Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

NATO Tanpa Amerika: Antara Fantasi dan Kekuatan EropaKekuatan Eropa

Rusman

Rusman·5 Februari 2026·7 menit baca

Bagikan
NATO Tanpa Amerika: Antara Fantasi dan Kekuatan Eropa

Gagasan tentang NATO yang kokoh tanpa Amerika Serikat (AS) belakangan makin sering muncul dalam diskursus elite politik Eropa. Isu ini menguat seiring meningkatnya arah kebijakan Washington pada America First. Saking kuatnya arus kebijakan berbasis kekuatan militer itu, AS justru vulgar menampilkan kepemimpinan dengan figur yang berorientasi power-based order, alih-alih rule-based order. Motivasi dan cara itu menunjukkan AS tidak sungkan menunjukkan perilaku multiple suitable standard (IN, 2001).

Dampak perilaku ini melahirkan ketegangan baik pada musuh maupun aliansi. Hal ini terlihat jelas dalam perdebatan global di World Economic Forum (WEF) Davos 2026. Pada forum yang dimotori Yahudi itu, Emmanuel Macron menekankan tatanan dunia berbasis aturan dan multilateralisme. Pemikirannya berseberangan dengan pendekatan Donald Trump yang menempatkan kekuatan nasional dan transaksi kekuasaan sebagai fondasi utama hubungan internasional. POTUS 45 dan 47 itu memang pernah melontarkan pentingnya peningkatan belanja militer anggota NATO menjadi 3,5 persen untuk perangkat militer dan 1,5 persen untuk perencanaan — masing-masing terhadap PDB. Ia menuding, Uni Eropa dengan belanja militer yang rendah selama 80 tahun bersandar pada kekuataan AS. Gagas belanja militer ini melahirkan ketegangan tersembunyi, walau disetujui Sekjen NATO Mark Rutte.

Merujuk pada ketegangan di forum WEF 2026, silang konseptual itu segera menjelma dalam praktik geopolitik. Saat Trump secara terbuka melempar gagasan “mengambil-alih” Greenland —wilayah strategis Denmark yang juga bagian dari NATO— kehadiran militer NATO di kawasan Arktik meningkat signifikan. Walau ini belum pernah dibahas NATO dan merupakan tindakan sepihak AS, toch NATO bergerak dalam orbit kepentingan Washington. Alasan keamanan Greenland baik darat, laut maupun udara menjadi pertimbangan utama NATO menyetujui subjektivitas Trump. Setelah diprotes luas, Trump baru menyatakan bahwa pengambil Alihan Greenland tanpa kekuatan. “AS akan membelinya,” kata Trump. Namun Denmark merespon, Greenland tidak dijual. Jelas, kepemimpinan AS kali ini memberi pesan bahwa strategi shock doctrine, atau dikenal dengan mengindustrialisasi kecemasan yang diterapkannya telah memberi hasil. Tidak ada urusan dengan dominasi berbasis legitimasi kepercayaan dan moral bersama. Hal lebih penting adalah kepentingan tercapai dan kebutuhan terpenuhi.

Setelah dilawan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, negara pemilik PDB terbesar dunia itu bermanuver ke Iran. Maka negeri para Mullah ditekan. Shock and awe di Teluk Persia dilakukan. Manuver ini tanpa melibatkan langsung NATO, kecuali bersepakat dengan Israel. Diplomasi militer ini menjadi contoh terbaru bagaimana AS mampu bertindak unilateral, meski NATO adalah aliansi yang ia dirikan sejak 1949. Tapi tindakan ini juga memberikan Gambaran, AS abai dengan posisi unilateral yang sudah busuk karena kemunafikan yang menua dan keserakahan yang meruntuhkan kebersamaan.

Isyarat Eropa Tak Ingin Ditinggal AS

Menyahuti demonstrasi anti pemerintah di Iran —yang diakui secara terbuka oleh Washigton bahwa AS terlibat— Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas melabelkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Stigma ini patut dibaca lebih dalam. Sikap ini mencerminkan sikap normatif UE terhadap isu HAM. Juga dapat ditafsir sebagai dukungan implisit terhadap tekanan geopolitik AS di Teluk Persia, dan sinyal kecemasan Eropa agar NATO tidak terpinggirkan dari poros strategi global AS. Sinyal ini juga disampaikan Sekjen NATO Mark Rutte bahwa mimpi Uni Eropa tanpa AS. Sikap yang sama diucapkan pula Presiden Ukraina Zelensky.

Lalu, ke mana kecenderungan geopolitik NATO di era FLUX?

Eropa Tidak Siap Tanpa Amerika

Gagasan “NATO tanpa AS” sejauh ini lebih menyerupai mimpi normatif, bukan realitas strategis. Bahkan, dalam kondisi geopolitik hari ini, “perdamaian” tanpa AS justru berpotensi berubah menjadi perdamaian berbasis penindasan — stabilitas semu yang lahir dari industrialisasi ketakutan, bukan dari pencegahan yang kredibel. Karena Anda takut atau cemas, maka akan wajib membeli ketenangan, walau ketenangan semu. Sama seperti di Board of Peace, karena pesan AS yang terselubung tentang kecemasan diterima, maka Anda belanja ketenangan USD 1 Miliar. Kanada, Perancis, dan Inggris menolak pesan terselubung itu karena mencium bau anyir darah dalam Peace Plan. Di sini kerekatan keanggotaan NATO juga mengendur. Sikap Trump terhadap Kanada dan Denmark membuat anggota NATO lain berpikir, kenapa sebagai aliansi mereka “dikorbankan” AS. Adakah cara AS mengakibatkan perbedaan antara NATO yang dipimpin AS dengan kepentingan nasional pada masing-masing anggota?

Secara struktural, NATO sangat bergantung pada AS. Data menunjukkan bahwa AS menyumbang sekitar 70% belanja militer NATO. Hampir seluruh payung nuklir NATO berada di tangan AS. Juga sistem intelijen strategis, satelit, pengintaian udara, logistik lintas benua, dan komando terpadu didominasi oleh AS. Tentu saja karena belanja pertahanan AS nyaris mencapai 3,5 persen terhadap PDB. Bahkan AS adalah satu-satunya negara yang ekspor peralatan militernya ke berbagai negara anggota dan bukan anggota NATO, namun tanpa impor.

Eropa memang meningkatkan anggaran pertahanan pasca-invasi Rusia ke Ukraina — Jerman misalnya, ia mengumumkan dana khusus €100 Miliar. Namun peningkatan belanja tidak otomatis menghasilkan kapabilitas terpadu. Militer Eropa tetap terfragmentasi, contohnya, berbeda doktrin, atau beda platform senjata, rantai pasok, hingga kepemimpinan strategis. Faktanya, tidak ada satu pun negara Eropa —bahkan secara kolektif— yang saat ini mampu menggantikan AS sebagai penjamin keamanan utama NATO. Ya, tanpa AS, NATO berisiko tereduksi dari aliansi pertahanan kolektif menjadi sekadar forum politik dengan daya gentar minimal. Hal ini yang dicemaskan Presiden Zelensky saat AS meminta Uni Eropa mempertahankan Ukraina dari gempuran militer Rusia.

Ukraina dan Paradoks Keanggotaan NATO

Ukraina sering disebut sebagai garis depan pertahanan Eropa. Namun jalan menuju keanggotaan NATO masih panjang dan berliku. Hambatannya jelas, perang dengan Rusia yang sudah berlangsung empat tahun lebih belum berakhir. Selain itu terdapat risiko eskalasi militer anggota NATO di Uni Eropa -Rusia secara langsung. Juga perbedaan sikap internal antar-anggota NATO sendiri karena perbedaan kemandirian ekonomi masing-masing.

Secara de facto, Ukraina telah berperang demi keamanan Eropa. Namun de jure, NATO belum bersedia memberikan Pasal 5 —jaminan pertahanan kolektif— karena konsekuensinya bisa berarti perang terbuka dengan Rusia yang mempunyai kekuatan nuklir besar. Inilah paradoks utamanya. Lagi-lagi, Ukraina terlalu penting untuk diabaikan, tetapi terlalu berisiko untuk langsung diterima. “Buah simalakama”.

Kompromi Realistis Presiden Ukraina

Sejarah menunjukkan bahwa keamanan tidak pernah kokoh bila dibangun di atas kompromi setengah hati. Konsesi terhadap agresi demi stabilitas jangka pendek justru sering melahirkan konflik yang lebih besar di masa depan. Pesan yang muncul bila dukungan terhadap Ukraina melemah sangat jelas, bahwa agresi bersenjata dapat ditoleransi selama dilakukan oleh kekuatan besar. Dalam konteks ini, dukungan terhadap Ukraina —militer, ekonomi, dan politik serta pembiayaan— bukan soal altruisme, tapi investasi strategis bagi keamanan Eropa. Dan itu juga berlaku bagi AS, yakni bantuan AS adalah investasi AS di Ukraina.

Menyadari keterbatasan arsitektur keamanan Eropa saat ini, Presiden Ukraina menempuh jalur realistis. Ia mengupayakan jaminan keamanan bilateral dengan negara-negara kunci NATO (AS, Inggris, Prancis, Jerman), sambil tetap mempertahankan tujuan jangka panjang bergabung dengan NATO.

Perjanjian bilateral ini memang tidak setara dengan Pasal 5. Fungsinya sebagai pengganti sementara keanggotaan penuh. Ini sinyal komitmen jangka panjang Barat, alat pencegah agar Rusia tak menganggap Ukraina sendirian.

Langkah ini cermin kesadaran pahit Kyiv. Eropa belum siap mengambil risiko penuh, tetapi juga belum siap menanggung konsekuensi jika Ukraina dibiarkan kalah. Sebuah tragic choice, buah simalakama geopolitik.

Penutup: NATO, Kepemimpinan, dan Masa Depan Eropa

Pada akhirnya, NATO tanpa AS bukan semata persoalan kekurangan senjata atau sistem militer. Ini adalah krisis kepercayaan dan kepemimpinan. Tanpa kekuatan penyeimbang yang kredibel, perdamaian Eropa berisiko berubah menjadi ketundukan terhadap kekuatan koersif. Kekuatan militer bukanlah hal utama. Uni Eropa memahami bahwa saat perdamaian didasarkan pada kekuatan, hal tersebut justru merupakan awal kekalahan. Uni Eropa tidak ingin menanggung malu karena NATO telah kehilangan legitimasi kepercayaan dan moral, sekaligus telah menggunakan kekuatan penuh atas industry kecemasan. Dan ini dilakukan oleh pemimpinnya, AS

Dalam konteks ini, Ukraina bukan sekadar medan proxy war atau korban konflik. Ia adalah ujian nyata.

Apakah keamanan Eropa ke depan akan dibangun di atas rule-based order, atau justru tunduk pada power-based order. Demikian juga dengan masalah Greenland, Iran, dan Selat Taiwan. Uni Eropa memahami, berakhirnya suatu imperium bukan karena melemahnya kekuatan militer, tapi lebih disebabkan lenyapnya moral kekuasaan, sinisnya masyarakat, dan menarik dirinya berbagai lapisan internasional dari interaksi yang sehat, setara, dan saling menghormati dan menghargai demi kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan bersama.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIndonesia Dalam Pusaran Kekerasan Simbolik Board of PeaceSelanjutnyaMembaca Ulang Politik Bebas Aktif dan Model Kepemimpinan di Tengah Pancaroba Geopolitik

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents