Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Mempertimbangkan Gelombang Gagasan Untuk Mengembalikan MPRMPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara

Rusman

Rusman·4 September 2023·3 menit baca

Bagikan
Mempertimbangkan Gelombang Gagasan Untuk Mengembalikan MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara
Banyak elit politik di era reformasi kini, justru ‘menikmati ketersesatan’ (meminjam istilah Ichsanuddin Noorsy) di tengah konstitusi liberal ala Barat pasca – amandemen UUD 1945 (1999 – 2002). Maka kebanyakan mereka takut terhadap diksi ‘perubahan’. Entah kenapa. Barangkali, di benak mereka berkata, “Jangan-jangan, perubahan justru mengurangi kenikmatan yang diperolehnya, atau bahkan mencabut segala fasilitas yang didapatnya selama ini?” Ini asumsi penulis. Mari kita breakdown. Asumsi di atas, terlihat dari perilaku dalam dinamika politik (praktis). Sehingga ketika salah satu bakal calon presiden (bacapres) menggulirkan ide tentang perubahan —Anies Baswedan misalnya— ia pun diserang dari sana-sini serta di- bully habis-habisan. Padahal, perubahan yang dikehendaki Anies masih belum jelas. “Bahkan ada yang menyatakan bahwa Anies itu sentesis dari Jokowi”. Bukankah sintesis itu juga perubahan (dan percampuran) yang selaras? Jujur harus diakui, bahwa konstitusi negara hasil empat kali amandemen UUD 1945 beserta UU turunannya, berpotensi menciptakan deadlock. Kemacetan konstitusi. Hal ini terlihat dari kegelisahan beberapa Lembaga Tinggi Negara. Kegelisahan tersebut disampaikan oleh Bamsoet, Ketua MPR RI, dalam Pidato Kenegaraan pada Rabu, 16 Agustus 2023 di Gedung Nusantara II: ” .. bagaimana sekiranya menjelang Pemilu terjadi sesuatu yang di luar dugaan kita bersama, seperti bencana alam yang dahsyat berskala besar, peperangan, pemberontakan, atau pandemi yang tidak segera dapat diatasi, atau keadaan darurat negara yang menyebabkan pelaksanaan Pemilu tidak dapat diselenggarakan sebagaimana mestinya, tepat pada waktunya, sesuai perintah konstitusi? Maka secara hukum, tentunya tidak ada Presiden dan/atau Wakil Presiden yang terpilih sebagai produk Pemilu.. “ Bamsoet melanjutkan, “Dalam keadaan demikian, timbul pertanyaan, siapa yang memiliki kewajiban hukum untuk mengatasi keadaan-keadaan bahaya tersebut? Lembaga manakah yang berwenang menunda pelaksanaan pemilu? Bagaimana pengaturan konstitusionalnya jika pemilu ditunda, sedangkan masa jabatan Presiden, Wakil Presiden, anggota-anggota MPR, DPR, DPD dan DPRD, serta para menteri anggota kabinet telah habis? Masalah-masalah seperti di atas belum ada jalan keluarnya setelah perubahan UUD 1945 ..” Tak pelak, kegelisahan Bamsoet pun ditangkap oleh LaNyalla Mattalitti, Ketua DPD RI, kemudian dirumuskan dalam Lima Proposal Kenegaraan. Adapun poin inti proposal DPD RI adalah sebagai berikut: 1. Mengembalikan MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara; 2. Membuka peluang adanya anggota DPR RI berasal dari unsur perorangan alias nonpartisan; 3. Memastikan Utusan Daerah dan Utusan Golongan secara bottom up, bukan top down alias penunjukan dari Presiden seperti yang pernah terjadi di era Orde Baru; 4. Memberikan kewenangan kepada Utusan Daerah dan Utusan Golongan untuk memberikan pendapat terhadap materi RUU yang dibentuk DPR bersama Presiden; 5. Menempatkan secara tepat, tugas dan fungsi Lembaga Negara yang sudah dibentuk di Era Reformasi, sebagai bagian dari kebutuhan dari sistem dan struktur ketatanegaraan. Agaknya, kegelisahan Bamsoet dan LaNyalla disambut secara gegap gempita oleh berbagai elemen masyarakat dan tokoh masyarakat. Di satu sisi, ide kembali ke MPR selaku Lembaga Tertinggi Negara serta Lima Proposal di atas terus bergulir membuat snowball process. Semakin lama kian meluas dan membesar. Namun pada sisi lain, disinyalir ada upaya kanalisasi terhadap isu kembali ke MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara. Katakanlah, banyak profesor kini panik! Entah mengapa. Yusril Ihza Mahendra (YIM) contohnya, ia menyarankan bila ada calon tunggal, sebaiknya Presiden menerbitkan Perppu untuk menganulir presidential threshold 20% menjadi 0% agar banyak capres bermunculan. Kenapa Prof YIM tidak menyarankan pilpres di MPR sebagaimana mekanisme warisan the Founding Fathers? Demikian pula Prof Jimly Asshiddiqie. Dalam FGD di Lemhannas (28/8/2023), Jimmly justru membuat statement konyol. Ia menyarankan agar pemilihan Wapres di MPR, namun pilpres tetap dilaksanakan secara langsung (one man one vote). Ini pernyataan lucu lagi absurd. Demikian gambaran situasi pasca-Pidato Kenegaraan pada hari Rabu, 16 Agustus 2023. Banyak profesor panik menghadapi gelombang gagasan untuk kembali ke MPR sebagai Lembaga Tertinggi Negara. Dan situasi yang bergulir ke arah deadlock tersebut, diawali dengan Koalisi Perubahan bergeser menjadi ‘perubahan koalisi’ dengan munculnya deklarasi Anies-Cak Imin di Surabaya. Heboh! Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSayang Sekali Indonesia Batal Jadi Anggota Baru BRICSSelanjutnyaJalur Rempah Nusantara

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents