Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Meruntuhkan Ilusi Supremasi AmerikaSupremasi Amerika

Rusman

Rusman·15 April 2026·5 menit baca

Bagikan
Meruntuhkan Ilusi Supremasi Amerika

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Refleksi Strategi Atrisi-Asimetri dalam Perang Teluk 2026

Salah satu ciri paling menonjol dari perang kontemporer —sebagaimana dipraktikkan Iran— dalam Perang Teluk yang dimulai sejak 28 Februari 2026 lalu, ia memproduksi secara sistematis atas ketidakpastian situasi (uncertainty) sebagai senjata strategis. “Industri Ketidakpastian”. Dalam kerangka fog of war (kabut perang) yang diperkenalkan oleh Carl von Clausewitz, perang tidak pernah sepenuhnya bisa diprediksi. Dalam konteks saat ini, ketidakpastian bukan lagi sekadar kondisi awal perang atau “kabut alami”, ia justru menjadi instrumen yang sengaja direkayasa. Bagi Bangsa Arya —Iran— ia telah melangkah lebih jauh dari teori dasarnya (Clausewitz) yaitu dengan memproduksi kabut ketidakpastian secara sengaja, sistematis, dan strategis.

Frasa fog of war populer setelah digunakan Lonsdale Hale pada 1896. Padahal Clausewitz menyampaikan pemikiran kabut perang pada 1832. Konsep ketidakpastian ini kemudian sering diucapkan oleh para ekonom seusai Perang Dunia (PD) II. Ketidakpastian makin mendalam saat dolar AS tidak lagi disandarkan pada emas. Greenback sepenuh didasarkan pada kepercayaan publik global. Justru pada atmosfer ekonomi seperti ini, sebenarnya The Fed meniru konsep fog of war. Tidak perlu heran, karena hingga hari ini ekonom arus utama masih menyukai konsep ini. Padahal hal itu kuncinya ada di The Fed, dan penentu pasar komoditas startegis seperti pasar energi, pasar emas, pasar mineral, dan pasar komoditas staregis lainnya. Artinya, jika ingin menguasai situasi dan kondisi sosial politik ekonomi, ciptakan ketidakpastian sementara kunci ketidakpastian ada di tangan Anda. Begitulah yang dilakukan oleh Barat.

Iran mengikuti model penciptaan ketidakpastian itu. Bahkan bangsa Persia ini menunjukkan kecerdasan dalam mengubah ketidakpastian menjadi cipta-kondisi (cipkon) yang melingkupi medan tempur. Dengan memanfaatkan ruang abu-abu antara perang dan damai (grey zone warfare), Iran mendorong fragmentasi aliansi Barat seperti NATO, yang sejak PD II menjadi fondasi stabilitas keamanan trans-atlantik. Ketegangan kepentingan antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa —terutama terkait risiko eskalasi dan beban ekonomi— menunjukkan bahwa ketidakpastian yang diciptakan Iran telah menjalar ke dimensi politik-strategis.

Adalah menarik bagaimana vonis masyarakat AS sendiri terhadap Trump dan Netanyahu. Saat Trump hendak mengembalikan Iran kembali ke zaman batu, ia divonis sebagai pelaku genosida dan penjahat kemanusiaan. Saat Trump mengejek Emmanuel Macron tentang isterinya yang transgender pria, Macron membalas dengan menyebarluaskan foto pelukan Jeffrey Epstein dengan isteri Trump, Meliana. Contoh-contoh kecil ini merupakan bukti empiris bahwa perang yang diciptakan Trump dan Netanyahu telah merambat ke nama baik diri dan keluarga. Dampak mendalamnya adalah tergerusnya modal sosial dan modal manusia pada lingkungan masing-masing. Ini menyangkut reputasi dan kredibilitas.

Di jajaran Teluk, dampaknya lebih nyata. Kelompok negara monarki mulai mempertanyakan kredibilitas jaminan keamanan. Kehadiran pangkalan militer AS yang semula berfungsi sebagai deterrence (daya cegah), sekarang justru dipersepsikan sebagai liabilitas (beban) strategis. Karena keberadaan pangkalan militer malah menjadi magnet konflik, justru meningkatkan serangan Iran akibat eksposur (pemajangan) telanjang. Pergelaran dan penyebaran pangkalan kekuatan militer ini justru menjadi sasaran empuk. Hasilnya, kabut ketidakpastian meningkat.

Simbolik teraktual daripada strategi ini adalah narasi: “ranjau laut yang kehilangan koordinat” di Selat Hormuz. Terlepas dari akurasi serta faktualitas literalnya, pesan strategisnya ialah terciptanya ketidakpastian ekstrem dalam domain maritim global di jalur vital energi dunia. Dalam perspektif studi-strategi, ini adalah bentuk deniability + ambiguity yang memaksa lawan mengalokasikan sumber daya besar untuk menghadapi ketidakpastian ancaman baik dari sisi lokasi, waktu, maupun pelaku. Iran pun tampil sebagai pemberi kepastian di kawasan itu.

