Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membaca PancasilaPancasila dari Pandang Filsafat

Rusman

Rusman·2 Agustus 2025·3 menit baca

Bagikan
Membaca Pancasila dari Pandang Filsafat
Singkat narasi soal perbedaan tasawuf dan filsafat ialah, bahwa tasawuf itu membidani apa yang disebut dengan istilah aliran, misalnya, atau teori, paham, perspektif, ataupun ideologi dan lain-lain yang sejenis. Dan kelahiran ‘bayi’ ideologi, paham, perspektif dll tadi didasarkan pada penjabaran, analog atau penelitian dari individu-individu yang menafsirkan.
Kelemahan tasawuf itu — nantinya bisa memunculkan kerawanan. Kenapa? Sebab, entah ideologi, aliran/paham, perspektif dst berpotensi membelah umat itu sendiri disebabkan masing-masing golongan bangga dengan paham yang diyakini, bangga dengan golongannya, ataupun terlalu pe de dengan ideologi yang dianut. “Merasa paling benar sendiri.”
Kekuatan tasawuf itu bahasanya halus, rapi tertata, enak dibaca dan didengar. Maka, siapa tidak kuat fondasi dan pijakan bakalan hanyut digulung ‘ombak’ tasawuf.
Praktik operasional tasawuf — orangnya sendiri yang justru memisahkan diri secara otomatis dengan lingkungan. Ia cenderung eksklusif.
Berbeda dengan tasawuf, kalau olah filasat menghasilkan PRINSIP. Dimana semua akan sama pada level/tingkatan kehidupan. Dengan kata lain, semuanya nol, netral, balance dan lain-lain. (Orang) filsafat cenderung ‘diam’ karena mengerjakan prinsip tersebut, membaur dengan lingkungan sekitarnya.
Kelemahan filsafat — bahasanya kasar. To the point. Tidak butuh basa-basi. Sedangkan kekuatan filsafat, bahwa PRINSIP dimaksud — hasil olah filsafat bisa dan boleh digunakan oleh semua pihak serta golongan karena bersifat netral.
Inilah sekilas narasi tentang perbedaan antara tasawuf dan filsafat dari sisi pandang Islam.
Pancasila, contohnya, ia lahir dari rahim filsafat, bukan rahim tasawuf. Sejatinya Pancasila bukanlah ideologi. Ia lebih tinggi kastanya daripada sekadar ideologi. Kaum cerdik pandai —para Pendiri Bangsa— di zaman pergerakan dulu kerap menyebutnya dengan istilah Philosophische Grondslag. Itu istilah Belanda, yang artinya ialah “dasar filosofis atau landasan filosofis”.
Dalam konteks keindonesiaan, istilah ini kerap terhubung serta dikaitkan dengan Pancasila sebagai dasar negara. Secara lebih luas, Philosophische Grondslag merujuk pada landasan pemikiran yang mendalam dan fundamental serta menjadi dasar bagi suatu sistem, misalnya, atau sebuah IDEOLOGI, ataupun negara.
Makanya, setiap sila dalam Pancasila terkandung dan tersurat prinsip-prinsip. Contoh, prinsip ketuhanan pada sila pertama; prinsip kemanusiaan di sila kedua; prinsip persatuan dan kesatuan; prinsip musyawarah mufakat; dan prinsip keadilan (sosial) di sila terakhir.
Dunia mengakui, Pancasila itu lebih unggul daripada Komunis karena menganut prinsip ketuhanan (sila ke-1). Juga, ia lebih dahsyat dibanding Kapitalisme karena ada sila ke-5: “Keadilan Sosial”.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan (dengan keberadaan Pancasila)?
Akan tetapi, semenjak UUD 1945 karya para Pendiri Bangsa diubah empat kali (1999-2002) oleh sekelompok reformis gadungan, lalu kodenya diganti menjadi UUD NRI 1946 —kerap disebut UUD 2002— Pancasila kini jadi semacam mitos di Bumi Pertiwi. Ada, tapi tak nyata. Ada, namun tidak berada (existence).
Dalam suatu acara, (alm) Buya Syafii Maarif sempat mengeluhkan:
“Pancasila dimuliakan dalam kata, diagungkan dalam tulisan, namun dikhianati dalam perbuatan”
Pararel dengan keluhan Syafii Maarif, dalam simposium peringatan Dekrit Presiden 1959 di Universitas Jayabaya, Jakarta, 15 Juli 2025 lalu, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wapres RI ke-6, menyampaikan gelisah batinnya atas praktik Pancasila sekarang. Beliau berkata:
“Sejak UUD 1945 karya Pendiri Bangsa diamandemen empat kali pada 1999 hingga 2002 oleh para oknum reformis, seketika konstitusi kita berubah menjadi materialis – hedonis, individualis, liberal dan kapitalistik. Itu titik awal. Akar masalahnya. Bahkan, praktik konstitusi sekarang telah meninggalkan Pancasila selaku Norma Hukum Tertinggi dan mengabaikan Pancasila sebagai Philosophische Grondslag.”
Inilah yang kini terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif. Bangsa ini, seperti kompak mengubur Pancasila, agar hidup bergelimang aib, berselingkuh dengan nilai-nilai asing yang tidak cocok dengan tekstur tanah Pancasila. Dan kegaduhan di segala gatra pun, nyaris tak bertepi.
Mengakhiri paparan ini, muncul retorika menggelitik, “Apakah bangsa ini tergolong kufur nikmat, karena diberi anugerah Pancasila yang lebih unggul daripada Komusis dan Kapitalis, kok justru diabaikan, dicampakkan?”
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIslamophobia dan Muslim di EropaSelanjutnyaVisa dan Mastercard Panik, QRIS Santai Saja

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents