Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Mengapa IranIran Tak Mudah Dilemahkan Seperti Venezuela?

Rusman

Rusman·9 Januari 2026·4 menit baca

Bagikan
Mengapa Iran Tak Mudah Dilemahkan Seperti Venezuela?

Ngobrol Geopolitik Kontemporer Bersama Ichsanuddin Noorsy tentang Mahalnya Harga Geopolitik

Diskursus geopolitik global saat ini tidak bisa dilepaskan dari pergeseran strategi Amerika Serikat (AS) dalam mempertahankan hegemoninya. Di tengah melemahnya efektivitas perang konvensional dan meningkatnya resistensi global terhadap dominasi dolar AS, Donald Trump mengadopsi pendekatan baru yang lebih sistematis. Yaitu weaponization of geography, atau persenjataan geografi melalui penguasaan chokepoints strategis dunia.

Dalam konteks ini, muncul Trump-era Neo-Monroean Strategy — sering disebut secara populer sebagai Trump Corollary. Yakni kelanjutan pragmatis dari Doktrin Monroe (1823) dan Roosevelt Corollary (1904). Doktrin itu disesuaikan dengan tantangan abad ke-21 seperti perlawanan Cina, kehadiran BRICS, dan ancaman dedolarisasi global. Pertanyaannya, jika Venezuela “digulingkan”, siapa target berikutnya?

Trump Corollary: dari Aliansi ke Chokepoints

Berbeda dengan pendekatan liberal-institusional ala NATO, strategi era Trump lebih menekankan kontrol atas titik sempit geografis (chokepoints) dibanding pengelolaan aliansi. Somaliland adalah contoh nyata, walau itu dilakukan oleh Israel, saudara sekandung AS yang amat disayangnya.

Tiga pilar utama Trump Corallary adalah: 1) hak campur tangan AS di Belahan Bumi Barat dan Amerika Latin demi stabilitas dan kepentingan nasional AS; 2) pencegahan pengaruh kekuatan asing, terutama Cina dan jejaring BRICS. Ini sudah ditegaskan dalam National Defence Strategy of USA 2018; dan 3) legitimasi penggunaan kekuatan, termasuk militer, jika kepentingan strategis AS terancam. Maka Department of Defence berganti nama menjadi Department of War.

Selain tiga pilar di atas, Trump Corallary juga fokus pada Terusan Panama sebagai global trade denial leverage; Greenland sebagai Arctic chokepoint, early warning system, serta sumber rare earths; dan Asia Barat, terutama Selat Hormuz, sebagai kunci stabilitas energi global. Strategi ini mencerminkan logika proteksionisme rantai pasok energi sekaligus membendung pengaruh Cina lewat jalur distribusi. Maka AS bersedia melakukan konflik terbuka.

Venezuela: Bukan Sukses, Tapi Preseden Tekanan

Upaya AS menggulingkan Nicolas Maduro sejatinya belum sepenuhnya berhasil. Meski Maduro berhasil diculik, ada sanksi ekonomi ekstrem, delegitimasi politik, pengakuan oposisi, serta tekanan regional, namun rezim Venezuela tetap bertahan. Tapi, Venezuela tetap menjadi preseden penting. Sebagai contoh bagaimana destabilisasi internal dijalankan, misalnya, atau perang narasi, dan tekanan ekonomi digunakan secara simultan untuk melemahkan negara yang dianggap membangkang terhadap tatanan dolar AS dan membuka diri pada BRICS, khususnya dalam projek dedolarisasi minyak. Maka kegagalan ini mendorong Washington untuk menimbang target lain yang lebih strategis — bukan lebih lemah, tetapi lebih menentukan.

Mengapa Iran?

Iran adalah simpul strategis yang jauh lebih krusial dibanding Venezuela. Peran Iran meliputi penghubung geopolitik Cina – Rusia; aktor kunci dedolarisasi di BRICS; kekuatan regional di Asia Barat; ancaman eksistensial bagi Israel; penjaga Selat Hormuz, chokepoint energi terpenting dunia.

Jadi, selama Iran berdiri, maka ambisi AS untuk mengklaim kembali hegemoni penuh di Asia Barat —dan memutus jalur pengaruh Cina— akan terus terganjal. Karena itu, pada regime change di Iran selalu ada di meja kebijakan AS, siapa pun presidennya.

Demonstrasi sebagai Senjata Geopolitik

Gelombang demonstrasi di Iran beberapa waktu terakhir bermula dari keluhan riil, seperti ekonomi, kebijakan sosial, dan tekanan hidup. Namun dalam logika hybrid warfare, keluhan domestik hanya sekadar pintu masuk, bukan tujuan akhir. Pola yang terlihat bahwa keluhan internal dianggap sebagai amplifikasi media global, kemudian dieksploitasi/infiltrasi aktor eksternal, lalu muncul kekerasan secara eskalatif dan berujung delegitimasi rezim.

Gilirannya, demonstrasi di sini bukan sekadar ekspresi rakyat, melainkan alat tekanan geopolitik. AS dan Israel tidak menciptakan ketidakpuasan, tetapi menungganginya demi tujuan strategis yang lebih besar yakni melemahkan Iran dari sisi dalam tanpa perang terbuka.

Iran bukan Venezuela: Hormuz itu Garis Merah Global

Perbandingan Iran dan Venezuela memperlihatkan perbedaan fundamental. Contohnya, Iran memiliki ideologi yang kokoh, militer dan aparat loyal, kapasitas pertahanan teruji dalam berbagai peperangan, memiliki jaringan proxy regional (HAMAS, Houthi dan seterusnya), serta kemampuan serangan balik. Sementara Venezuela dikenal sebagai negara rente, elitnya rapuh, militer terfragmentasi, dan tanpa deterrence eksternal signifikan. Masyarakatnya pun mudah dipecah belah. Oleh karena itu, skenario “Venezuela kedua” tidak relevan untuk Iran.

Keunggulan Iran yang paling menentukan adalah Selat Hormuz. Penutupan Hormuz —bahkan sekadar ancaman saja— akan melonjakkan harga minyak global; mengguncang ekonomi dunia; memicu inflasi berantai; dan berpotensi menyeret kekuatan besar ke konflik terbuka. Inilah deterrence strategis Iran yang membuat AS harus berpikir seribu kali.

Penutup: Mahalnya Harga Geopolitik

Jauh sebelum Afghanistan diduduki, Irak diacak-acak, Iran telah menjadi target strategis utama dalam peta besar pembendungan Cina dan BRICS. Namun, berbeda dengan Venezuela, harga geopolitik untuk menjatuhkan Iran terlalu mahal — baik secara regional maupun global. Oleh sebab itu, tekanan terhadap Iran akan terus berlanjut hanya dalam bentuk sanksi, perang narasi, penyusupan, destabilisasi internal, dan konflik proxy. Perang intelejen akan terus berlangsung. Bukan karena AS tidak ingin menjatuhkan Iran, tapi karena biaya dan kehancurannya belum tentu lebih menguntungkan posisi hegemoni dan dominasi Pax Judaica. Jelas, AS tak sudi dipermalukan, walau memang sudah diambang luruhnya keangkuhan kekuasaan.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSerangan Berantai Ukraina Terhadap Kapal Tanker Armada Bayangan, Skema AS-Barat Lumpuhkan Rusia Lewat Modus “Pembajakan”SelanjutnyaMembaca 2026: “Perilaku Geopolitik Penguasa Tanpa Moral”

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents