Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

NeocortexNeocortex War

Rusman

Rusman·4 Juli 2023·2 menit baca

Bagikan
Neocortex War
Kontemplasi Kecil Geopolitik
Neocortex war alias perang pemikiran itu ada (being), nyata (reality) dan berada/berperan (existance). Mimpi itu ada, namun ia tidak nyata. Apalagi berperan? Ya. Kecuali mimpi hamba-hamba pilihanNya.
Perang pemikiran ada sejak dulu. Entah kapan. Benihnya barangkali dialektika ala Hegel: Tesis – Antitesis – Sintesis. Dan di era kini, neocortex war ditandai dengan maraknya TikTok, misalnya, atau ramainya buzzeRp di ruang publik, dan lain-lain. Tatkala buzzer dianggap ‘profesi baru’ —karena ada yang merawat serta menggaji— maka TikTok dan cuitan di medsos, sebenarnya bagian metode alias cara dari perang cortex. Itu modus taktis-teknis di lapangan.
Tahapan yang lebih tinggi dalam metode neocortex war ialah perang narasi. Ini ranah kaum akademisi yang mem-buzzer-kan diri, ‘melacur’ karena faktor afiliasi politik, konspirasi, dan lain-lain. Mengapa disebut perang narasi? Sebab, sering mengutip teori-teori ilmiah dalam narasi namun arahnya framing. Mengaduk-aduk persepsi dan menggiring alam bawah sadar masyarakat. “Membentuk opini publik”.
Kerap kali, tidak hanya kaum intelektual yang ‘terjual’, bahkan budayawan pun, pelawak pun, penyanyi pun, atau banyak sektor lain rela menggadai idealisme profesinya demi sesuap nasi. Inilah ‘peradaban sakit’, bermula dari kebiasaan yang berulang-ulang —difasilitasi Era 4.0— kemudian dibiarkan, malah ‘ditumpangi’, akhirnya menjadi budaya.
Dahlan Iskan menyebutnya ‘kebenaran baru’ yang diciptakan melalui framing media. Ya, ‘kebenaran’ yang berbasis persepsi, bukan fakta. Sebenarnya ada terminologi khusus atas kondisi di atas, yakni era post-truth. Zaman pembenaran. Kondisinya nyaris sama dengan neocortex war. Intinya, yang salah menjadi benar, dan benar bisa dianggap salah. Tergantung daya pengaruh atas gebyar buzzer menebar isu dan narasi di ruang (maya) publik.
Tak boleh dipungkiri, kerangka besar atas kondisi tersebut adalah doktrin Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman Raya, di zaman Adolf Hitler tempo doeloe, “Tebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik, maka kebohongan akan menjadi kebenaran”. Itu poin utamanya.
Jadi, ketika isu atau narasi dalam neocortex war ditelan tanpa kontemplasi (permenungan), tanpa kritik dan selidik atas nama kegelisahan, sesungguhnya kita telah terjebak pada gelombang post-truth dalam konteks perang pemikiran.
Lantas, apa agenda neocortex war?
Tak lain, membalik persepsi publik terhadap kolonialisme (penjajahan) yang akan dan tengah berlangsung di negeri target; menciptakan kegaduhan di hilir persoalan pada tataran akar rumput supaya penjajahan terus berlangsung senyap; menyebar virus stockholm syndrome, agar bangsa terjajah justru jatuh cinta kepada si penjajah, sehingga secara suka rela menyerahkan kekayaan alamnya kepada penjajah, bahkan memujanya selaku dewa penolong; membelokkan ideologi dan konstitusi negara. Itu pokok-pokok agendanya.
Inilah permenungan kecil tentang perang pemikiran yang sekarang tengah berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masive di publik. Uniknya, kerap justru tanpa disadari oleh publik itu sendiri.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaBergabungnya Iran, SCO Semakin Strategis Sebagai Blok Politik-Keamanan Menghadapi Hegemoni Global AS-NATOSelanjutnyaMembuat Batu Bata Untuk Mengambil Batu Giok

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents