Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Politik-Keamanan

Menyingkap Misi Terselubung Badan Intelijen AS National Reconnaissance Office (NRONRO)

Rusman

Rusman·5 Juni 2023·3 menit baca

Bagikan
Menyingkap Misi Terselubung Badan Intelijen AS National Reconnaissance Office (NRO)

Selama ini CIA lah yang selalu menjadi pusat perhatian dunia terhadap sepak-terjang intelijen Amerika di negara-negara lain. Tak terkecuali di Indonesia. Namun tahu kah anda bahwa selain CIA Amerika juga punya badan intelijen yang sama berbahayanya dengan CIA? Nah ini dia. Namanya National Reconnaissance Office (NRO). Salah satu dari 16 badan intelijen yang dimiliki Amerika.

Mau tahu tugas pokoknya? Mengoperasikan satelit mata-mata untuk kepentingan strategis Amerika, sekaligus melakukan koordinasi dengan pihak militer dan CIA, dalam rangka mengumpulkan informasi yang berasal dari pesawat dan satelit mata-mata.

NRO yang bermarkas di Chantilly, Virginia, merupakan bagian dari kementerian pertahanan, sedangkan untuk operasionalnya didanai melalui National Reconnaissance Program yang merupakan bagian dari National Foreign Intelligence Program.

Terkait dengan hal itu, gagasan mengenai Exploration Command Center (ECC) yang beberapa tahun lalu kabarnya mau diterapkan di Indonesia, patut diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) kebijakan luar negeri dan pertahanan di tanah air.

Karena melalui National Foreign Intelligence Program ini, NRO dimungkinkan untuk menjalin koordinasi dengan Komando Strategis Amerika, laboratorium Penelitian Angkatan Laut Amerika Serikat, disamping dengan beberapa badan intelijen lainnya seperti CIA dan badan intelijen di bawah naungan Departemen Pertahanan bernama Defense Intelligence Agency (DIA).

Apakah laboratorium bertujuan ganda ala NAMRU-2 AS juga termasuk dalam sasaran dari rencana .Exploration Command Center (ECC) tersebut di atas? Kiranya perlu dicermati lebih mendalam.

Bahkan NRO pun bekerjasama dengan badan intelijen khusus Amerika seperti badan antariksa seperti National Security Agencies (NSA) dan National Geospatial Intelligence Agency (NGA).

Karena itu, tindak lanjut gagasan mengenai ECC tidak boleh dipandang enteng oleh pihak berwenang di Indonesia. Karena sejak berdirinya pada 25 Agustus 1960 pada era kepresidenan Jenderal Dwight Eisenhower, NRO diwajibkan untuk berkoordinasi dengan Angkatan Udara AS (USAF), CIA dan yang di kemudian hari ruang lingkup koordinasi NRO mencakup juga dengan Angkatan Laut (US Navy) dan NSA.

Bisa dibayangkan jika kapal-kapal AS diizinkan Indonesia memasuki perairan Indonesia meski dengan dalih untuk riset dan penelitian kekayaan laut. Dengan kecakapan yang dimilikinya, para staf atau agen andalan NRO bisa bergabung dalam proyek ini sehingga bisa dengan bebas melakukan pemetaan luas wilayah.

Kecanggihan teknologi NRO sangat mendukung, karena luas wilayah yang dapat dijangkau oleh kamera satelit NOR bisa mencapai 10 hingga 120 mil. Atau 16 hingga 190 kilometer.

Memang tugas NRO adalah untuk mengoperasikan berbagai satelit mata-mata milik pemerintah untuk keperluan intelijen. Bahkan kalau perlu, membuat satelit mata-mata baru yang lebih canggih.

Tak heran jika NRO memiliki kemampuan untuk memotret dan mengumpulkan data dengan tingkat akurasi. Misal, kemampuan kamera satelit yang mampu memotret plat nomor mobil yang sedang berjalan.

Berikut beberapa satelit mata-mata milik Amerika yang yang digunakan NRO untuk berbagai keperluan intelijen:

  • Seri Keyhole mulai dari jenis KH-1 sampai KH-4 Corona 1959-1972). KH-5 Argon (1961-1962). KH-6 Lansyard (1963). KH-7 Gambit (1963-1967), dan lain sebagainya.
  • Samos, pencitraan foto (1960-1962).
  • Poppy ELINT (1962-1971) diteruskan oleh Laboratorium Penelitian Angkatan Laut S Grab (1960-1961).
    Jumpseat (1971-1983) dan Trumpet (1994-1997) SIGINT.
  • Lacrosee/Onyx pencitraan radar (1988).
  • Canyon (1968-1977), Vortex/Chalet (1978-1989) dan Mercury (1994-1998), SIGINT dan COMINT.
  • Rhyolite/Aquacade (1970-1978), Magnum/Orion (1985-1990) dan Mentor (1995-2003) SIGINT.
  • Quasar, relay komunikasi.
  • Misty/Zirconic, Stealth IMNT.
  • NROL-1 sampai NROL-26, satelit rahasia. NROL dibuat untuk National Reconnaissance Office Launch.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBencmark: Di Antara Isu Keberlanjutan, Perubahan, dan Jalan TengahSelanjutnyaPrakiraan Keadaan Keamanan Maritim Indonesia

Lainnya di Politik-Keamanan

Lihat semua
Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis
Analisis

Pilpres 2029Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

9 Juni 2026 · 3 menit baca

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber Diplomacy
Analisis

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber DiplomacyNon-Aligned Cyber Diplomacy

1 Mei 2026 · 9 menit baca

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema Neokolonialisme AS di Indonesia
Analisis

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme AS di Indonesia

29 April 2026 · 12 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents