Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Media

Mengenal Sosok Katharine Meyer GrahamKatharine Meyer Graham

Rusman

Rusman·6 Juni 2024·5 menit baca

Bagikan
Mengenal Sosok Katharine Meyer Graham

Katherine Graham, pemimpin umum harian Washington Post antara 1963-1991 Dan pemilik harian terkemuka Amerika tersebut hingga akhir hayatnya pada 17 Juli 2001 lalu. Dalam usia yang cukup lanjut, 84 tahun.

Apa segi menarik dari cerita tentang Katherine Graham dengan sapaan akrab Kay ini? Pesan sentral cerita simpel saja. Jangan anggap remeh emak-emak atau ibu rumah tangga biasa. Sebab siapa tahu kelak, akan membuat sejarah.

Katharine Meyer Graham, merupakan putri dari pemilik surat kabar Washington Post, Eugene Meyer. Ketika Kay menikah dengan Philip Leslie Graham, Eugene Meyer menyerahkan pengelolaan Washington Post kepada Phil, anak menantunya dan Kay. Hanya saja, seperti penuturan . dalam biografinya, Personal History, suaminya dapat kepemilikan saham yang lebih besar daripada istrinya.

“Tak pantas seorang suami bekerja untuk istrinya,” Eugene memberikan alasan,” begitu kira kira Eugene ngasih alasan kepada putrinya. Kay boleh dibilang sudah dari sananya anak orang kaya raya. Sedangkan Phil, suami Kay, orang dari kalangan sederhana. Meskipun lulusan fakultas hukum Universitas Harvard.

Tapi mungkin karena kufur nikmat, Phil yang sudah diserahi mengelola perusahaan media Washington Post, gaya hidupnya acak adul. Tukang minum, main perempuan, dan sebagainya. Dah gitu, dalam mengelola Washington Post, merugi terus. Untung aja bapak mertuanya masih berbaik hati menopang keuangan Washington Post, sehingga tidak bubar tengah jalan.

Singkat cerita, di tengah kegalauan Phil yang gagal membikin Washington Post meroket, tiba-tiba pada 1963 Phil alami depresi, lalu mati bunuh diri di kamarnya. Tragedi buat Kay dan anak-anaknya. Namun di sinilah titik balik kehidupan Kya Meyer Graham.

Begitu suaminya meninggal, maka tak pelak Kay, yang sejak suaminya mengelola Washington Post,cuma ibu rumah tangga dan pendukung suami dari belakang layar, sontak harus mengambil alih Washinton Post. Bahkan bukan Washington Post saja. Juga majalah Newsweek, beberapa stasiun radio dan televisi, serta beberapa media lain.

Dan satu hal lagi. Sontak dia menyadari bahwa Kay merupakan satu-satunya perempuan di jajaran struktur manajemen Washington Post.

Bisa dibayangkan toh. Ibu rumah tangga, emak-emak yang hari-harinya antar jemput anak ke sekolah, nyiapin masak buat suami dan keluarga, tiba-tiba jadi pemimpin umum sebuah media besar yang hanya bisa ditandingi oleh New Yor Times.

Dalam situasi galau kayak gini, di sinilah pentingnya masukan dari sahabat akrab. Salah satunya adalah Luvie Pearson. Luvie bilang: “Tentu saja kamu mampu…. Di tubuhmu ada semua gen itu. Semua kemampuanmu hanya terpendam sangat lama sehingga kamu tak sadar apa yang kamu mampu lakukan.”

Rupanya frase kalimat Luvie merasuk benar dan menyugesti dirinya. ” Semua kemampuanmu hanya terpendam sangat lama sehingga kamu tak sadar apa yang kamu mampu lakukan.” Artinya Kay nyadar jangan jangan memang dirinya punya kekuatan dan kemampuan yang dia sendiri tidak sadari sebelumnya.

Kalau kata pakar psiko-analisis, seseorang begitu menyadari arkitepe-nya atau pola dasar kejiwaannya, maka lambatlaun akan mengenali talenta atau bakat khususnya. Maka Kay sejak itu memutuskan belajar segala hal soal bisnis media dan dapur redaksi.

Dibantu oleh tangan kanannya di redaksi, Benjamin ‘Ben’ Bradlee, dan sepasukan reporter yang tangguh, Kay menyulap Washington Post dari koran biasa-biasa saja dan beberapa kali nyaris bangkrut menjadi koran paling berpengaruh di jantung kekuasaan Amerika bersama New York Times dan Wall Street Journal.

Sejarah politik sebuah bangsa, seringkali seiring sejalan dengan garis tangan atau takdir seseorang. Di masa kepemimpinan Kay dan pemimpin redaksi Ben Bradlee, muncul sebuah peristiwa yang kelak menjadi jalan takdir Washington Post menjadi koran yang disegani di Amerika, karena membongkar skandal Watergate.

Dua wartawan muda Washington Post, Carl Bernstein 27 tahun, dan Bob Woodward 28 tahun, melalui liputan investigasi yang panjang dan penuh ketekunan serta keberanian, berhasil menyingkap adanya tindak kecurangan pemilu yang bukan saja dirancang oleh orang-orang dekat Presiden Nixon, bahkan juga oleh sang presiden sendiri.

Akibat dari hasil liputan investigatif Washington Post, bukan saja memantik pengembangan dan pendalaman berita lebih lanjut oleh media media lainnya, bahkan memantik Kongres untuk membentuk pansus dan mengadakan penyelidikan menyeluruh termasuk orang-orang dekat Presiden Nixon di Gedung Putih.

Karena fakta-fakta yang tak bisa dielakkan lagi kebenarannya, Presiden Nixon mengundurkan diri dari kepresidenan, dan menyerahkan kepada wakil presidennnya, Gerald Ford. Setelah merasa bahwa hasil penyelidikan kongres pada akhirnya akan memaksa Nixon lengser jadi presiden.

Memang benar, bahwa jasa terbesar penyingkapan Watergate terletak pada diri dua wartawan muda tadi, Woodward dan Bernstein. Begitu juga atas dorongan, restu dan arahan strategis dari redaktur kota Barry Susman, redaktur pelaksana Howard Simon dan juga pemimpin tertinggi keredaksian, Ben Bradlee.

Pembalasan dendam Presiden Nixon ini membuat The Post berdarah-darah. Harga sahamnya terjun bebas dari semula US$ 38 terpangkas menjadi US$ 16. Kay dan manajemen The Post juga mesti merogoh kantong lumayan dalam untuk membayar tim pengacara untuk menyelamatkan izin stasiun televisi. Seorang teman, Andre Meyer, memperingatkan Kay.

“Aku serius. Kamu jangan pernah sendirian,” kata Andre. Melihat pembalasan Nixon, Kay cemas juga terhadap masa depan The Post. “Aku sudah pernah melihat kemarahan Gedung Putih sebelumnya, tapi tak pernah menyaksikan yang seperti ini,” Kay menulis dalam bukunya.

Meski terus ditekan, Kay dan wartawan Washington Post tak menyerah. Mereka terus memimpin dalam pemberitaan skandal Watergate. Kegigihan itu terbayar lunas pada 9 Agustus 1974. Menghadapi kemungkinan tak bakal lolos dari pemakzulan, Presiden Nixon memutuskan mengundurkan diri.

Namun di balik kegigihan, ketekunan dan keberanian Washington Post untuk terus berjuang mengungkap kejahatan politik di balik skandal Watergate yang semula dikira hanya kasus kriminal biasa seperti pembobolan markas Demokrat. Dan ternyata berkembang informasi bahwa ini merupakan konspirasi tingkat tinggi Gedung Putih untuk mencurangi hasil pemilu. Maka kekuatan batin dan spiritual di balik Washington Post adalah Katherine Meyer Graham.

Dialah yang tetap gigih dan bertahan di tengah badai serangan teror Gedung Putih untuk menghentikan liputan investigasi Washington Post. Dan inilah yang di luar perhitungan politis Nixon dan para kroninya. Cara pandang seorang emak emak dan ibu rumah tangga yang secara naluriah melindungi anak-anaknya dan keluarga jika menghadapi ancaman, membuat Washinton Post tetap tegar dan penuh keberanian menghadapi teror kekuasaan.

Satu ketika, Nixon dan para kroninya, memerintahkan pengadilan untuk atas nama kewenangan pengadilan, memaksa para wartawan menyerahkan semua dokumen dan hasil liputan investigasi Woodward dan Bernstein. Namun Bradlee sebagai pemimpin redaksi dengan tegas menolak menyerahkan dokumen-dokumen  tersebut.

Ketika pihak pengadilan mengancam akan memenjarakan kedua wartawan Post itu, Kay dengan gagah berani mengatakan, kalau ada yang harus masuk penjara, biar saya saja. Saya bersedia masuk penjara demi kalian (maksudnya awak redaksi Post).

Begitulah. Sejarah membuktikan Nixon yang digdaya dan penuh kuasa, akhirnya bertekuk lutut pada seorang emak-emak. Kay Meyer Graham.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaC A N T I N G “Syukur ada sastra dan sejarah…!”SelanjutnyaYang Tersembunyi Di Balik Novel Umberto Eco, The Prague Cemetery

Lainnya di Media

Lihat semua
Chatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum
Budaya

Chatbot AIChatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum

15 Juli 2026 · 6 menit baca

Berita Penjelasan Di Balik Bocoran Dokumen Soros: False Flag Operation atau Covert Reconnaissance Operation?
Analisis

Berita Penjelasan Di Balik Bocoran Dokumen Soros: False Flag OperationFalse Flag Operation atau Covert Reconnaissance Operation?

24 Maret 2026 · 8 menit baca

Politik dan Gaya Pemberitaan Media-Media AS dan Inggris Bias Anti-Iran
Internasional

Politik dan Gaya Pemberitaan Media-Media AS dan Inggris Bias Anti-IranBias Anti-Iran

15 Maret 2026 · 6 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents