entah di tingkat lokal, regional ataupun konstelasi di level (geopolitik) global. Katakanlah, apabila terjadi ‘benturan kepentingan’ antarnegara/antarkelompok dan/atau antarentitas di lapangan dalam bentuk konflik, misalnya, atau demonstrasi, rusuh massa dan seterusnya, itu pertanda bakal ada bargaining alias tawar-menawar baik posisi, peran, terutama mapping dan kavling-kavling (geo) ekonomi antar dan oleh para pihak yang bertikai di wilayah target. Akan tetapi, jika tidak terjadi benturan kepentingan antarpara pihak, artinya sudah deal, tinggal bagi-bagi peran dan kue (geo) ekonomi. Ini asumsi penulis, sekaligus prolog pada catatan kecil ini.
Merujuk asumsi di atas, bahwa unjuk rasa serentak tanggal 22-23 Agustus 2024 di berbagai daerah kemarin, tercium bau menyengat sebagai modus bargaining dari salah satu entitas pada satu sisi, namun terbaca juga sebagai ‘cek ombak’ di sisi lain. Test the water.
Isunya protes rakyat atas manuver DPR RI merevisi Putusan MK No 60 dan 70 tentang ambang batas dan usia calon kepala daerah (cakada) karena merugikan salah satu pihak. Isu ini nyata lagi aktual. Dalam konteks ini, substansi isu merugikan salah satu dari para pihak (partai politik) terkait Pilkada. Sejatinya bukan rakyat yang dirugikan. Meski hal tersebut tetap saja dinilai mencederai rasa keadilan publik yang telah lelah melihat atraksi para politisi. Unsur lelah inilah yang dieksploitasi, dijadikan pintu masuk oleh invisible hands.
Indikasinya seperti apa?
Pertama, diawali beredarnya stiker Garuda Biru di media sosial bertajuk “Peringatan Darurat”. Bukan dadakan, itu isu provokatif yang halus lagi konseptual. Dari mana sumbernya? Tersirat, garuda hendak ‘dibirukan’;
Kedua, isu yang diusung dalam unjuk rasa tak menyentuh kepada kepentingan rakyat seperti turunkan harga, contohnya, atau buka lapangan kerja, hapus pajak, subsidi dan lain-lain;
Ketiga, gerakan massa serempak pada jam, tanggal dan sasaran yang sama. Ini terkesan adanya pengendali;
Keempat, anggapan tentang lemahnya pengamanan oleh aparat yang berwenang —tidak biasanya— sehingga kantor DPR/D dengan mudah bisa dijebol, namun uniknya tidak ada tindak lanjut gerakan massa, contohnya, pendudukan gedung sampai berhari-hari dan seterusnya;
Kelima, tatkala quarom tak tercapai, seketika Dasco, Wakil Ketua DPR RI menyatakan pembatalan pembahasan revisi Putusan MK No 60/70;
Keenam, besoknya (23/8) unjuk rasa agak mereda;
Ketujuh, dan lain-lain, termasuk mudahnya kelompok demonstran merobohkan pintu pagar DPR RI.
Kita naik dulu ke level global. Dari perspektif geopolitik, Indonesia merupakan ‘medan tempur’ (proxy war) secara nirmiliter (asimetris) antara Cina versus Barat dalam hal ini ialah Amerika Serikat (AS) dkk. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia ini hari tengah terjepit oleh dua agenda global yakni OBOR atau Belt and Road Initiative (BRI)-nya Cina di satu pihak, dan One Goverment One System (OGOS) atau New World Order punya AS di pihak lain. OGOS bermanuver lewat isu DHL (Demokrasi, HAM, Lingkungan), sedang OBOR atau BRI melalui ‘pendekatan panda’ (utang) yakni investasi asing berskema Turnkey Project Management pada infrastruktur jalan, simpul-simpul transportasi laut/udara, investasi di sektor minerba, IT, Star-up dan lainnya.
Jujur harus diakui, bahwa liberalisasi konstitusi dalam bentuk amandemen UUD 1945 silam (1999-2002) adalah karya Barat cq AS dkk, namun yang menikmati kini justru Cina.
Dari singkat uraian di atas, bisa diambil hipotesis sementara tentang siapa di balik Garuda Biru dan cakada mana hendak diloloskan. Let them think let them decide. Kenapa? Jakarta adalah kunci. Selaku kota global kelak, niscaya aktivitas segalanya masih berada di Jakarta sedang IKN hanya sekadar ibukota administrasi.
Kembali ke konflik lokal. Tampaknya, koalisi gendut KIM Plus (12 partai) membuat galau entitas partai di luar koalisi. Kolam-kolam menuju partai tunggal (Kim Plus) perlu diacak-acak dan “dikeruhkan air”-nya terutama dalam rangka penguasaan Jakarta. Nabok nyilih tangan. Tidak ada kawan dan lawan abadi kecuali kepentingan. Dan tidak ada ideologi dalam politik melainkan meraup massa dan menancapkan kepentingan. Itu kredo tua kepolitikan.
Di sini, banyak pendukung militan berbasis ideologi bakal kehilangan jejak idolanya. Kecewa berat. Lalu, misuh-misuh. Maka ibarat seutas tali, politik itu ujungnya selalu “bundel’, apa itu? Uang dan kekuasaan.
Jadi, siapapun mereka, entah Mulyatno, Mulyono, atau Mulbowo, dan Mul-Mul lainnya hanya seutas tali menuju ritual liberalisme melalui UUD NRI 1945 alias UUD2002. Entah sampai kapan polarisasi berkala ini terus berlangsung di Tanah Air.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBlackwater, “Anak Kandung” Agenda Swastanisasi Militer ASSelanjutnyaProgram Politik Mendukung Hak Kekayaan Intelektual, Keir Starmer Tetap Dalam Skema Neokolonialisme Inggris

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents