Menakar Calon Pemimpin Indonesia

Bagikan artikel ini

Stefi V Farrah, peneliti yunior di LSISI Jakarta

Pemilu 2014 menghadirkan dua kandidat yang memperebutkan posisi sebagai Presiden Indonesia untuk lima tahun ke depan. Prabowo Subianto dan Joko Widodo, hingga saat ini bertarung keras untuk mendapatkan simpati dan dukungan seluruh rakyat Indonesia.

Kedua sosok ini mungkin salah satu putra terbaik bangsa yang dimiliki saat ini. Prabowo Subianto dikenal sebagai Mantan Komandan Jenderal Kopassus serta Panglima Komando Strategis Angkatan Darat, yang berhenti dari TNI dengan pangkat Letnan Jenderal. Sementara itu Joko Widodo telah membuktikan bahwa seseorang dari daerah bisa muncul sebagai unggulan dalam perpolitikan nasional. Memulai pengalaman kepemimpinan sebagai Wali Kota Solo dan dijanjutkan sebagai Gubernur Jakarta, ia mencoba peruntungan kembali untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Rekam Jejak

Dalam menentukan calon presiden yang akan dipilih, maka rekam jejak merupakan suatu hal yang sangat diperhitungkan. Dalam pemilihan di nagara mana pun, kualitas terbaik seorang pemimpinlah yang diinginkan untuk memerintah dan mengupayakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Prabowo Subianto merupakan seorang prajurit dengan karier yang sangat cemerlang. Setelah 23 tahun mengabdi dalam dinas kemiliteran, ia berhasil meraih pangkat bintang satu atau brigadir jenderal pada Desember 1995. Dan hanya dalam tiga tahun, ia meraih pangkat bintang tiga, setelah dilantik sebagai Pangkostrad pada maret 1998.

Namun sayang, kariernya justru hancur ketika ia seharusnya akan menanjak ke pangkat tertinggi di TNI Angkatan Darat. Berdasarkan rekomendasi dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF), ia terbukti terlibat dalam penculikan beberapa aktivis pada era reformasi 1998. Prabowo kemudian dipecat secara resmi oleh Panglima TNI Wiranto setelah  mendapatkan masukan dari Dewan Kehormatan Perwira.

Namun hingga kini, Prabowo tetap membantah bahwa dirinya terlibat langsung dalam beberapa kasus pelanggaran HAM, seperti penculikan aktivis dan tragedi kerusuhan 1998. Menurutnya, hingga kini belum ada bukti autentik yang dapat membuktikan bahwa ia lah yang bersalah atau terlibat langsung dalam kedua kasus tersebut.

Berbeda dengan Prabowo, Joko Widodo sejak awal dikenal sebagai pemimpin yang merakyat. Ia dikenal sebagai seseorang yang berjuang dari bawah, dan berusaha mendekatkan diri pada masyarakat. Hal ini ia buktikan, ketika pada 2010 ia terpilih kembali menjadi Walikota Solo dengan tingkat keterpilihan sebesar 90,09 persen. Suatu kemenangan yang sangat mutlak di dalam sebuah pemilu.

Strategi untuk dekat dengan rakyat pun ia lakukan ketika bertarung dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Banyak pihak sebelumnya yang menganggap enteng pada Jokowi, dan Fauzi Bowo sebagai incumbent akan menang dengan mudah. Namun dalam dua kali puataran pemilihan, Jokowi berhasil unggul serta berhak menjadi pemimpin di Jakarta dengan perolehan suara 53,82 persen.

Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI, dukungan kepadanya kian mengalir deras. Ia digadang-gadang untuk maju dalam bursa pemilu 2014. Pada akhirnya, ia dengan syah maju dalam Pemilihan Presiden setelah didukung Partai PDIP, Hanura, PKB, dan Nasdem.

Memperbandingkan rekam jejak kedua calon presiden ini seperti melihat kondisi yang antagonis. Prabowo yang merupakan anak emas orde baru dengan cepat meraih jabatan yang tinggi, namun harus berhenti seiring dengan kejatuhan Pemerintahan Soeharto. Hal yang sangat memberatkan ialah ia dituduh terkait kasus pelanggaran HAM yang kasusnya masih berjalan hingga saat ini. Hal ini berbeda dengan Jokowi yang muncul sebagai “anak singkong” yang berasal dari sebuah kampoug di Jawa Tengah. Kemunculannya sebagai Calon Presiden saja, sudah mendapatkan decak kagum berbagai kalangan.

Kekuatan Karakter dan Pandangan Politik

Dengan segudang pengalaman dalam dinas kemiliteran, Pabowo diidentikkan sebagai tipikal pemimpin yang tegas dan berani, relatif bersih dari korupsi, serta memiliki visi dan misi yang kuat misi sebagai seorang presiden. Ia juga dinilai mampu membangun komunikasi dengan setiap golongan. Dari pandangan ekonomi, visinya tentang ekonomi kerakyatan yang merupakan roh dari pasal 33 UUD 1945, mendapat banyak dukungan dari masayarakat. Namun banyak pihak yang menanti bagaimana ekonomi kerakyatan ini nantinya akan diimplementasikan secara nyata.

Prabowo juga dipandang sebagai sesorang yang ultra nasionalis, hal ini terlihat dari beberapa pkali pernyataannnya yang ingin melawan neo liberal, serta menyebutkan Indonesia sebagai negara yang kaya namun penduduknya miskin, rakyat hanya jadi ‘kacung’ asing. Tentunya hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kelompok petani, nelayan, TKI dan kaum buruh.

Namun, sayangnya Prabowo sering dikaitan dengan penculikan aktivis, serta dinilai pihak memiliki tipikal yang keras kepala atau sulit menjalankan dialog secara setara dengan pihak lainnya. Terkait dengan partai politik pendukungnya, Prabowo juga diisukan erat edengan kelompok islam radikal yang kurang memiliki toleransi dengan penganut agama lainnya, serta bersinggungan dengan gerakan teroris.

Sementara itu, Jokowi merupakan paling popular yang dibuktikan dengan hasil survey berbagai lembaga riset dan lembaga penelitian. Kesederhanaany dan gaya politik yang rendah hati mampu menembus birokrasi dan keprotokolan yang selama ini terkenal kaku. Jokowi menjadi sosok yang begitu dekat dengan rakyat dengan strategi blusuka yang hampir setiap hari ia lakukan.

Selain itu, Jokowi dinilai relatif bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme. Baik sebagai Wallikota dan Gubernur, ia belum ternah terkait dengan kasus korupsi yang ada di pemerintahan. Dengan pengalaman sebagai pamong, ia menjelama sebagai birokrat yang tipikal pemimpin yang administratif dan humanis serta tidak memiliki masalah dengan masa lalu.

Sementara itu kelemahan Jokowi dari berbagai wawancara dan debat yang dilakukan ialah belum memiliki dan menguasai konsep pembangunan ekonomi yang komprehensif, guna menjawab tantangan perekonomian Indonesia masa kini dan masa depan. Jokowi juga belum memiliki konsep tentang pengembangan sistem pertahanan dan kompleksitas sistem pertahanan nasional. Masalah lain Jokowi ialah komunikasi politik yang masih belum baik ,dan dinilai setingkat dibawah Prabowo.

Kemampuan Wakil Presiden

Prabowo Subianto menetapkan Hatta Rajasa sebagai pasangannya untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini pernah duduk sebagai menteri perhubungan, menteri riset dan teknologi, serta kini duduk sebagai menteri koordinator perekonomian. Ia dikenal sebagai politisi ulung, di bawah kendalinya, PAN berhasil menguatkan kedekatan ideologi dengan Ormas Islam Muhammadiyah. Kedekatan Hatta Rajasa dengan Muhammadiyah inilah yang menjadi salah satu faktor utama warga Muhammadiyah banyak mendukung PAN dalam Pemilu Legislatif 2014.

Namun dari sisi prestasi, belum ada prestasi cemerlang yang ia torehkan selama 13 tahun ada di pemerintahan. Saat menjabat menteri perhubungan, selama kurun 2004-2007, banyak terjadi kecelakaan kereta api. Saat sebagai Menristek, juga belum ada penemuan-penemuan fenomenal yang dilahirkan para ilmuwan Indonesia. Kini sebagai Menko Perekonomian, ia juga tidak bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan. Pertumbuhan ekonomi hanya ada di kisaran 5 persen dari target di atas 6 persen.

Sementara itu, calon wakil presiden Jusuf Kalla dikenal sebagai pribadi yang matang. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada periode 2004-2009. Pada periode itu perannya sangat menonjol, bahkan sempat dikatakan adanya matahari kembar atau ada dua kepemimpinan dalam pemerintahan.   Keunggulan lain  ialah pengalaman sebagai pengusaha, yang menguasai konsep-konsep ekonomi makro sehingga dapat menutupi kelemahan Jokowi.

Sisi lain yang mengangkat nama Yusuf Kalla ialah kepopulerannya sebagai tokoh perdamaian. Ia pernah menerima penghargaan Tokoh Perdamaian Dunia dari World Assembly of Youth (WAY) atas jasanya dalam usaha perdamaian di Ambon, Poso, dan Aceh.

Namun, Kebiasaan Jusuf Kalla untuk tampil lebih menonjol daripada presiden,   bisa menjadi problem tersendiri. Bila Jokowi tidak dapat meredam, ada kemungkinan bahwa dua kepemimpinan akan terjadi kembali, mengingat kematangan berpolitik Yusuf Kalla selama ini. Kelemahan lain Jusuf Kalla ialah faktor usia, dengan umur yang sudah 72 tahun, maka mobilitasnya lebih terbatas. Untuk itu, kesehatan dan stamina dari kandidat wakil presiden ini harus serius dijaga, karena lima tahun ke depan bukanlah waktu yang singkat.

 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com