Dalam konteks ini, Iran tidak perlu menutup Selat Hormuz. Tapi cukup membuat dunia ragu apakah jalur tersebut aman. Dan untuk memperoleh keamanan, Iran yang menentukan. Inti strateginya adalah, bahwa ketidakpastian itu lebih mematikan daripada kepastian yang diberikan AS dan Israel. Di sinilah poin paling cerdas namun brutal, karena tidak ada yang benar-benar mengetahui, apakah ranjau laut sudah ditebar atau belum; jika iya — di mana lokasinya; bila telah dibersihkan, apakah clean and clear? Pada titik ini Iran menang.

Apalagi laporan intelijen sendiri saling bertentangan. Sebagian bilang ada ranjau, sebagian tidak pasti. Inilah cipkon ketidakpastian sebagai senjata: “Anda tidak perlu banyak ranjau. Cukup sebarkan ketidakpastian tentang keberadaannya.” Catat! Iran yang tahu tentang ranjau itu.

Konsep ini selaras dengan teori perang asimetris yang menekankan eksploitasi kelemahan struktural lawan. Akan tetapi, Iran melangkah lebih jauh dari teori dasar ala Clausewitz. Ia menggabungkannya dengan logika perang atrisi (attrition war) ala Sun Tzu. Jika Sun Tzu mengatakan, “Keunggulan tertinggi adalah menghancurkan musuh tanpa harus bertempur.” Tampaknya, Iran meng- upgrade menjadi: “Keunggulan tertinggi adalah membuat musuh tidak yakin (timbul ketidakpastian) tentang perang itu sendiri”. Kemenangan perang adalah cemas dan takutnya musuh menghadapi medan perang dan serangan balasan.

Hal lain yang berbeda pada peperangan versi modern ini, atrisi tidak hanya menguras sumber daya militer saja, tetapi juga ekonomi, kohesi aliansi, dan legitimasi politik baik di level global maupun legitimasi di tingkat internal-domestik. Atrisi menggerus modal intangible sehingga kecanggihan peralatan militer ternyata tidak memberi sumbangan berarti untuk memenang pertempuran, apalagi peperangan.

Data konflik modern menunjukkan bahwa perang tidak lagi ditentukan oleh kemenangan militer konvensional. Studi pasca-invasi AS dan sekutu di Timur Tengah (Irak dan Afghanistan) mengajarkan, bagaimana kekuatan besar bisa menang secara taktis, tetapi ternyata kalah secara strategis. Ini sebuah kondisi yang mendekati apa yang disebut pyrrhic victory (menang tapi bangkrut) — eufisme dari istilah kalah perang. Dalam konteks ini, Iran tampak memainkan permainan jangka panjang: mendorong lawan menuju kemenangan yang amat mahal, melelahkan, rapuh, dan akhirnya kontraproduktif. Maka kemenangan itu sekadar narasi tanpa bukti.

Dengan demikian, perang atrisi-asimetris ala Iran bukan sekadar strategi militer, melainkan arsitektur ketidakpastian yang dirancang untuk: (1) menguras sumber daya tanpa konfrontasi langsung; (2) memecah aliansi lawan; (3) menggeser persepsi keamanan menjadi kerentanan; (4) memaksa lawan bertindak dalam kondisi informasi yang kurang lengkap; (5) menurunkan semangat tempur musuh karena ketidakjelasan tujuan perang, dan sebagainya.

Di era ini, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu mengendalikan ketidakpastian. Pengendalian ini ditunjukkan oleh pasukan tempur yang mengajukan pertanyaan, apa tujuan dan keuntungan dari perang yang mereka laksanakan.

Mengakhiri catatan sederhana ini, tampaknya Iran sedang membuat perang menjadi tidak pasti; menciptakan kemenangan yang mahal (pyrrhic victory); membuat aliansi strategis menjadi rapuh; lalu, membikin musuh bertanya-tanya, “Ini perang siapa dan apa yang sebenarnya terjadi?” Iran secara tidak langsung telah menginjeksikan penurun semangat tempur, pil rasa takut, dan pil merasa sia-sia mengorbankan jiwa kepada pasukan tempur AS dan Israel.

Nah, pada titik itulah — perang sudah dimenangkan, bahkan sebelum ia diakhiri.

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaTidak Mungkin Memisahkan Olahraga dan PolitikSelanjutnyaMiliterisasi di Kawasan Arktik, Arena Baru Bagi Ambisi Imperial AS Dalam Perang Dingin Jilid 2

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents