Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Menyoal MarundaMarunda: Hierarki Sosial dalam Krisis Ekologi Urban

Hendrajit

Hendrajit·30 Desember 2025·4 menit baca

Bagikan
Menyoal Marunda: Hierarki Sosial dalam Krisis Ekologi Urban

Wacana pembangunan Jakarta tak sejalan beriringan dengan struktur sosial yang adil. Penentuan mengenai siapa yang berhak menikmati manfaat pembangunan dan siapa yang harus menerima beban limbahnya menandakan keberpihakan yang timpang.

Potret atas krisis ekologi hanya akibat dari ketimpangan masyarakat yang kian meruncing, sebagaimana diungkapkan Murray Bookchin bahwa kerusakan alam berakar pada pola dominasi manusia atas manusia lainnya.

Analisa Konteks Ekologi Sosial

Kerusakan lingkungan terjadi secara sistematis karena adanya kelompok masyarakat yang dianggap ‘boleh terpapar risiko’ demi menjamin kelangsungan hidup dan kenyamanan kelompok lain yang lebih dominan.  Ini bukan omong kosong. Bayangkan yang terjadi sekitar dua tahun lalu. Krisis Air bersih melanda warga rumah susun Marunda, Jakarta Utara. Sehingga berdampak bagi anak sekolah. Anak-Anak tidak bisa mandi saat harus berangkat sekolah.

Silahkan Simak: Krisis Air Rusun Marunda Bikin Bocah Tak Mandi Sebelum ke Sekolah

Namun, ada baiknya kita coba telaah secara lebih mendalam. Dalam perspektif ekologi sosial, eksploitasi terhadap alam merupakan kelanjutan dari hierarki sosial. Kesulitan warga rumah susun warga Marunda dalam mengakses air bersih, jelas bukan perkara teknis belaka. Ada yang salah dalam penyusunan arah kebijakan yang tidak ramah lingkungan,  yang serentak dengan itu pula,  tidak hadirnya peran negara dalam memihak aspirasi warga masyarakat yang secara sosial-ekonomi lemah dalam berhadapan dengan kepentingan konglomerasi pemilik modal yang di alam bawah sadarnya tak peduli dengan nasib warga masyarakat marginal ketika kepentingan ekonominya kelak menyebabkan krisis ekologi dan bahkan, bencana alam.

Selama manusia masih menganggap sah atau menormalkan dominasi sesamanya berdasarkan kelas atau status, maka alam pun akan terus diperlakukan sebagai objek yang bisa diperas tanpa batas.

Kenyataan pahit ini terlihat jelas dalam kondisi warga di Rusunawa Marunda dan Bantar Gebang. Krisis Air bersih yang melanda warga rumah susun Marunda kiranya hanya salah satu kasus yang mencuat dua tahun lalu, namun saat itu tak ada para pemangku kepentingan kebijakan publik yang peka terhadap alarm tanda bahaya peringatan dini. Bahwa Krisis Air Bersih pastinya disebabkan tandusnya tanah  berakibat kekeringan atau bisa juga kerusakan topografi tanah yang menjadi karakteristik geografis daerah Marunda. Namun ini baru setengah dari cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada yang tak kalah mengkhawatirkan. Di Marunda ini pula, ribuan warga hidup dalam kepungan debu batu bara dan polusi industri. Secara hierarkis, wilayah ini ditempatkan sebagai zona penyangga industri ekstraktif yang menggerakkan roda ekonomi Jakarta. Akibatnya, hak warga atas udara bersih dinafi-kan oleh kebutuhan operasional industri.

Fenomena ini menunjukkan wajahnya yang paling kelam, terlebih dalam konteks kesehatan masyarakat kelas bawah yang dianggap sebagai ongkos demi stabilitas ekonomi makro.

Kerusakan lingkungan di Marunda dianggap bukan anomali mengingat yang terdampak berada di lapisan bawah hierarki sosial.

Diskusi Koalisi Bandung Lautan Damai dan Iteung Gugat, di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Jumat, 28 November 2025. (Foto: Instagram KawanBergerak)Hal serupa juga terjadi di Bantar Gebang, di mana rantai konsumsi warga Jakarta mencapai titik akhirnya. Masyarakat di sana, terutama para pemulung, dipaksa beradaptasi dengan lingkungan yang sudah tak sehat.

Struktur sosial kita cenderung melihat sampah—dan orang-orang yang mengelolanya—sebagai sesuatu yang harus disembunyikan dari pandangan mata publik agar estetika kota tetap terjaga. Penumpukan sampah yang memicu krisis kesehatan dan lingkungan di sana adalah hasil dari gaya hidup konsumtif kelompok dominan yang melimpahkan beban ekologisnya ke pundak kelompok marjinal.

Krisis iklim dan polusi tidak akan pernah teratasi jika kita hanya berfokus pada solusi teknis seperti penanaman pohon dekoratif atau pemasangan teknologi filter polusi pada cerobong industri.

Solusi-solusi tersebut hanya menjadi asesoris belaka.  Tanpa adanya perubahan pada struktur sosial yang tidak adil, teknologi hanya akan menjadi alat bagi kelompok dominan untuk mempertahankan status quo sambil membiarkan akar ketimpangan tetap hidup.

Urgensi Politik Ekologis

Di tengah tekanan hierarki, gerakan semut dalam bentuk solusi berbasis komunitas. Harapan dari aksi konkrit program greenhouse di Marunda dan pusat pendidikan bagi anak-anak pemulung di Bantar Gebang bisa dikatakan sebagai aksi politik ekologis yang solutif.

Ketika warga Marunda menanam sayuran di tengah polusi, mereka sedang mengklaim kembali hak atas pangan sehat yang telah dirampas oleh industri.

Masalah intinya terletak pada struktur sosial yang tidak adil. Selama kita masih memelihara hierarki yang menganggap satu nyawa lebih berharga daripada nyawa lainnya, kerusakan lingkungan akan terus terjadi dan dampaknya terasa bagi kelompok rentan.

Keadilan ekologi hanya bisa dicapai jika kita meruntuhkan hierarki tersebut dan mengakui bahwa tidak ada satu pun kelompok manusia yang boleh dikorbankan demi kemajuan kelompok lain.  Memulihkan lingkungan berarti memulihkan keadilan bagi mereka yang selama ini dipaksa menelan residu pembangunan.

Penulis: Ade Maulana Yusuf Co-Founder Ekologi Sosial Institute Indonesia (ESII)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaBencana Serempak di Tiga Daerah: Antara Teknologi Rekayasa Cuaca dan SawitSelanjutnyaKebenaran Tak Bisa Dikalahkan

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents