Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Pakta Perdagangan Indonesia-EAEU Mencerminkan Aktualisasi Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas-Aktif dan Nonblok

Hendrajit

Hendrajit·4 Maret 2026·4 menit baca

Bagikan
Pakta Perdagangan Indonesia-EAEU Mencerminkan Aktualisasi Politik Luar Negeri Bebas-Aktif dan Nonblok

Kebijakan Politik Luar Negeri Republik Indonesia yang bebas dan aktif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin proaktif dalam praktek diplomasi, dan konstruktif dalam menyusun kebijakannya.

Di tengah semakin menajamnya persaingan global Amerika Serikat (AS) vs Rusia-Cina di Asia Pasifik, Presiden Prabowo menunjukkan bahwa haluan politik luar negeri Nonblok bukan berarti pasif dan oportunis, melainkan pro aktif membangun persahabatan dan aliansi strategis terhadap negara-negara besar tanpa harus menjadi negara satelit kepentingan negara-negara besar tersebut.

Pada Juni 2025 lalu,  Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) yang didukung Rusia baru saja menandatangani pakta perdagangan bebas, sebuah dokumen yang diharapkan dapat berfungsi untuk meredam dampak dari meningkatnya proteksionisme AS kepada negara-negara yang tidak dipandang AS sebagai pesaing atau musuh berupa kenaikan tarif bea impor.

Baca:

Indonesia Signs Trade Deal with Russia’s Eurasian Bloc Amid US Tariffs

Sebagaimana penuturan Menteri Perdagangan Budi Santoso mewakili Jakarta pada upacara penandatanganan di St. Petersburg, Kesepakatan ini bertujuan untuk mengurangi hampir semua tarif perdagangan barang Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU, yaitu Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Aktivitas ekspor-impor Indonesia dengan empat negara anggota terakhir tersebut hingga saat ini masih tergolong kecil.

Berbeda dengan AS yang dalam menjalin hubungan kerja sama ekonomi dengan negara-negara lain termasuk kepada Indonesia, selalu memasukkan paket politik dan hak-hak asasi manusia sebagai tekanan untuk memberikan konsesi ekonomi, kerja sama Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) bersifat timbal-balik.

Baca juga:

Indonesia seals FTA with EAEU, eyes wider Eurasian market access

“Indonesia akan memberikan akses pasar terbuka kepada EAEU, sementara blok tersebut akan memperluas akses pasarnya untuk barang-barang kita. Kita dapat bersama-sama memperkuat rantai pasokan global, memajukan transisi energi, dan mengembangkan ekonomi digital,” demikian penuturan menteri perdagangan Budi Santoso.

Kalau kita mengamati secara cermat, kesepakatan tersebut malah menggambarkan pakta pergangan bebas dalam pengertiannya yang sebenarnya. Bukan seperti blo-Barat yang kerap frase pasar bebas dan perdagangan bebas pada praktiknya merupakan monopoli dan oligopoli yang didominasi oleh para konglomerat bisnis trans-nasional.

Jika kesepapkatan pakta perdagangan bebas Indonesia- EAEU berjalan sesuai skemanya, semangat kesepakatan tersebut bisa menjelma menjadi komitmen untuk menciptakan kolaborasi, keterbukaan, dan ketahanan jangka panjang di tengah ketidakpastian global dan proteksionisme negara-negara besar bukan saja AS, melainkan juga negara-negara Eropa Barat utamanya yang tergabung dalam Uni Eropa.

Dengan kata lain, skema kesepakatan perdagangan bebas Indonesia-EAEU diharapkan secara efektif mampu menetralisasikan tekanan AS berupa kenaikan tarif yang dilakukan Presiden AS Donald Trump.

Bahkan secara strategis dapat berfungsi untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menciptakan iklim bisnis yang lebih efisien bagi perusahaan baik dalam skala besar, menengah dan kecil.

Berbeda dengan para pemimpin AS dan Uni Eropa yang selalu memaksa negara-negara berkembang agar mengikuti model ekonomi neoliberalisme dan sistem pasar bebas yang sejatinya merupakan monopoli dan hegemoni, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam acara penandatanganan pakta perdagangan bebas Indonesia-EAEU tersebut, mengatakan bahwa pakta tersebut akan membuka prospek yang baik dengan Indonesia, yang ia gambarkan sebagai “salah satu negara dengan  ekonomi terbesar dan paling dinamis di kawasan Asia maupun  dalam lingkup global.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dokumen tersebut menetapkan kawasan perdagangan bebas yang mencakup lebih dari 90 persen barang, dan sekitar 95 persen dari volume perdagangan timbal balik. Melalui skema kerja sama Indonesia-EAEU tersebut, tergambar suatu kerja sama yang bersifat setara, terbuka dan saling menguntungkan.

Sekadar informasi dan gambaran umum, Indonesia terutama berdagang dengan Rusia di dalam EAEU, dengan angka mendekati $4 miliar pada tahun 2024. Mitra dagang terbesar Jakarta berikutnya di grup tersebut adalah sebagai berikut: Kazakhstan ($398,4 juta), Belarus ($128,5 juta), Armenia ($10 juta), dan Kyrgyzstan ($3,2 juta). Ini menjadikan total perdagangan Indonesia dengan blok Eurasia sekitar $4,5 miliar tahun lalu. Minyak sawit — minyak nabati utama dalam memasak dan kosmetik — merupakan bagian yang cukup besar dari ekspor Indonesia ke EAEU.

Perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU akan tunduk pada ratifikasi, yaitu proses memperoleh persetujuan dari para pembuat undang-undang, sebelum pengurangan tarif dapat diberlakukan. Jakarta ingin agar kesepakatan tersebut mulai berlaku pada kuartal keempat tahun 2026 atau paling lambat tahun 2027.

Begitupun, sesuai dengan penjabaran politik luar negeri Republik Indonesia yang Bebas-Aktif dan berhaluan nonblok, kerja sam ekonomi-perdagangan dengan negara-negara lain untuk membendung dampak buruk dari kebijakan kenaikan tarif yang dilakukan Presiden AS Donald Trump. Indonesia juga menjalin kerja sama dengan  Kanada dan Peru.

Pakta Perdagangan Bebas Indonesia-EAEU pada perkembangannya bukan sekadar memperluas pasar baru bagi Indonesia maupun negara-negara Eropa dan Asia yang tergabung dalam EAEU, melainkan juga semakin memperkokoh kemitraan strategis Indonesia dengan Rusia dalam linkup kerja sama lainnya seperti dalam bidang politik, keamanan, ilmu-pengtahuan dan teknologi, maupun kebudayaan.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute  (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaLiarnya Perang Iran-AmerikaSelanjutnyaSejarah Membuktikan, Regime Change ala Amerika Rumit dan Absurd

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents