Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Budaya

Menikmati Kalimat Demi KalimatKalimat Demi Kalimat

Rusman

Rusman·30 Januari 2024·2 menit baca

Bagikan
Menikmati Kalimat Demi Kalimat

Membaca puisi, cerpen, novel, berbeda dengan membaca buku-buku ilmu sosial atau filsafat. Teori ilmu politik atau buku ilmu ekonomi, seperti karya Jonh Edwar Kaynes atau Adam Smith kita musti lebih serius.

Membaca karya sastra bisa sambil tiduran, bisa juga sambil berak di kamar mandi, bahkan bisa pula sambil berdiri berdesakkan di atas transportasi umum.

Membaca puisi, novel atau cerpen, bisa sambi lalu, karena kita kadang hanya ingin mengerti ceritanya. Apalagi kalau novelnya hanya 300 halaman, bukunya bisa ditekuk ketika kita sedang baca di atas kereta atau bis. Ringan dan mudah dibawanya. Kecuali novel tebal, 1000 halaman, seperti Musashi, karya Eiji Yoshikawa atau TAIKO, novel Eiji yang tebalnya seribu halaman lebih.

Membaca novel dulu, awalnya saya hanya ingin tahu detail ceritanya, kehidupan tokoh-tokohnya, struktur novel tersebut. Sekarang agak lain. Saya menikmati kalimat demi kalimat, terutama novel karya tokoh-tokoh posmodernisme, seperti karya-karya Milan Kundera.

Dengan menikmati kata-kata, diksi atau susunan kalimat demi kalimat, saya menikmati bahasa. Bahasa yang digunakan penulis novel tersebut. Ada kenikmatan yang saya peroleh dengan membaca kalimat demi kalimat itu dalam novel tersebut. Seorang penulis novel yang baik, pemilihan diksi, kalimat dan cara membuat struktur kalimat memang mengagumkan.

Kalau hanya ingin tahu kisahnya, cerita akhirnya dan ending dari novel tersebut itu bukan pekerjaan sukar. Baca saja, kita akan tahu kisahnya dan ending dari novel itu. Tetapi kalau tujuannya ingin menikmati keindahan kalimat demi kalimat kita perlu fokus membacanya dan tidak bisa sambil lalu.

Kalimat yang membentuk alinea, aliinea yang membentuk struktur cerita, cerita yang bagus itu yang sekarang saya nikmati . Saya pelan membacanya, menikmati kalimat, membutuhkan waktu lama, lama sekali. Novel karya-karya Eiji Yoshikawa, satu judul 4 sampai 5 bulan selesainya, karena membaca novel yang banyak halamannya, dan yang ingin saya ketahui tidak sekedar isi ceritanya dan tokoh-tokoh dalam novel itu, tetapi bagaimana saya merasa senang menikmati kalimatnya.

Itulah refleksi saya akhir-akhir ini dengan membaca karya sastra, terutama novel dan cerita pendek.

Bambang Isti Nugroho, Pengiat Seni Budaya, Tinggal di Yogyakarta

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaProfesor DR A Sartono Kartodirdjo Membuka Pintu Bagi Masa DepanSelanjutnyaSepintas Soal Pallubasa

Lainnya di Budaya

Lihat semua
Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Budaya

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 Agustus 2026 · 9 menit baca

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents