Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sosial

Millenial, Nonton ColdplayColdplay Harus Paham Sejarah!

Rusman

Rusman·22 Mei 2023·2 menit baca

Bagikan
Millenial, Nonton Coldplay Harus Paham Sejarah!

“Jangan sekali-kali melupakan Sejarah,” Jas Merah, Ir. Soekarno.

Hiruk pikuk war tiket Coldplay yang akan diselenggarakan pada bulan November 2023 di Gelora Bung Karno menyebabkan antusiasme yang sangat besar di kalangan generasi Millenial saat ini. Tiket tersebut dibanderol dengan harga paling murah Rp 800 ribu dan paling mahal hingga Rp 11 juta. Harga ini lumayan menguras kocek generasi millenial yang memiliki gaji rata-rata UMR Jakarta Rp 5-6 juta.

Jika kita tarik jauh ke tahun 1959-1967, peredaran musik barat ditentang keras. Gerakan Manifesto Politik yang digalangkan Soekarno adalah perjuangan untuk menentang imperialisme dan kolonialisme sehingga musik Indonesia saat itu harus mencerminkan perjuangan revolusi, mencerminkan kepribadian Bangsa, dan membangkitkan semangat jiwa pemuda-pemudi Indonesia.

Dalam buku, “Sukarno, Tentara, PKI : Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965” yang ditulis Rosihan Anwar, Pada 28 Juli 1964, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengintruksikan kepada jajarannya untuk mengajak murid-murid dan orang tua membina kepribadian bangsa dalam hal sebagai berikut:

  1. Rambut disasak secara berlebih-lebihan selain merupakan jiplakan bangsa lain juga tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia yang condong kepada kesederhanaan, kerapihan, dan keluwesan. Potongan rambut “The Beatles” gondrong sangat bertentangan dengan kerapihan dan keluwesan sehingga patut ditanggulangi.
  2. Dalam berpakaian jangan menjiplak mode-mode dari luar negeri tanpa diselaraskan dengan kepribadian Indonesia yang menjunjung tinggi kesusilaan, kesederhanaan, kerapihan, keserasian, dan keluwesan,
  3. Mengenai nama panggilan khusus dimintakan perhatian agar membuang kebiasaan mempergunakan bentuk “diminutif” (kesayangan) kebelanda-belandaan atau kebarat-baratan. Misalnya Fransje, Mieke, Mientje, Wiesje, serta panggilan terhadap ibu bapak dengan mammie, pappie, mummy atau daddy. Panggilan itu mungkin terdengar manis bagi orang-orang Belanda dan Inggris tetapi tidak akan meresap ke dalam jiwa bangsa Indonesia.

Polisi, Lekra, dan Pemuda Rakyat dikerahkan untuk melakukan razia piringan hitam dan alat perekam beserta kaset The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadows untuk kemudian dihancurkan. Saat itu media massa kompak mengecam keberadaan musik barat di Indonesia karena musik tersebut dinilai menjadi penyebab kenakalan remaja sehingga Polisi juga melakukan razia terhadap pemuda pemudi yang bergaya ala kebarat-baratan seperti rambut gondrong, celana jengki, celana cutbray, dan celana yang ketat.

Tak khayal, polisi memenjarakan seniman Indonesia yang menyanyikan lagu barat dan bergaya ala kebarat-baratan, seperti kelompok Koes Bersaudara (Koes Plus) pada tanggal 29 Agustus 1965. Mereka dianggap membawa pengaruh gaya hidup kebarat-baratan seperti The Beatles dan menciptakan lagu bernuansa cinta yang dapat melemahkan mental pemuda-pemudi Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sandiaga Uno mengatakan bahwa konser Coldplay mendongkrak keuntungan senilai Rp 167 Triliun dan pendapatan dari wisatawan mencapai 25 juta dollar AS (Rp 373 Miliar). Hal ini juga meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Isu terkait meningkatnya pinjaman online menjelang war tiket coldplay harus menjadi perhatian bagi kaum milenial. Nilai pinjaman yang lumayan besar harus diperhitungkan dengan penghasilan dan biaya hidup sehari-hari. Jangan sampai kesenangan sesaat, harus berubah menjadi penderitaan jangka panjang, apalagi kalau harus ditagih debt collector. Ih serem!

Murnia Margono (Disadur dari Jurnal “Larangan Soekarno Terhadap Musik Barat Tahun 1959-1967, Ayu Pertiwi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya”)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaSekilas Pada Era Dinasti Tang dan Dinasti AbbasiahSelanjutnyaSiapakah Sebenarnya Bani Israel Itu?

Lainnya di Sosial

Lihat semua
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Sosial

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 Agustus 2026 · 1 menit baca

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal
Sosial

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

28 Juli 2026 · 5 menit baca

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitik

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 Juli 2026 · 7 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents